RELIGI – Indonesia memiliki sejumlah vihara tua yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah panjang komunitas Tionghoa dan perkembangan ajaran Buddha di Nusantara.
Beberapa vihara yang dikenal sebagai yang tertua antara lain Vihara Avalokitesvara yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-16, serta Vihara Dharma Bhakti yang didirikan pada tahun 1650. Selain itu, terdapat pula Vihara Boen Tek Bio dan Vihara Tay Kak Sie yang hingga kini menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat.
Dalam praktiknya, masyarakat seringkali menyamakan istilah vihara, klenteng, dan kelenteng Tri Dharma. Padahal, ketiganya memiliki perbedaan mendasar.
Vihara merupakan tempat ibadah umat Buddha yang berfokus pada ajaran Siddhartha Gautama, sementara klenteng berkaitan dengan kepercayaan tradisional Tionghoa yang memuja dewa-dewi serta leluhur.
Adapun kelenteng Tri Dharma merupakan bentuk sinkretisme yang menggabungkan ajaran Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme.
Tata cara ibadah di masing-masing tempat juga berbeda. Di vihara, ibadah dilakukan secara hening melalui meditasi, pembacaan paritta, serta persembahan sederhana.
Sementara di klenteng, ritual lebih bersifat personal dengan penggunaan dupa, doa permohonan, serta penghormatan kepada berbagai altar dewa. Pada kelenteng Tri Dharma, praktik ibadah umumnya merupakan kombinasi dari keduanya.
Di sisi lain, sejumlah vihara tua juga kerap dikaitkan dengan cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Beberapa pengunjung mengaku merasakan suasana berbeda atau pengalaman subjektif saat berada di lokasi tersebut.
Namun, bagi umat yang beribadah, vihara tetap dipandang sebagai tempat suci yang memberikan ketenangan dan kedamaian.
Vihara Tua di Indonesia diantaranya:
1 Vihara Avalokitesvara
Tahun: ± abad ke-16
Lokasi: Banten
Mitos:
Dipercaya masyarakat bahwa patung Dewi Kwan Im pernah memancarkan cahaya sebagai tanda perlindungan dari bahaya.
2. Vihara Dharma Bhakti
Tahun: 1650
Lokasi: Jakarta Barat
Mitos:
Kerap dikaitkan dengan kejadian mistis seperti suara langkah kaki di malam hari, serta diyakini memiliki “penjagaan spiritual” karena sejarah panjangnya.
3. Vihara Boen Tek Bio
Tahun: 1684
Lokasi: Tangerang
Mitos:
Diyakini dijaga oleh roh leluhur masyarakat Tionghoa Benteng yang membawa keberuntungan bagi warga sekitar.
4. Vihara Tay Kak Sie
Tahun: 1746
Lokasi: Semarang
Mitos:
Beberapa pengunjung mengaku mencium aroma dupa tanpa sumber jelas dan merasakan suasana berbeda saat berada di dalam vihara.
Keberadaan vihara-vihara tua ini tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga warisan budaya yang memperkaya keberagaman Indonesia.
Selain sebagai destinasi religi, tempat-tempat tersebut kini juga menarik minat wisatawan yang ingin memahami sejarah dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Meski sebagian cerita mistis berkembang secara turun-temurun, hal tersebut lebih mencerminkan perspektif budaya dan pengalaman subjektif masyarakat.
Sementara itu, bagi umat Buddha dan pengunjung yang datang untuk beribadah, vihara tetap menjadi ruang suci yang menghadirkan ketenangan dan kedamaian.(Red)





FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram