MAJALENGKA – Menjelang pelaksanaan tradisi sakral Nyiramkeun Pusaka yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Agustus 2026, Museum Talaga Manggung mulai melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Langkah ini dilakukan bukan hanya sebagai persiapan seremoni tahunan, tetapi juga sebagai bentuk nyata pelestarian warisan budaya leluhur agar tetap hidup, terjaga, dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Pembenahan mencakup berbagai aspek, mulai dari penataan ruang museum, perawatan benda-benda pusaka, hingga penguatan fungsi museum sebagai pusat edukasi sejarah dan budaya bagi masyarakat.
Pada Senin (21/4/2026), proses pembenahan memasuki tahap penting melalui kegiatan pemetaan posisi benda pusaka. Langkah ini dinilai strategis untuk memastikan setiap benda peninggalan leluhur memiliki identitas, posisi, serta narasi sejarah yang jelas.
Kegiatan tersebut melibatkan putra daerah, TB Hasanudin, bersama Nina Herlina Lubis, seorang peneliti sekaligus ahli sejarah yang telah lama mengkaji peninggalan Talaga Manggung dan menuliskannya dalam berbagai karya ilmiah.
Kehadiran Prof. Nina Lubis mempertegas bahwa proses pembenahan museum dilakukan secara serius dan berbasis kajian akademik. Sebagai akademisi dengan rekam jejak kuat dalam penelitian sejarah Sunda, keterlibatannya menjadi bagian penting dalam menjaga keaslian nilai sejarah yang ada.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, anggota DPRD Majalengka Komisi IV, Tita Juwita Hapsiah, sebagai bentuk dukungan legislatif terhadap upaya pelestarian budaya daerah.
Kehadiran unsur DPRD dinilai penting untuk mendorong sinergi antara pelestarian sejarah dengan kebijakan pembangunan daerah, sehingga keberadaan situs budaya tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga mendapat dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Bendahara Panitia Nyiramkeun Pusaka, Yeni Nuraeni, mengatakan bahwa pembenahan museum menjadi bagian penting agar pelaksanaan tradisi tidak hanya berlangsung secara seremonial, tetapi juga memberikan nilai edukatif bagi masyarakat.
"Nyiramkeun Pusaka bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga momentum untuk mengingat kembali akar sejarah dan menghormati peninggalan leluhur. Karena itu, museum harus ditata dengan baik agar generasi muda bisa memahami nilai budaya yang diwariskan,” ujar Yeni.
Menurutnya, museum yang tertata rapi dan informatif akan memperkuat pesan budaya yang ingin disampaikan dalam tradisi tersebut.
"Harapan kami, masyarakat yang datang tidak hanya menyaksikan prosesi adat, tetapi juga mendapatkan pemahaman tentang sejarah Talaga Manggung dan pentingnya menjaga warisan budaya secara bersama-sama,” tambahnya.
Momentum Nyiramkeun Pusaka tahun 2026 pun dipandang sebagai titik penting untuk memperkuat kembali kesadaran kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi.
Museum Talaga Manggung kini tidak hanya dipersiapkan sebagai lokasi kegiatan adat, tetapi juga sebagai simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga jejak leluhur.
Pembenahan ini menjadi pesan tegas bahwa warisan budaya tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan harus menjadi bagian hidup yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Fito)






FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram