-->

NASIONAL


PENDIDIKAN

Jumat, 17 April 2026

Publik Tercengang! Ketua Ombudsman RI Ditangkap Saat Baru Mulai Bertugas



JAKARTA - Publik dikejutkan dengan penangkapan Hery Susanto oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia pada Rabu (16/4/2026). Ia baru saja menjabat sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia selama kurang dari satu pekan.

Penangkapan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Hery resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Ombudsman RI periode 2026–2031.

Hery Susanto sebelumnya ditetapkan sebagai Ketua Ombudsman RI oleh DPR RI pada 26 Januari 2026 dan disahkan melalui rapat paripurna sehari setelahnya. Setelah melalui proses administratif, ia kemudian dilantik pada awal April 2026.

Namun, belum genap satu minggu menjalankan tugas, Kejaksaan Agung menetapkan Hery sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang berkaitan dengan sektor pertambangan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Hery diduga menerima suap dengan nilai mencapai sekitar Rp1,5 miliar. Uang tersebut diduga berkaitan dengan intervensi atau pengaruh terhadap kebijakan tertentu di sektor tambang.

Pihak Kejaksaan Agung menyatakan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik mengantongi alat bukti yang cukup.

"Penetapan tersangka terhadap yang bersangkutan telah melalui proses penyidikan dan didukung alat bukti yang cukup. Kami memastikan penanganan perkara ini berjalan transparan dan akuntabel,” ujar perwakilan Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Kasus ini memicu reaksi keras dari publik dan pengamat, mengingat posisi Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik yang seharusnya menjunjung tinggi integritas.

Penangkapan ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas internal Ombudsman RI, termasuk kemungkinan penunjukan pelaksana tugas (Plt) untuk mengisi kekosongan jabatan ketua.

Peristiwa ini menjadi salah satu kasus paling mencolok dalam sejarah lembaga negara, karena jarak waktu antara pelantikan dan penangkapan yang sangat singkat.

Sejumlah pihak menilai kasus ini sebagai peringatan keras terhadap pentingnya integritas dalam proses seleksi pejabat publik. (Red)

Terungkap! Gereja Sion Berdiri Sejak 1600-an, Jadi Saksi Bisu Sejarah Nusantara



RELIGI - Selain Gereja Sion yang dikenal sebagai gereja tertua di Indonesia, sejumlah bangunan gereja bersejarah lain juga tersebar di berbagai daerah, menyimpan kisah panjang perjalanan iman sekaligus warisan budaya bangsa.

Salah satunya adalah Gereja Blenduk yang berdiri megah di kawasan Kota Lama Semarang. Gereja ini pertama kali dibangun pada tahun 1753 oleh komunitas Belanda dan mengalami renovasi besar pada tahun 1894.

Nama “Blenduk” sendiri berasal dari bentuk kubahnya yang bulat (dalam bahasa Jawa: mblenduk). Arsitek yang terlibat dalam pembaruan bangunan ini adalah H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas, yang mengusung gaya neo-klasik Eropa.

Tak kalah bersejarah, di wilayah timur Indonesia berdiri Gereja Tua Immanuel Hila yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1780 oleh bangsa Portugis.

Gereja ini menjadi salah satu simbol awal penyebaran agama Kristen di kawasan Maluku, yang saat itu merupakan pusat perdagangan rempah dunia. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, struktur utamanya tetap dipertahankan.

Sementara itu, di tanah Papua terdapat Gereja Tua Wasior yang menjadi bukti masuknya misi zending di wilayah timur Nusantara. Gereja ini dibangun sekitar awal abad ke-20 oleh para misionaris Jerman yang datang untuk menyebarkan ajaran Kristen sekaligus pendidikan kepada masyarakat setempat.

Keberadaan gereja-gereja tua ini tidak hanya mencerminkan aktivitas keagamaan di masa lampau, tetapi juga menjadi bukti interaksi budaya antara bangsa Indonesia dengan dunia luar, mulai dari Portugis, Belanda, hingga Jerman.

Sejarawan menilai, bangunan-bangunan ini memiliki nilai penting yang harus dijaga. Selain sebagai tempat ibadah, gereja-gereja tersebut kini juga berfungsi sebagai cagar budaya dan destinasi wisata sejarah yang memberikan edukasi lintas generasi.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan gereja-gereja tua ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki warisan sejarah yang kaya dan beragam, yang patut dilestarikan sebagai identitas bangsa. (Red)

Kamis, 16 April 2026

Merinding! Suara Misterius & Bayangan Putih di Kuil Ini Bikin Warga Tak Berani Datang Malam Hari



RELIGI - Sejumlah kuil dan klenteng tua di wilayah Jawa Barat kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Bukan hanya karena nilai sejarah dan arsitekturnya, tetapi juga kisah-kisah mistis yang berkembang dari mulut ke mulut selama puluhan tahun.

Cerita tersebut hidup kuat di tengah warga lokal, terutama di kota-kota seperti Cirebon dan Bandung, yang dikenal memiliki klenteng-klenteng berusia ratusan tahun.

Salah satu yang paling sering disebut adalah Vihara Dewi Welas Asih. Klenteng yang diyakini sebagai salah satu tertua di Indonesia ini tak lepas dari cerita spiritual.

Warga sekitar mengaku kerap merasakan suasana berbeda, terutama saat malam hari. Beberapa menyebut adanya suara langkah kaki tanpa wujud hingga aroma dupa yang muncul tiba-tiba.

"Kalau malam, suasananya memang beda. Tenang, tapi kadang bikin merinding,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Cerita serupa juga muncul dari Klenteng Hok Tek Bio. Selain dikenal sebagai tempat ibadah untuk memohon rezeki, sejumlah pengunjung mengaku mengalami hal tak biasa.

Mulai dari rasa pusing mendadak hingga perasaan seperti diawasi saat berada di dalam area klenteng.

"Katanya kalau niatnya nggak baik, biasanya nggak betah lama di dalam,” ungkap seorang pedagang di sekitar lokasi.

Di Bandung, Vihara Dharma Ramsi juga kerap disebut memiliki aura kuat. Meski berada di kawasan padat, beberapa pengunjung mengaku merasakan kesunyian yang berbeda saat memasuki ruang utama vihara.

"Ada yang bilang dadanya terasa berat. Tapi ada juga yang justru merasa tenang,” kata seorang pengurus vihara.

Fenomena ini pun mendapat tanggapan dari pemerhati budaya, Murfito Adi. Ia menilai, cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari dinamika budaya yang berkembang di masyarakat.

"Yang perlu dipahami, tempat-tempat ini adalah situs ibadah dan sejarah. Cerita mistis yang beredar lebih kepada pengalaman subjektif dan kepercayaan lokal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap menghormati fungsi utama tempat tersebut sebagai ruang spiritual.

Terlepas dari berbagai cerita yang beredar, kuil dan klenteng di Jawa Barat tetap menjadi simbol toleransi dan warisan budaya yang harus dijaga.

Bagi sebagian orang, tempat-tempat ini bukanlah lokasi angker, melainkan ruang untuk mencari ketenangan, harapan, dan doa.

Namun bagi lainnya, kisah-kisah tak kasat mata justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat tempat tersebut terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. (Red)


Prabowo Subianto Mundur dari Ketua Umum IPSI, Fokus Jalankan Tugas Negara



JAKARTA — Prabowo Subianto resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia. Keputusan tersebut disampaikan dalam forum Pengurus Besar Musyawarah Nasional (Munas) PB IPSI sebagai bentuk komitmen untuk fokus menjalankan tugas negara.

Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa tanggung jawab sebagai Presiden Republik Indonesia menyita waktu dan energi yang sangat besar, sehingga ia merasa tidak dapat lagi menjalankan peran strategis di organisasi pencak silat tersebut secara optimal.

“Saya mohon izin untuk tidak melanjutkan sebagai Ketua Umum IPSI karena tugas negara yang saya emban saat ini sangat menyita perhatian,” ujar Prabowo dalam forum resmi Munas XVI Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), Sabtu (11/4/2026).

Keputusan ini menandai berakhirnya masa kepemimpinan Prabowo di IPSI, sebuah organisasi yang selama ini berperan penting dalam pengembangan dan pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.

Selama menjabat, Prabowo dikenal aktif mendorong pencak silat hingga ke kancah internasional. Di bawah kepemimpinannya, IPSI turut berkontribusi dalam mengangkat pencak silat sebagai cabang olahraga yang diakui dunia, sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia.

Pengunduran diri ini disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga profesionalitas, mengingat jabatan Presiden membutuhkan fokus penuh dalam menghadapi berbagai tantangan nasional maupun global.

Munas IPSI sendiri dijadwalkan akan menentukan kepemimpinan baru guna melanjutkan program pembinaan atlet serta pengembangan organisasi ke depan. (Red)

Rabu, 15 April 2026

5 Tempat Keramat di Jawa Barat yang Tak Pernah Sepi, Nomor 1 Jadi Pusat Ziarah Nasional



RELIGI – Sejumlah tempat keramat di Jawa Barat hingga kini masih menjadi tujuan utama ziarah masyarakat. Selain memiliki nilai spiritual, lokasi-lokasi tersebut juga menyimpan jejak sejarah panjang, khususnya terkait penyebaran Islam dan peninggalan tokoh kerajaan Sunda.

Tradisi ziarah yang terus berlangsung menunjukkan kuatnya keterikatan masyarakat terhadap nilai religius dan budaya lokal. Berikut lima tempat keramat yang paling dikenal dan kerap dikunjungi peziarah:

Salah satu yang paling populer adalah Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana. Situs ini merupakan tempat peristirahatan Sunan Gunung Jati, tokoh penting dalam penyebaran Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kompleks makam ini tidak pernah sepi, terutama menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan.

Di wilayah Tasikmalaya, terdapat Gua Safarwadi Pamijahan yang berlokasi di Desa Pamijahan. Tempat ini dikenal sebagai pusat dakwah Syekh Abdul Muhyi. Gua tersebut diyakini memiliki nilai spiritual tinggi dan sering digunakan untuk berdoa serta melakukan ritual keagamaan.

Sementara itu di Garut, peziarah banyak mendatangi makam Prabu Kian Santang yang berada di Kampung Godog. Tokoh ini dikenal dalam legenda sebagai sosok sakti dari Kerajaan Pajajaran yang kemudian menyebarkan ajaran Islam. Kompleks makamnya menjadi salah satu pusat ziarah penting di wilayah Priangan.

Tak jauh berbeda, di Kabupaten Ciamis terdapat Situs Keramat Depok yang berlokasi di Desa Depok. Situs ini dipercaya sebagai petilasan perjalanan spiritual Prabu Kian Santang. Dikelilingi pepohonan tua, suasana di lokasi ini kental dengan nuansa sakral dan sering dimanfaatkan untuk doa serta tirakat.

Adapun di Cirebon, terdapat Keramat Plangon yang berada di Desa Babakan. Kompleks ini merupakan makam tokoh penyebar Islam seperti Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan. Selain nilai religius, kawasan ini juga dikenal dengan keberadaan kera liar yang hidup di sekitar hutan, menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Fenomena ramainya ziarah ke tempat-tempat keramat ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak hanya menjaga tradisi spiritual, tetapi juga merawat warisan sejarah. Aktivitas ziarah umumnya meningkat pada malam Jumat, bulan Maulid, serta menjelang Ramadan.

Bagi sebagian masyarakat, ziarah bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa dalam perjalanan sejarah dan penyebaran agama di Tanah Pasundan. (Red)

INTERNASIONAL

RELIGI

SPORT

TNI POLRI


WISATA

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved