-->

Jumat, 15 Mei 2026

Efek Domino Drone Nyasar, Pemerintah Negara Anggota NATO ini Resmi Mundur

INFONAS — Dampak perang di Eropa Timur kini memicu guncangan politik hebat di internal negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Pemerintahan koalisi Latvia secara resmi dinyatakan runtuh menyusul pengunduran diri sang perdana menteri akibat rentetan insiden pertahanan udara.

Krisis internal ini dipicu oleh masuknya pesawat tanpa awak (drone) kamikaze Ukraina yang salah sasaran ke wilayah udara Latvia akibat gangguan sistem perang elektronik Rusia. Insiden tersebut memicu kemarahan publik atas lemahnya respons keamanan di garis depan pertahanan NATO.

Ketegangan bermula pada Kamis, 7 Mei 2026, ketika tiga buah drone pengintai dan penyerang melanggar wilayah kedaulatan udara Latvia. 

Salah satu drone dilaporkan jatuh di daratan, sementara satu drone lainnya menghantam fasilitas penyimpanan tangki minyak kosong di dekat kota Rezekne. Kendati tidak memakan korban jiwa, lambatnya aktivasi sistem peringatan dini membuat masyarakat lokal panik.

Merespons kelalaian sektor pertahanan, Perdana Menteri Latvia Evika Silina mengambil tindakan tegas pada Minggu, 10 Mei 2026. 

Ia mendesak dan memberhentikan Menteri Pertahanan, Andris Spruds, karena dinilai lamban dalam mengerahkan sistem anti-drone nasional.

Menteri Pertahanan Andris Spruds kemudian secara resmi menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Senin, 11 Mei 2026. Langkah pemecatan ini rupanya berbuntut panjang karena Partai Progresif—mitra koalisi utama Spruds merasa menteri mereka dijadikan kambing hitam atas celah keamanan udara tersebut.

Kehilangan dukungan mayoritas di parlemen membuat posisi Perdana Menteri Evika Silina berada di ujung tanduk. Guna menghindari mosi tidak percaya dari pihak oposisi, PM Silina akhirnya menggelar konferensi pers darurat pada Kamis, 14 Mei 2026, untuk mengumumkan pengunduran diri beserta seluruh kabinetnya.

Dalam pidato pengunduran dirinya pada Kamis (14/5/2026), Evika Silina menyampaikan pesan keras kepada para sekutu politiknya:

"Melihat adanya kandidat kuat untuk posisi menteri pertahanan, para penghasut politik justru lebih memilih memicu krisis. Saya memilih mengundurkan diri, tetapi saya tidak akan menyerah. Anggaran pertahanan kita menyerap hampir 5% dari PDB, yang artinya menuntut tingkat tanggung jawab dan hasil nyata yang jauh lebih tinggi kepada masyarakat."

Runtuhnya kabinet Latvia memaksa negara Baltik ini melakukan konsolidasi cepat untuk menjaga stabilitas domestik. Presiden Latvia, Edgars Rinkevics, menyatakan akan segera bergerak untuk mengatasi kekosongan kekuasaan.

Dalam keterangan persnya, Presiden Rinkevics mengonfirmasi bahwa pada Jumat, 15 Mei 2026 (hari ini), dirinya langsung menggelar pertemuan darurat bersama perwakilan seluruh partai politik di parlemen guna membahas pembentukan pemerintahan transisi. 

Langkah cepat ini krusial dilakukan demi memastikan wilayah timur NATO tidak mengalami kekosongan kepemimpinan di tengah ancaman geopolitik regional yang tinggi. (RED)

Ekonomi Terancam, Xi Jinping Desak Iran Buka Blokade Selat Hormuz


INFONAS — Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian menjadi sorotan utama global. Namun, di balik riuh konfrontasi militer kedua negara, komunitas intelijen Washington kini justru mengkhawatirkan dampak sekunder yang jauh lebih besar: keuntungan strategis yang bisa diraup oleh China di panggung geopolitik dunia.

Laporan intelijen internal AS menyebutkan bahwa berlarut-larutnya konflik ini berisiko mengikis fokus dan sumber daya Barat, yang secara tidak langsung memberikan ruang bagi Beijing untuk memperkuat pengaruhnya tanpa perlu terlibat dalam konfrontasi bersenjata.

Meski diuntungkan secara geopolitik, China juga menghadapi ancaman serius pada sektor domestik akibat penutupan jalur pelayaran krusial, Selat Hormuz, oleh pihak Teheran sejak pertengahan April lalu. 

Sebagai negara dengan ekonomi yang digerakkan oleh ekspor dan sangat bergantung pada pasokan energi Timur Tengah, Beijing menderita kerugian besar akibat terhambatnya arus logistik internasional.

Sinyal keterlibatan China ini sebenarnya sudah mulai ditegaskan oleh Gedung Putih sejak awal bulan. 

Dalam konferensi pers resmi di Washington pada Selasa, 5 Mei 2026, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan keyakinannya bahwa China tidak akan tinggal diam. Pernyataan ini dikeluarkan Rubio tepat satu hari menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Beijing pada Rabu, 6 Mei 2026.

Pemerintah AS menilai Beijing memiliki kepentingan ekonomi yang terlalu besar untuk membiarkan Selat Hormuz tetap terblokir. AS pun mendesak agar China menggunakan pengaruh diplomatik dan ekonominya guna menekan Iran agar segera membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut demi kestabilan pasar global.

Puncaknya terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026, saat Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan puncak bilateral (KTT) tingkat tinggi yang sangat diantisipasi di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, isu koridor energi global menjadi bahasan utama.

Merespons situasi yang kian genting, Presiden Xi Jinping dilaporkan menawarkan bantuan langsung untuk menengahi perdamaian antara Washington dan Teheran, serta menyatakan bahwa China "ingin melihat sebuah kesepakatan damai terwujud". 

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pasca-pertemuan Kamis tersebut, kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap dibuka demi kelancaran pasokan energi dunia.

Menariknya, sesaat setelah pertemuan bilateral tersebut berlangsung, Teheran langsung merespons di lapangan. 

Pada Kamis malam, 14 Mei 2026, Angkatan Laut Iran dilaporkan mulai mengizinkan puluhan kapal dagang milik China untuk melintasi Selat Hormuz di bawah protokol transit khusus yang dikelola Iran.

Hingga hari ini, Jumat, 15 Mei 2026, situasi di kawasan Teluk masih berada dalam status siaga penuh. Baik AS maupun sekutunya terus memantau apakah diplomasi "pintu belakang" yang diupayakan Beijing pasca-pertemuan bersejarah kemarin mampu melunakkan sikap keras Iran secara permanen di Selat Hormuz. (RED)

Minggu, 10 Mei 2026

Indonesia Sets New ESG Standards for Nickel, Aiming to Secure Western EV Supply Chains

JAKARTA — Indonesia, the world’s largest nickel producer, has officially launched a comprehensive set of Environmental, Social, and Governance (ESG) mandates for its mining sector this week. The move is seen as a strategic bid to integrate more deeply into the electric vehicle (EV) supply chains of the United States and Europe.

As Western automakers—including Tesla and Volkswagen—face mounting pressure from regulators and consumers to ensure ethical sourcing, Indonesia’s new "Green Nickel" initiative aims to bridge the gap between massive production and environmental sustainability.

"We are not just offering volume anymore; we are offering responsibility," said a senior official from the Ministry of Energy and Mineral Resources during the 2026 Sustainable Mining Summit. "Our goal is to ensure that every battery powered by Indonesian nickel meets the highest global standards for carbon footprint reduction and labor rights."

The policy comes at a crucial time as the U.S. Inflation Reduction Act (IRA) continues to reshape global trade. By aligning its mining practices with Western expectations, Indonesia hopes to qualify for lucrative tax credits that would make its minerals more attractive to American manufacturers.

Industry analysts suggest that this shift could stabilize global nickel prices and provide a more reliable, "conflict-free" alternative for European markets currently seeking to diversify away from unstable energy dependencies. (RED)

Sabtu, 09 Mei 2026

Menguak Sisi Gelap Perdagangan Perempuan yang Mengguncang Dunia

INFONAS - Di tengah gemerlap kemajuan teknologi abad ke-21, sebuah kenyataan pahit masih menghantui nilai-nilai kemanusiaan. Praktik perbudakan yang selama ini dianggap telah punah, nyatanya masih terjadi di beberapa belahan dunia. 

Bukan sekadar kabar burung, praktik penjualan manusia—terutama perempuan—dilaporkan masih ditemukan dalam bentuk pelelangan terbuka di wilayah konflik dan jalur migrasi internasional.

Salah satu titik paling kelam berada di Libya. Pasca-runtuhnya stabilitas politik, wilayah ini berubah menjadi "lubang hitam" bagi para migran asal Afrika Barat yang bermimpi menuju Eropa. Laporan investigasi internasional, termasuk dari CNN, mendokumentasikan bagaimana manusia dilelang layaknya komoditas di area parkir atau pinggir jalan.

Untuk harga yang terkadang lebih murah dari sebuah ponsel pintar, yakni berkisar antara US$200 hingga US$400, seorang manusia bisa berpindah tangan. Penegakan hukum yang lemah di Libya membuat jaringan kriminal bebas beroperasi. Terbaru, pada April 2026, pengadilan di Tripoli bahkan menjatuhkan vonis berat hingga 22 tahun penjara kepada anggota geng perdagangan manusia IDN Times.

Untuk harga yang terkadang lebih murah dari sebuah ponsel pintar, yakni berkisar antara US$200 hingga US$400, seorang manusia bisa berpindah tangan. Penegakan hukum yang lemah di Libya membuat jaringan kriminal bebas beroperasi. Terbaru, pada April 2026, pengadilan di Tripoli bahkan menjatuhkan vonis berat hingga 22 tahun penjara kepada anggota geng perdagangan manusia IDN Times.

Tak hanya di Afrika, fenomena perbudakan modern ini juga menyusup ke wilayah Asia. Di Indonesia sendiri, Bareskrim Polri mencatat lonjakan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) mencapai 189 kasus pada paruh pertama tahun 2025, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak CNN Indonesia. 

Modusnya beragam, mulai dari jeratan utang, penipuan lowongan kerja ke luar negeri, hingga praktik "pengantin pesanan" yang sebenarnya merupakan kedok perbudakan seksual. 

Organisasi internasional seperti PBB dan ILO terus mendesak penguatan standar global untuk memberantas praktik ini Reuters. Namun, selama kemiskinan ekstrem dan konflik masih melanda, mata rantai perdagangan manusia ini akan tetap sulit untuk diputuskan. (RED)

Selat Hormuz Memanas, Kapal Tanker China Diserang hingga Dek Terbakar

JAKARTA, [08 Mei 2016] – Situasi di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, kembali mencapai titik didih. Sebuah kapal tanker produk minyak milik perusahaan China dilaporkan menjadi sasaran serangan di dekat pintu masuk selat tersebut pada awal Mei 2026. 

Ini menandai insiden perdana di mana aset maritim Tiongkok terkena dampak langsung sejak memanasnya konflik di kawasan tersebut.

Insiden dilaporkan terjadi pada Senin, 4 Mei 2026, di lepas pantai Mina Saqr, Uni Emirat Arab (UEA). Kapal berbendera Kepulauan Marshall tersebut dihantam proyektil tak dikenal yang menyebabkan kebakaran hebat di bagian dek. Beruntung, api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke tangki muatan utama.

Hal yang mencolok dalam serangan ini adalah identitas kapal yang terpampang jelas. Berdasarkan laporan media Caixin, pada badan kapal tertulis slogan "CHINA OWNER & CREW" berukuran besar, yang biasanya digunakan sebagai kode agar terhindar dari sasaran serangan kelompok militan di jalur merah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing pada Jumat (8/5/2026), mengonfirmasi bahwa seluruh awak berkewarganegaraan China di atas kapal tersebut dinyatakan selamat tanpa korban jiwa.

"Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk segera meredakan ketegangan dan menjamin keamanan navigasi kapal komersial di Selat Hormuz," tegas Lin Jian sebagaimana dikutip dari Tribun Video.

Serangan ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Pasalnya, selama ini kapal-kapal China dianggap memiliki "jalur aman" karena hubungan diplomatik Beijing yang kuat dengan negara-negara di kawasan. Jika kapal China mulai menjadi sasaran, maka risiko pelayaran bagi semua kapal komersial di Selat Hormuz berada pada level tertinggi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Otoritas maritim internasional masih terus melakukan investigasi mendalam di lokasi kejadian. (RED)

Kamis, 07 Mei 2026

Gencatan Senjata atau Perang Total? Memorandum 14 Poin Jadi Taruhan

INFONAS - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. Kedua negara kini tengah mempertimbangkan sebuah kesepakatan kerangka kerja yang dikenal sebagai "Memorandum 14 Poin" guna mengakhiri konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Hingga Kamis (7/5/2026), proses negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan tersebut telah membawa harapan baru bagi stabilitas keamanan global, meski kedua pihak masih terjebak dalam perdebatan teknis yang sengit.

MemorandumBerdasarkan laporan yang dihimpun, memorandum satu halaman ini mencakup kesepakatan untuk mengakhiri perang secara resmi dalam waktu 30 hari. Beberapa poin utama yang menjadi sorotan antara lain:

1. Gencatan Senjata Total: Penghentian segera seluruh aksi militer di kawasan, termasuk konflik di Lebanon

2. Moratorium Nuklir: Iran diwajibkan menangguhkan pengayaan uranium dan mengirimkan stok uranium tingkat tinggi ke luar negeri

3. Pembukaan Blokade: AS berkomitmen mencabut blokade laut di Selat Hormuz secara bertahap dalam kurun waktu satu bulan

4. Pencairan Aset: Pengembalian aset Iran senilai miliaran dolar yang selama ini dibekukan oleh otoritas Amerika

HormuzKendati optimisme mencuat, isu pengelolaan Selat Hormuz menjadi batu sandungan utama. Iran mengusulkan skema tarif transit hingga US$2 juta per kapal tanker untuk membiayai keamanan navigasi dan rekonstruksi pascaperang.

Lebih jauh, Teheran berencana mewajibkan pembayaran menggunakan mata uang non-dolar, seperti Yuan atau aset digital.

Namun, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak keras usulan tarif tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur internasional bebas biaya.

Trump memperingatkan bahwa jika kesepakatan detail gagal dicapai dalam jendela waktu 30 hari, AS siap melanjutkan operasi militer dengan intensitas yang lebih tinggi.

Kabar mengenai kemajuan diplomatik ini langsung direspons positif oleh pasar finansial. Harga minyak mentah dunia jenis Brent dilaporkan anjlok sekitar 8,2% ke kisaran US$100,83 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Di sisi lain, indeks Dolar AS (DXY) juga mengalami pelemahan seiring beralihnya minat investor ke aset-aset yang lebih berisiko.

Di dalam negeri Iran, proposal ini tidak berjalan mulus. Sejumlah anggota parlemen garis keras menyebut memorandum tersebut sebagai "daftar keinginan sepihak" Amerika. 

Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa pihaknya masih mengevaluasi setiap poin guna memastikan kedaulatan negara tetap terjaga.

Saat ini, dunia tengah menantikan apakah tenggat waktu 30 hari ini akan membuahkan perdamaian permanen atau justru menjadi pembuka bagi babak konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. (RED)

Selasa, 28 April 2026

Ngeri! Elon Musk Gugat Sam Altman Rp2.304 Triliun



INFONAS – Perseteruan dua tokoh besar dunia teknologi, Elon Musk dan Sam Altman, semakin memanas setelah bos Tesla dan SpaceX itu resmi menggugat CEO OpenAI tersebut di pengadilan federal Amerika Serikat.

Gugatan tersebut berkaitan dengan konflik panjang mengenai arah dan masa depan OpenAI, perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang didirikan bersama oleh Musk dan Altman pada tahun 2015.

Awalnya, OpenAI dibentuk sebagai organisasi nirlaba (non-profit) dengan tujuan mengembangkan kecerdasan buatan untuk kepentingan umat manusia, bukan semata demi keuntungan bisnis.

Namun, Musk menilai OpenAI telah menyimpang dari tujuan awal tersebut. Ia menuduh Sam Altman mengubah perusahaan menjadi organisasi yang lebih berorientasi profit, terutama setelah OpenAI menjalin kerja sama besar dengan Microsoft dan meluncurkan produk populer seperti ChatGPT.

Dalam gugatan hukumnya, Musk menuduh Altman melakukan pelanggaran kontrak, pengayaan tidak sah, serta mengkhianati kesepakatan awal pendirian OpenAI.

Tak tanggung-tanggung, Musk menuntut ganti rugi sebesar US$134 miliar atau setara sekitar Rp2.304,8 triliun dengan asumsi kurs Rp17.200 per dolar AS.

Selain ganti rugi fantastis tersebut, Musk juga meminta pengadilan mencopot Sam Altman dari jabatan CEO OpenAI serta Greg Brockman dari posisi Presiden OpenAI. Ia juga mendesak agar OpenAI dikembalikan menjadi organisasi non-profit seperti tujuan awal pendiriannya.

Gugatan ini diajukan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara California (U.S. District Court for the Northern District of California) yang berlokasi di Oakland, California.

Perkara tersebut ditangani oleh Hakim Federal Yvonne Gonzalez Rogers, yang sebelumnya dikenal menangani sejumlah kasus besar di sektor teknologi, termasuk perkara Epic Games melawan Apple.

Sidang juri dalam kasus ini mulai digelar pada 27 April 2026 dan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, Sam Altman dan pihak OpenAI membantah seluruh tuduhan tersebut. Mereka menyatakan Elon Musk sejak awal mengetahui rencana perubahan struktur perusahaan sejak tahun 2017 dan dana yang diberikan Musk merupakan donasi, bukan investasi yang memberinya hak kepemilikan.

OpenAI juga menilai gugatan ini lebih dipicu oleh persaingan bisnis, terutama setelah Musk mendirikan perusahaan AI saingan bernama xAI.

Perseteruan ini pun menjadi sorotan global karena tidak hanya melibatkan dua miliarder teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan industri kecerdasan buatan dunia.

Publik kini menanti apakah pengadilan akan berpihak pada visi awal AI untuk kepentingan kemanusiaan, atau justru memperkuat arah bisnis komersial dalam pengembangan teknologi masa depan tersebut. (Red)

Minggu, 26 April 2026

Warga Dievakuasi, Bom Mobil Meledak di Luar Kantor Polisi



INFONAS – Sejumlah rumah di kawasan Dunmurry, pinggiran Belfast, Irlandia Utara, dievakuasi setelah terjadi ledakan yang diduga berasal dari bom mobil di dekat kantor polisi setempat, Sabtu (26/4/2026).

Polisi Irlandia Utara atau Police Service of Northern Ireland (PSNI) langsung menetapkan status security alert dan menutup area sekitar lokasi kejadian untuk kepentingan penyelidikan serta pengamanan warga.

Petugas keamanan memasang garis polisi dan meminta masyarakat menjauhi lokasi karena adanya potensi ancaman lanjutan dari perangkat peledak tersebut. Beruntung, dalam insiden itu tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Asisten Kepala Polisi PSNI, Ryan Henderson, mengatakan perangkat peledak tersebut diduga sengaja ditujukan untuk menyerang aparat kepolisian.

“Ini jelas merupakan upaya serius untuk melukai bahkan membunuh petugas polisi kami. Kami sangat beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden ini,” ujar Henderson dalam keterangannya kepada media setempat.

Senada dengan itu, Ketua Northern Ireland Policing Board, Mukesh Sharma, menyebut serangan tersebut sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas keamanan di wilayah itu.

Dugaan sementara mengarah pada kelompok republik garis keras seperti New IRA, yang selama ini dikenal menolak Perjanjian Damai Good Friday Agreement tahun 1998 dan menentang keberadaan Irlandia Utara sebagai bagian dari Britania Raya.

Kelompok tersebut diketahui masih menganggap polisi sebagai simbol otoritas Inggris, sehingga kantor polisi kerap menjadi sasaran serangan bermotif politik.

Insiden ini kembali memunculkan kekhawatiran atas ancaman keamanan di Irlandia Utara, meski wilayah tersebut telah lama berada dalam proses perdamaian pascakonflik bersenjata selama puluhan tahun. (Red)

Penembakan di Gedung Putih, Trump Akui Jabatan Presiden Sangat Berbahaya



WASHINGTON, INFONAS — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar konferensi pers usai insiden penembakan yang terjadi saat acara White House Correspondents’ Dinner di Washington Hilton, Jumat malam waktu setempat, 25 April 2026.

Dalam keterangannya, Trump sempat melontarkan candaan dengan menyebut jabatan presiden sebagai profesi yang berbahaya. Ia mengaku tak menyangka tingkat risiko yang dihadapi seorang kepala negara bisa sedemikian tinggi.

"Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa menjadi presiden adalah profesi yang begitu berbahaya. Jika saya tahu dari awal, mungkin saya tidak akan mencalonkan diri,” ujar Trump sambil bercanda di hadapan awak media.

Insiden tersebut terjadi ketika seorang pria bersenjata diduga mencoba menerobos area pengamanan acara tahunan yang dihadiri pejabat tinggi, jurnalis senior, serta sejumlah tokoh penting Amerika Serikat.

Aparat keamanan bergerak cepat mengamankan lokasi dan mengevakuasi para tamu undangan. Trump sendiri dilaporkan tidak mengalami luka dan langsung diamankan sesuai prosedur pengamanan presiden.

Dalam kesempatan itu, Trump juga memuji kesigapan Secret Service yang dinilainya berhasil mencegah situasi menjadi lebih buruk.

"Mereka melakukan pekerjaan luar biasa. Mereka sangat profesional dan bertindak sangat cepat,” katanya.

White House Correspondents’ Dinner merupakan agenda tahunan bergengsi yang mempertemukan Presiden Amerika Serikat dengan kalangan pers Gedung Putih. Acara ini biasanya berlangsung dalam suasana formal namun santai, disertai pidato dan jamuan makan malam.

Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terkait motif pelaku dan kemungkinan adanya ancaman lanjutan. Hingga saat ini, keamanan di sekitar lokasi dan kawasan Gedung Putih diperketat.

Insiden ini menjadi perhatian publik nasional maupun internasional, mengingat tingginya tingkat pengamanan dalam acara yang melibatkan Presiden Amerika Serikat tersebut. (Red)

Sabtu, 25 April 2026

Ancaman Iran di Selat Hormuz, Strategi Tekan Barat atau Bunuh Diri Ekonomi?



OPINI – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas seiring mencuatnya wacana penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia itu diketahui menyalurkan sekitar 20 hingga 30 persen distribusi minyak global.

Jika benar-benar ditutup, dampaknya tidak hanya mengguncang harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi menjadi langkah berisiko yang justru dapat menghantam perekonomian Iran sendiri.

Di balik potensi tekanan global yang dapat ditimbulkan, langkah penutupan Selat Hormuz dinilai menyimpan risiko besar bagi Teheran.

Penutupan total jalur tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia secara drastis, sekaligus memberikan keuntungan taktis bagi Iran dalam jangka pendek, terutama untuk meningkatkan posisi tawar terhadap negara-negara Barat seperti Amerika Serikat.

Dilansir dari The Guardian, Iran bahkan disebut berpotensi memanfaatkan situasi tersebut sebagai semacam “gerbang tol” global, dengan menjadikan gangguan jalur energi sebagai alat tekanan terhadap pasar internasional maupun kebijakan negara-negara besar.

Meski demikian, sejumlah analis menilai langkah tersebut sebagai strategi berisiko tinggi. Pasalnya, sebagian besar ekspor energi Iran justru sangat bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan Fejlődésgazdaságtan Institute, sekitar 70 hingga 80 persen total ekspor Iran dan hingga 90 persen ekspor minyaknya melewati jalur tersebut. Artinya, penutupan total akan langsung memutus salah satu sumber utama pemasukan negara.

Sementara itu, media Iran International melaporkan bahwa jalur alternatif seperti Terminal Jask hanya mampu menampung sebagian kecil kapasitas ekspor, sehingga belum cukup menjadi solusi jangka panjang.

Jika penutupan benar-benar dilakukan, dampak lanjutan berupa penumpukan minyak di fasilitas penyimpanan hampir tidak dapat dihindari. Dalam laporan The Wall Street Journal, kapasitas penyimpanan Iran bahkan disebut berpotensi penuh dalam waktu singkat apabila ekspor terhenti.

Kondisi ini dapat memaksa penghentian produksi minyak, yang pada akhirnya berisiko merusak infrastruktur energi nasional serta memperparah tekanan terhadap ekonomi domestik, termasuk lonjakan inflasi dan defisit anggaran.

Di sisi lain, penutupan total Selat Hormuz hampir dipastikan akan memicu respons militer dari negara-negara Barat beserta sekutunya. Inggris dan Amerika Serikat diperkirakan akan mengambil langkah strategis untuk membuka kembali jalur tersebut demi menjaga stabilitas pasokan energi global.

Langkah tersebut berpotensi memicu konflik terbuka yang justru dapat merusak fasilitas strategis Iran dan memperburuk kondisi ekonomi negara itu sendiri.

Sejumlah analis menilai Iran kemungkinan besar tidak akan benar-benar menutup Selat Hormuz secara total, kecuali dalam kondisi terdesak yang sangat ekstrem.

Dilansir dari Zawya, para pengamat menyebut langkah tersebut ibarat “memotong urat nadi sendiri”, karena sama saja dengan menghentikan sumber utama pendapatan negara.

Penutupan Selat Hormuz memang dapat memberikan keuntungan politik jangka pendek bagi Iran melalui tekanan terhadap pasar energi global.

Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, langkah tersebut berpotensi menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas nasional.

Alih-alih melakukan penutupan total, skenario yang dinilai lebih realistis adalah menciptakan ketegangan terbatas di jalur tersebut guna meningkatkan posisi tawar, tanpa harus menanggung risiko kehancuran ekonomi sendiri. (Red)
© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved