-->

Jumat, 15 Mei 2026

Efek Domino Drone Nyasar, Pemerintah Negara Anggota NATO ini Resmi Mundur

Efek Domino Drone Nyasar, Pemerintah Negara Anggota NATO ini Resmi Mundur

INFONAS — Dampak perang di Eropa Timur kini memicu guncangan politik hebat di internal negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Pemerintahan koalisi Latvia secara resmi dinyatakan runtuh menyusul pengunduran diri sang perdana menteri akibat rentetan insiden pertahanan udara.

Krisis internal ini dipicu oleh masuknya pesawat tanpa awak (drone) kamikaze Ukraina yang salah sasaran ke wilayah udara Latvia akibat gangguan sistem perang elektronik Rusia. Insiden tersebut memicu kemarahan publik atas lemahnya respons keamanan di garis depan pertahanan NATO.

Ketegangan bermula pada Kamis, 7 Mei 2026, ketika tiga buah drone pengintai dan penyerang melanggar wilayah kedaulatan udara Latvia. 

Salah satu drone dilaporkan jatuh di daratan, sementara satu drone lainnya menghantam fasilitas penyimpanan tangki minyak kosong di dekat kota Rezekne. Kendati tidak memakan korban jiwa, lambatnya aktivasi sistem peringatan dini membuat masyarakat lokal panik.

Merespons kelalaian sektor pertahanan, Perdana Menteri Latvia Evika Silina mengambil tindakan tegas pada Minggu, 10 Mei 2026. 

Ia mendesak dan memberhentikan Menteri Pertahanan, Andris Spruds, karena dinilai lamban dalam mengerahkan sistem anti-drone nasional.

Menteri Pertahanan Andris Spruds kemudian secara resmi menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Senin, 11 Mei 2026. Langkah pemecatan ini rupanya berbuntut panjang karena Partai Progresif—mitra koalisi utama Spruds merasa menteri mereka dijadikan kambing hitam atas celah keamanan udara tersebut.

Kehilangan dukungan mayoritas di parlemen membuat posisi Perdana Menteri Evika Silina berada di ujung tanduk. Guna menghindari mosi tidak percaya dari pihak oposisi, PM Silina akhirnya menggelar konferensi pers darurat pada Kamis, 14 Mei 2026, untuk mengumumkan pengunduran diri beserta seluruh kabinetnya.

Dalam pidato pengunduran dirinya pada Kamis (14/5/2026), Evika Silina menyampaikan pesan keras kepada para sekutu politiknya:

"Melihat adanya kandidat kuat untuk posisi menteri pertahanan, para penghasut politik justru lebih memilih memicu krisis. Saya memilih mengundurkan diri, tetapi saya tidak akan menyerah. Anggaran pertahanan kita menyerap hampir 5% dari PDB, yang artinya menuntut tingkat tanggung jawab dan hasil nyata yang jauh lebih tinggi kepada masyarakat."

Runtuhnya kabinet Latvia memaksa negara Baltik ini melakukan konsolidasi cepat untuk menjaga stabilitas domestik. Presiden Latvia, Edgars Rinkevics, menyatakan akan segera bergerak untuk mengatasi kekosongan kekuasaan.

Dalam keterangan persnya, Presiden Rinkevics mengonfirmasi bahwa pada Jumat, 15 Mei 2026 (hari ini), dirinya langsung menggelar pertemuan darurat bersama perwakilan seluruh partai politik di parlemen guna membahas pembentukan pemerintahan transisi. 

Langkah cepat ini krusial dilakukan demi memastikan wilayah timur NATO tidak mengalami kekosongan kepemimpinan di tengah ancaman geopolitik regional yang tinggi. (RED)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved