-->

Jumat, 24 Maret 2023

Obrog-obrog Tradisi masyarakat Pantura Membangunkan sahur

Obrog-obrog Tradisi masyarakat Pantura Membangunkan sahur

INFONAS.ID || CIREBON -- Mulai hari ini, 1 Ramadhan 1444H, atau 23 Maret 2023M, umat muslim di penjuru dunia sudah menjalankan ibadah puasa di hari pertama berpuasa. 

Ingatan saya melayang saat mejelang sahur ada group musik berserta penyanyi keliling kampung membangungkan orang untuk melaksanakan makan sahur, antara pukul 01.00 Wib sampai 03.00 dini hari, oleh masyarakat pantai utara/pantura (Indramayu, Cirebon, Majalengka, Kuningan, Brebes) di sebut ‘Obrog-obrog'

Alat musik obrog-obrog berubah mengikuti jaman, Mulanya hanya berupa kentongan yang dipukul oleh dua atau tiga orang membawa obor karena suasana kampung yang masih sunyi dan gelap belum ada listrik sambil berteriak , “sahu…sahur’. 

Kemudian obrog-obrog berkembang menggunakan rebana dan bedug yang dipikul atau dinaikkan pada sepeda ontel, dengan perkembangan jaman obrog-obrog menggunakan alat musik (Tarling) gitar dan suling bahkan sekarang lebih lengkap dengan tambahan giatar elektronik dengan, keyboard organ, gendang, pengeras suara, ditarik gerobak keliling kampung.

Tradisi obrog-obrog mirip seperti ngamen, bedanya kalau ngamaen setiap rumah berhenti dan minta uang tips, kalau obrog-obrog memainkan musik diiringi lagu namun tidak berhenti kecuali ada permintaan dari yang punya rumah untuk pesan lagu dan tuan rumah memberikan uang tips sekedarnya tidak ada patokan tarif untuk setiap lagunya.

Jika pada awalnya para penyanyi obrog-obrog melantunkan pantun yang dibuat seperti nyanyian, kini sesuai perkembangan jaman lebih variatif, tarling, kasidah, dan tentu saja dangdut. Group obrog-obrog dalam satu kampung atau desa terkadang bisa dua atau tiga group, meskipun demikian antar mereka mereka tidak ada persaingan karena tujuannya menghibur dan membangunkan orang untuk melaksanakan makan sahur.

Aksi musik obrog-obrog ini akan berlangsung sebulan penuh selama bulan puasa, dan hanya ada di bulan puasa yang di mainkan malam hari. Musik obrog-obrog dimainkan sore hari, satu hari menjelang lebaran bersamaan saat pembagian zakat fitrah, saat itulah group obrog-obrog berkeliling kampung mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta tips, ada yang memberi beras satu liter atau uang antara Rp.5000-10.000, aksi obrog-obrog akan dilanjutkan besok pagi setelah sholat Ied.

Tidak ada tahun yang pasti tentang asal mula tradisi maupun nama obrog-obrog.

Menurut Budayawan Cirebon, TD Sudjana, nama oborog diambil dari nama suara yang dihasilkan dari bunyi rebana dan kentongan yang terdengar seperti suara obrok, obrok, obrok, makanya dinamai seni obrok-obrok,” terangnya

“Dulu pada zaman Belanda, obrok-obrok menggunakan alat kentongan yang ditabuh beberapa orang. Setiap bulan Puasa, obrok-obtok, kentongan ini keliling desa, bahkan sampai jauh ke berbagai desa dan jalannya gelap waktu itu, karena belum ada listrik. Makanya jalannya terkadang cepat sekali, takut dalam kegelapan kalau saja ada hewan galak atau harimau misalnya,” kata Sudjana.

Pada awalnya penyanyi obrog-obrog adalah seorang laki-laki yang berdandan mengenakan kebaya seperti perempuan, kini Penyanyi obrog-obrog umumnya perempuan yang terkesan glamour mengukiti trand penyanyi masa kini.

Penggunaan pakaian perempuan oleh penyanyi obrog-obrog erat kaintannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang saat itu Cirebon merupakan bawahan kerajaan Mataram. Seputar abad XVI-XVII, Ketika Cirebon sempat dikuasai Sultan Agung dari Mataram, banyak orang Cirebon yang dijadikan telik sandi (intelijen), untuk mematai-matai Belanda saat Sultan Agung hendak menyerang Batavia.

“Para telik sandi itu biasanya menyamar sebagai wanita, dan pura-pura ngamen. Inilah yang ditiru obrok-obrok sampai sekarang. Meskipun saat ini lelaki banci ini menjadi tontonan yang segar dan lucu bagi masyarakat, seni obrok-obrok setidaknya telah mencatat sebuah sejarah tentang keberadaan intelijen di masa silam”, tandas Sudjana



Editor : Red

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved