Penyelidikan difokuskan pada dugaan adanya motif tersembunyi serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam upaya yang berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan yang sah.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Kumham Imipas, Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026) malam, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah mengetahui persoalan tersebut setelah menerima laporan langsung dari Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.
Dalam keterangan pers lanjutan di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Rabu (4/11/2026), Yusril menyampaikan bahwa penyidik membuka kemungkinan untuk mengkaji perkara tersebut menggunakan ketentuan pidana terkait makar.
"Penyidik sedang mendalami apakah ada motif tersembunyi untuk melumpuhkan kekuasaan pemerintahan Presiden Prabowo atau melibatkan aktor intelektual lain," ujar Yusril.
Menurutnya, penyidik juga tengah mengkaji kemungkinan penerapan Pasal 191 KUHP Nasional, dengan mempertimbangkan hasil penyelidikan dan bukti-bukti yang ditemukan.
Kasus yang diduga berlangsung sejak 2025 hingga Oktober 2026 tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keamanan kepala negara dan perlindungan sistem komunikasi kenegaraan.
Dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/11/2026), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa penyadapan tanpa hak terhadap kepala negara, terlebih disertai dugaan penghapusan jejak elektronik atau log system, merupakan persoalan serius yang berpotensi mengancam kedaulatan negara.
"Kami berpendapat, apa yang dilakukan ini mungkin sudah masuk kategori bisa kita anggap perbuatan mengarah ke perbuatan makar karena membahayakan keselamatan pimpinan negara," tegas Prasetyo Hadi.
Sebelumnya, Bareskrim Polri mengumumkan penetapan sejumlah perwira tinggi kepolisian sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Pengumuman disampaikan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/11/2026), yang dipimpin Kabareskrim Komjen Pol Asep Safrudin.
Dua nama perwira tinggi Polri aktif yang disebut dalam pengumuman tersebut adalah Kadiv Hukum Polri Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat Polri Irjen Eko Hadi Santoso. Selain itu, nama Jenderal Polisi (Purn) Listyo Sigit Prabowo juga dikaitkan dengan perkara tersebut.
Berdasarkan pemaparan Kabareskrim, dugaan modus operandi dalam kasus ini dilakukan dengan memasukkan sejumlah nomor telepon milik Presiden Prabowo, pejabat negara, tokoh politik, hingga kalangan pengusaha ke dalam sistem Lawful Interception Management System (LIMS) milik Polri tanpa dilengkapi surat perintah resmi.
Penyidik juga mendalami dugaan penghapusan sejumlah berkas hasil penyadapan pada Oktober 2026. Tindakan tersebut diduga bertujuan menghilangkan jejak digital atau log system yang berkaitan dengan aktivitas penyadapan.
Perkembangan kasus ini turut mendapat perhatian kalangan akademisi dan pakar hukum pidana.
Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, menjelaskan bahwa dugaan penyadapan ilegal pada dasarnya dapat dijerat menggunakan ketentuan hukum terkait tindak pidana siber maupun aturan mengenai penyadapan.
Namun, menurutnya, perkara tersebut berpotensi berkembang ke arah tindak pidana makar apabila dalam proses pembuktian ditemukan adanya niat jahat (mens rea) untuk melumpuhkan kemampuan Presiden dalam menjalankan pemerintahan.
Pandangan serupa disampaikan mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Nasser. Ia menilai pembuktian adanya permufakatan jahat menjadi salah satu aspek penting yang harus didalami penyidik.
Menurutnya, penyidik perlu menemukan bukti konkret melalui pemeriksaan forensik digital terhadap barang bukti yang telah disita, termasuk 11 unit telepon genggam, satu unit iPad, dan empat flashdisk.
Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengungkap tujuan penggunaan sistem penyadapan, pihak-pihak yang terlibat, serta ada atau tidaknya hubungan antara aktivitas tersebut dengan dugaan upaya mengganggu stabilitas pemerintahan.
Hingga Rabu (4/11/2026), pemerintah menegaskan komitmennya untuk mengusut perkara tersebut secara menyeluruh. Presiden Prabowo Subianto disebut telah memerintahkan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto agar penanganan kasus dilakukan secara transparan, objektif, profesional, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Proses penyidikan selanjutnya diharapkan mampu mengungkap secara terang rangkaian peristiwa, motif, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam dugaan penyadapan ilegal tersebut. (FT)





FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram