-->

Jumat, 15 Mei 2026

Ekonomi Terancam, Xi Jinping Desak Iran Buka Blokade Selat Hormuz

Ekonomi Terancam, Xi Jinping Desak Iran Buka Blokade Selat Hormuz


INFONAS — Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian menjadi sorotan utama global. Namun, di balik riuh konfrontasi militer kedua negara, komunitas intelijen Washington kini justru mengkhawatirkan dampak sekunder yang jauh lebih besar: keuntungan strategis yang bisa diraup oleh China di panggung geopolitik dunia.

Laporan intelijen internal AS menyebutkan bahwa berlarut-larutnya konflik ini berisiko mengikis fokus dan sumber daya Barat, yang secara tidak langsung memberikan ruang bagi Beijing untuk memperkuat pengaruhnya tanpa perlu terlibat dalam konfrontasi bersenjata.

Meski diuntungkan secara geopolitik, China juga menghadapi ancaman serius pada sektor domestik akibat penutupan jalur pelayaran krusial, Selat Hormuz, oleh pihak Teheran sejak pertengahan April lalu. 

Sebagai negara dengan ekonomi yang digerakkan oleh ekspor dan sangat bergantung pada pasokan energi Timur Tengah, Beijing menderita kerugian besar akibat terhambatnya arus logistik internasional.

Sinyal keterlibatan China ini sebenarnya sudah mulai ditegaskan oleh Gedung Putih sejak awal bulan. 

Dalam konferensi pers resmi di Washington pada Selasa, 5 Mei 2026, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan keyakinannya bahwa China tidak akan tinggal diam. Pernyataan ini dikeluarkan Rubio tepat satu hari menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Beijing pada Rabu, 6 Mei 2026.

Pemerintah AS menilai Beijing memiliki kepentingan ekonomi yang terlalu besar untuk membiarkan Selat Hormuz tetap terblokir. AS pun mendesak agar China menggunakan pengaruh diplomatik dan ekonominya guna menekan Iran agar segera membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut demi kestabilan pasar global.

Puncaknya terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026, saat Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan puncak bilateral (KTT) tingkat tinggi yang sangat diantisipasi di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, isu koridor energi global menjadi bahasan utama.

Merespons situasi yang kian genting, Presiden Xi Jinping dilaporkan menawarkan bantuan langsung untuk menengahi perdamaian antara Washington dan Teheran, serta menyatakan bahwa China "ingin melihat sebuah kesepakatan damai terwujud". 

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pasca-pertemuan Kamis tersebut, kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap dibuka demi kelancaran pasokan energi dunia.

Menariknya, sesaat setelah pertemuan bilateral tersebut berlangsung, Teheran langsung merespons di lapangan. 

Pada Kamis malam, 14 Mei 2026, Angkatan Laut Iran dilaporkan mulai mengizinkan puluhan kapal dagang milik China untuk melintasi Selat Hormuz di bawah protokol transit khusus yang dikelola Iran.

Hingga hari ini, Jumat, 15 Mei 2026, situasi di kawasan Teluk masih berada dalam status siaga penuh. Baik AS maupun sekutunya terus memantau apakah diplomasi "pintu belakang" yang diupayakan Beijing pasca-pertemuan bersejarah kemarin mampu melunakkan sikap keras Iran secara permanen di Selat Hormuz. (RED)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved