-->

Sabtu, 25 April 2026

Ancaman Iran di Selat Hormuz, Strategi Tekan Barat atau Bunuh Diri Ekonomi?

Ancaman Iran di Selat Hormuz, Strategi Tekan Barat atau Bunuh Diri Ekonomi?



OPINI – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas seiring mencuatnya wacana penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia itu diketahui menyalurkan sekitar 20 hingga 30 persen distribusi minyak global.

Jika benar-benar ditutup, dampaknya tidak hanya mengguncang harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi menjadi langkah berisiko yang justru dapat menghantam perekonomian Iran sendiri.

Di balik potensi tekanan global yang dapat ditimbulkan, langkah penutupan Selat Hormuz dinilai menyimpan risiko besar bagi Teheran.

Penutupan total jalur tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia secara drastis, sekaligus memberikan keuntungan taktis bagi Iran dalam jangka pendek, terutama untuk meningkatkan posisi tawar terhadap negara-negara Barat seperti Amerika Serikat.

Dilansir dari The Guardian, Iran bahkan disebut berpotensi memanfaatkan situasi tersebut sebagai semacam “gerbang tol” global, dengan menjadikan gangguan jalur energi sebagai alat tekanan terhadap pasar internasional maupun kebijakan negara-negara besar.

Meski demikian, sejumlah analis menilai langkah tersebut sebagai strategi berisiko tinggi. Pasalnya, sebagian besar ekspor energi Iran justru sangat bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan Fejlődésgazdaságtan Institute, sekitar 70 hingga 80 persen total ekspor Iran dan hingga 90 persen ekspor minyaknya melewati jalur tersebut. Artinya, penutupan total akan langsung memutus salah satu sumber utama pemasukan negara.

Sementara itu, media Iran International melaporkan bahwa jalur alternatif seperti Terminal Jask hanya mampu menampung sebagian kecil kapasitas ekspor, sehingga belum cukup menjadi solusi jangka panjang.

Jika penutupan benar-benar dilakukan, dampak lanjutan berupa penumpukan minyak di fasilitas penyimpanan hampir tidak dapat dihindari. Dalam laporan The Wall Street Journal, kapasitas penyimpanan Iran bahkan disebut berpotensi penuh dalam waktu singkat apabila ekspor terhenti.

Kondisi ini dapat memaksa penghentian produksi minyak, yang pada akhirnya berisiko merusak infrastruktur energi nasional serta memperparah tekanan terhadap ekonomi domestik, termasuk lonjakan inflasi dan defisit anggaran.

Di sisi lain, penutupan total Selat Hormuz hampir dipastikan akan memicu respons militer dari negara-negara Barat beserta sekutunya. Inggris dan Amerika Serikat diperkirakan akan mengambil langkah strategis untuk membuka kembali jalur tersebut demi menjaga stabilitas pasokan energi global.

Langkah tersebut berpotensi memicu konflik terbuka yang justru dapat merusak fasilitas strategis Iran dan memperburuk kondisi ekonomi negara itu sendiri.

Sejumlah analis menilai Iran kemungkinan besar tidak akan benar-benar menutup Selat Hormuz secara total, kecuali dalam kondisi terdesak yang sangat ekstrem.

Dilansir dari Zawya, para pengamat menyebut langkah tersebut ibarat “memotong urat nadi sendiri”, karena sama saja dengan menghentikan sumber utama pendapatan negara.

Penutupan Selat Hormuz memang dapat memberikan keuntungan politik jangka pendek bagi Iran melalui tekanan terhadap pasar energi global.

Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, langkah tersebut berpotensi menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas nasional.

Alih-alih melakukan penutupan total, skenario yang dinilai lebih realistis adalah menciptakan ketegangan terbatas di jalur tersebut guna meningkatkan posisi tawar, tanpa harus menanggung risiko kehancuran ekonomi sendiri. (Red)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved