-->

Minggu, 13 September 2026

Dari Desa untuk Dunia! Anak-anak Cijaya Tampil Pidato Bahasa Inggris di Hadapan Warga

PURWAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Cijaya, Kabupaten Purwakarta, berlangsung khidmat sekaligus menghadirkan suasana berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di tengah rangkaian kegiatan keagamaan tersebut, sejumlah anak peserta kursus gratis yang diselenggarakan Pemdes Cijaya tampil percaya diri menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris di hadapan warga dan para tamu undangan.

Penampilan tersebut sontak mendapat perhatian dan apresiasi. Anak-anak desa yang selama ini mengikuti program kursus bahasa Inggris menunjukkan keberanian berbicara menggunakan bahasa asing di depan khalayak.

Kepala Desa Cijaya, H. Tri Sutisna, mengaku terharu melihat langsung kemampuan dan keberanian anak-anak tersebut.

“Alhamdulillah, saya merasa terharu melihat tampilnya anak-anak berpidato dalam bahasa Inggris. Ini menjadi salah satu program prioritas kepala desa untuk membekali generasi muda dengan keterampilan global,” ujar H. Tri Sutisna.

Menurut Tri Sutisna, program kursus bahasa Inggris dan komputer tersebut telah berjalan selama kurang lebih satu tahun. Program itu diberikan secara gratis kepada masyarakat Desa Cijaya yang memiliki minat untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan.

Ia berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan kemampuan teknis, tetapi juga mampu membangun rasa percaya diri dan kreativitas generasi muda di tingkat desa.

“Kami berharap generasi muda memiliki kreativitas untuk masa depan, salah satunya dengan menguasai bahasa asing. Dengan bekal ini, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.

Rangkaian kegiatan Maulid Nabi diawali dengan penampilan pidato bahasa Inggris oleh para peserta kursus. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta.

Acara selanjutnya ditutup dengan pembacaan Barzanji bersama masyarakat. Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) serta tokoh masyarakat turut hadir dan memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Bagi Pemdes Cijaya, momentum Maulid Nabi tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahmi dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan potensi generasi muda.

Program kursus gratis bahasa Inggris dan komputer menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah desa terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pemdes Cijaya berharap keterampilan yang diperoleh anak-anak tersebut dapat menjadi bekal menghadapi perkembangan zaman sekaligus membuka peluang yang lebih luas di masa depan.

Melalui perpaduan pendidikan keagamaan dan peningkatan keterampilan, Pemdes Cijaya berupaya membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki wawasan luas dan kemampuan bersaing, tetapi juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan akhlak.

Dengan demikian, investasi pembangunan desa tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui peningkatan kualitas manusia sebagai generasi penerus pembangunan. (AGUS)

Sabtu, 05 September 2026

Bikin Haru! Suara Santri Cilik Menggema di Maulid Nabi Desa Cimahi

PURWAKARTA — Suasana haru dan bangga mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Mushola Albahriyah, Desa Cimahi, Kabupaten Purwakarta. Sabtu (05/09/2016)

Perhatian para jamaah tertuju pada penampilan sejumlah anak-anak pengajian yang tampil membacakan Barzanji dengan lancar dan fasih. Mereka melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan bagian dari tradisi keagamaan dalam peringatan Maulid Nabi.

Penampilan para santri cilik tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat yang hadir. Kemampuan mereka menghafal dan melantunkan bacaan Barzanji dinilai menjadi gambaran positif dari pembinaan keagamaan sejak usia dini.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, yang turut menghadiri kegiatan tersebut mengaku bangga melihat antusiasme dan kemampuan anak-anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan.

"Selaku orang tua tentunya pasti sangat membanggakan melihat anaknya bisa tampil membaca Barzanji. Dan selaku pemerintahan desa, kami tentunya sangat gembira karena berkembangnya syiar Islam sampai ke pelosok," ujar Asep.

Menurutnya, kegiatan keagamaan yang melibatkan anak-anak dan remaja memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus.

Ia berharap pembinaan keagamaan yang dilakukan secara rutin dapat menanamkan nilai-nilai akhlak dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejak dini.

"Insya Allah, jika generasi penerus semuanya seperti ini—berakhlakul karimah dan mencintai Nabi—maka negara akan menjadi kuat," tegasnya.

Kegiatan Maulid Nabi di Mushola Albahriyah tersebut turut dihadiri masyarakat, para orang tua santri, serta unsur pemerintahan dan keamanan setempat. Di antaranya perwakilan Pemerintah Desa Cimahi, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa Desa Cimahi.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan yang melibatkan anak-anak dan remaja di lingkungan masyarakat.

Melalui pengajian dan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin, masyarakat berharap minat belajar agama generasi muda di Desa Cimahi semakin meningkat.

Pembinaan tersebut diharapkan tidak hanya membentuk generasi yang memiliki pengetahuan dan kecerdasan, tetapi juga memiliki akhlak, moral, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Dengan demikian, kegiatan keagamaan di tingkat desa dapat menjadi salah satu ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dengan nilai-nilai positif sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. (AGUS)

Kamis, 03 September 2026

Dana Haji Rp180 Triliun, BPKH Dihadapkan pada Ujian Besar


Refleksi Dr. KH. Maman Imanulhaq

Anggota Komisi VIII DPR RI

JAKARTA – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) diminta terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, serta sistem pengawasan dalam mengelola dana haji. Langkah tersebut dinilai penting seiring semakin besarnya dana yang dikelola BPKH.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH. Maman Imanulhaq, mengatakan pengalaman yang terjadi pada Lembaga Tabung Haji (LTH) Malaysia dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat pengelolaan dana jamaah.

Menurut Maman, besarnya dana, panjangnya sejarah, dan tingginya reputasi sebuah lembaga tidak secara otomatis menjamin kuatnya tata kelola.

“Dalam pengelolaan dana umat, yang menentukan ketahanan sebuah institusi bukan hanya seberapa besar keuntungan yang mampu dihasilkan, tetapi seberapa kokoh sistem yang menjaga agar keuntungan itu diperoleh secara sehat, risiko dikendalikan, aturan dipatuhi, dan seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan,” kata Maman dalam refleksinya mengenai pengelolaan dana haji.

Ia menilai BPKH memiliki fondasi kelembagaan yang kuat karena pengelolaan keuangan haji didukung sistem Governance, Risk Management and Compliance (GRC), kemandirian kelembagaan, serta mekanisme pengawasan berlapis.

Menurutnya, kekuatan BPKH tidak semata-mata diukur dari kinerja keuangan, tetapi juga dari kemampuan sistem kelembagaan dalam melindungi dana jamaah dari berbagai risiko.

Maman menyoroti persoalan yang muncul dalam pengelolaan LTH Malaysia. Berdasarkan hasil Royal Commission of Inquiry (RCI) Malaysia sebagaimana dirangkum dalam artikel Politics, Piety and Poor Governance: 

Malaysia's Hajj Fund Reckoning yang dimuat Islamic Finance News pada 5 Agustus 2026, terdapat sejumlah persoalan terkait pengelolaan keuangan dan investasi LTH.

Dalam laporan tersebut, LTH disebut mengalami kerugian sekitar RM1,4 miliar pada 2017, tetapi tetap membagikan hibah sekitar RM2,27 miliar. Setelah berbagai penyesuaian akuntansi, LTH kemudian melaporkan laba sekitar RM3,4 miliar.

RCI juga menyoroti penurunan nilai investasi yang diperkirakan mencapai RM4,26 miliar.

Maman mengatakan, apabila temuan tersebut benar sebagaimana dilaporkan, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan besarnya kerugian atau keuntungan.

“Persoalan utamanya adalah kegagalan sistem untuk memastikan bahwa angka yang disajikan benar-benar mencerminkan realitas ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai persoalan tata kelola menjadi sangat penting bagi lembaga yang mengelola dana publik dan dana umat. Ketika laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, menurutnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi keuangan lembaga, tetapi juga kepercayaan masyarakat.

Maman menyebut BPKH dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji dengan mandat mengelola keuangan haji berdasarkan prinsip syariah, kehati-hatian, manfaat, transparansi, dan akuntabilitas.

Namun, menurut dia, kekuatan regulasi perlu diikuti penerapan tata kelola yang efektif.

Ia menjelaskan, aspek Governance diperlukan untuk memastikan kewenangan, tanggung jawab, proses pengambilan keputusan, serta mekanisme pengawasan berjalan secara jelas.

Sementara Risk Management diperlukan untuk memastikan setiap keputusan investasi mempertimbangkan potensi keuntungan sekaligus risiko dan dampaknya terhadap dana jamaah.

“Dalam pengelolaan dana lebih dari Rp180 triliun, pertanyaan mengenai risiko, kemungkinan kerugian, dampak terhadap dana jamaah dan mitigasinya bukan pilihan. Itu kewajiban,” kata Maman.

Adapun aspek Compliance diperlukan untuk memastikan seluruh keputusan pengelolaan keuangan haji tetap berada dalam koridor peraturan perundang-undangan, regulasi, prinsip syariah, dan kebijakan pengelolaan keuangan haji.

Menurut Maman, ketiga aspek tersebut harus berjalan sebagai satu sistem pertahanan dalam menjaga dana jamaah.

Maman juga menyoroti semakin besarnya dana yang dikelola BPKH. Pada 2025, dana kelolaan BPKH disebut mencapai sekitar Rp180,74 triliun dengan nilai manfaat sekitar Rp12,05 triliun.

BPKH juga dilaporkan telah memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak delapan kali berturut-turut.

Maman menilai capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, capaian itu tidak boleh membuat pengelolaan dana haji kehilangan kewaspadaan.

“Semakin besar dana yang dikelola, semakin besar risiko yang harus dikelola. Semakin tinggi nilai manfaat, semakin besar pula tuntutan transparansi,” katanya.

Ia menegaskan opini WTP bukan merupakan akhir dari proses pengawasan. “WTP bukan garis finis. WTP adalah titik untuk meningkatkan standar,” ujarnya.

Selain GRC, Maman menilai kemandirian kelembagaan menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan dana haji.

Menurutnya, kemandirian tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan dari pengawasan. BPKH harus memiliki ruang profesional dalam mengambil keputusan investasi berdasarkan kajian, data, risiko, prinsip syariah, dan kepentingan jangka panjang jamaah.

Namun, pada saat yang sama, BPKH tetap harus tunduk pada hukum dan mekanisme pertanggungjawaban.

“Prinsip yang harus dijaga adalah independen dalam pengelolaan, akuntabel dalam pertanggungjawaban,” katanya.

Ia menilai prinsip checks and balances diperlukan agar kemandirian kelembagaan tetap berjalan beriringan dengan pengawasan.

Maman menyebut pengawasan terhadap BPKH melibatkan sejumlah institusi dengan perspektif yang berbeda, di antaranya Dewan Pengawas BPKH, BPK, dan DPR RI melalui Komisi VIII sesuai kewenangannya.

Menurutnya, perbedaan perspektif tersebut dapat menjadi kekuatan dalam memastikan pengelolaan dana haji berjalan secara akuntabel.

Dewan Pengawas memiliki perspektif tata kelola dan pengendalian internal kelembagaan. BPK menjalankan fungsi pemeriksaan sesuai kewenangannya, sementara Komisi VIII DPR RI menjalankan fungsi pengawasan dari sisi kebijakan publik, regulasi, kepentingan jamaah, dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan haji.

Namun, Maman mengingatkan pengawasan tidak boleh berhenti pada rapat maupun laporan administratif.

“Pengawasan harus mampu menguji angka, menilai risiko, mempertanyakan keputusan investasi, dan memastikan setiap rekomendasi benar-benar ditindaklanjuti,” katanya.

Maman juga mengingatkan agar nilai manfaat tidak menjadi tekanan yang mendorong pengambilan risiko berlebihan dalam investasi dana haji.

Menurutnya, target keuntungan harus tetap ditempatkan dalam kerangka kehati-hatian dan keberlanjutan.

“Lebih baik nilai manfaat tumbuh secara moderat tetapi sehat, daripada tinggi tetapi rapuh,” katanya.

Ia menilai jamaah membutuhkan pengelola dana yang mampu menjaga keamanan dan keberlanjutan dana, bukan hanya menghasilkan angka keuntungan yang tinggi.

Maman mengatakan persoalan LTH Malaysia sebaiknya tidak dijadikan momentum untuk membandingkan lembaga mana yang lebih baik antara Malaysia dan Indonesia.

Menurutnya, pengalaman tersebut justru harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem pengelolaan dana haji di Indonesia.

“BPKH harus menjadi model bahwa dana umat dapat dikelola secara modern tanpa kehilangan nilai amanah,” katanya.

Ia menekankan pentingnya menjaga profesionalisme, kehati-hatian, kemandirian, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap proses pengelolaan dana haji.

Pada akhirnya, kata Maman, dana haji bukan hanya aset finansial. Di balik dana tersebut terdapat jamaah yang menabung selama bertahun-tahun untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci.

Karena itu, menurut dia, pengelolaan dana haji harus menempatkan amanah jamaah sebagai tujuan utama.

“Kekuatan sebuah lembaga pengelola dana haji tidak ditentukan oleh besarnya dana yang dikelola, tetapi oleh kekuatan sistem yang mencegah dana tersebut disalahkelola,” ujarnya.

Maman menegaskan BPKH memiliki modal kelembagaan yang kuat melalui penerapan GRC, kemandirian pengelolaan, serta mekanisme pengawasan berlapis.

Namun, sistem tersebut tetap harus diperkuat seiring meningkatnya jumlah dana yang dikelola.

“Dalam pengelolaan dana umat, keuntungan adalah hasil; tetapi amanah adalah tujuan,” pungkasnya.

Rabu, 02 September 2026

Maulid Nabi di Desa Cimahi, Pesan Camat Campaka Jadi Sorotan


PURWAKARTA – Pemerintah Desa (Pemdes) Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pengajian rutin malam Rabu.

Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah unsur pemerintahan, aparat keamanan, tokoh agama, serta masyarakat. 

Di antaranya Camat Campaka Dikky Sukmawijaya, S.IP., M.KP., Kapolsek Campaka, perwakilan Koramil 1904 Campaka, serta Pimpinan Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin, Abuya Hasan Asy’ari yang bertindak sebagai pemberi tausyiah utama.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.

Menurutnya, momentum Maulid Nabi tidak hanya menjadi ajang untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kecintaan dan meneladani perjuangan serta akhlak beliau.

"Pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dilaksanakan bertepatan dengan pengajian rutin malam Rabu. Saya berharap semua warga masyarakat untuk turut andil dalam mengagungkan kelahiran junjungan seluruh alam, Nabi Muhammad SAW, agar keberkahan dan kecintaan kepada beliau tetap langgeng di hati kita," ujar Asep Saepul Bahrie.

Sementara itu, Camat Campaka Dikky Sukmawijaya menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau ritual tahunan semata.

Menurutnya, nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, khususnya dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat.

"Pelaksanaan Maulid Nabi bukan saja memperingati, tapi menjadi suri tauladan untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana membangun akhlak manusia sehingga tercipta budaya silih asah, silih asih, dan silih asuh," tegas Dikky Sukmawijaya.

Ia menambahkan, meneladani akhlak Rasulullah SAW dapat menjadi kekuatan moral dalam membangun kehidupan yang lebih baik, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh, kata Dikky, juga penting untuk terus ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta lingkungan yang saling menghargai, menjaga, dan menyayangi.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cimahi semakin khidmat dengan tausyiah yang disampaikan Abuya Hasan Asy’ari. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan diharapkan dapat memberikan penguatan spiritual sekaligus menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dengan dukungan pemerintah desa, unsur Forkopimcam, tokoh agama, dan masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu memperkuat nilai-nilai keislaman serta mendorong lahirnya generasi yang memiliki akhlak mulia.

Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat Desa Cimahi juga diharapkan semakin mempererat tali silaturahmi dan bersama-sama membangun kehidupan sosial yang rukun, harmonis, serta berlandaskan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW. (Agus)

Jumat, 28 Agustus 2026

Di Tengah Muktamar NU, Kiai Maman Serukan Gerakan Sadar Nikah: “Catat, Simpan dan Lindungi

 

JOMBANG — Di tengah rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Anggota DPR RI Komisi VIII Dr. KH. Maman Imanulhaq, M.M. mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran untuk mencatatkan pernikahan secara resmi.

Menurut Kiai Maman, pencatatan pernikahan tidak semata-mata berkaitan dengan administrasi, tetapi menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi keluarga, khususnya perempuan dan anak.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Maman saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Gerakan Sadar Pencatatan Nikah di Pondok Pesantren (PP) Ar Roudloh Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut turut menghadirkan Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Jaja Zarkasyi, sebagai narasumber. Acara diikuti peserta yang mayoritas merupakan alumni Tambakberas.

Tuan rumah kegiatan, Gus Muhammad Iqbal Firdaus atau Gus Iqbal, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menilai pencatatan pernikahan merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang kokoh secara agama sekaligus memiliki kepastian hukum.

“Pesantren memiliki tanggung jawab untuk membekali generasi muda bukan hanya dengan ilmu agama, tetapi juga dengan pemahaman tentang kehidupan sosial dan tanggung jawab dalam membangun keluarga,” ujar Gus Iqbal.

Menurut Gus Iqbal, kesadaran mengenai pentingnya pencatatan pernikahan perlu ditanamkan sejak seseorang mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga.

Ia menegaskan, menjalankan ajaran agama dan menaati aturan negara bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

“Keluarga yang kuat harus dibangun dengan ilmu, tanggung jawab dan kesadaran. Karena itu, pencatatan pernikahan menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan,” katanya.

Di hadapan para peserta, Kiai Maman menjelaskan bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekadar persoalan akad yang sah. Pernikahan merupakan mitsaqan ghalizhan, atau perjanjian yang kokoh, yang melahirkan tanggung jawab moral, sosial dan hukum.

Karena itu, menurut dia, setiap pasangan perlu memastikan hak dan kewajiban dalam kehidupan keluarga memperoleh perlindungan yang memadai.

“Pernikahan adalah ibadah, keluarga adalah amanah, dan pencatatan merupakan bentuk ikhtiar untuk memberikan perlindungan,” kata Kiai Maman, yang merupakan lulusan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Ia mengingatkan, pentingnya dokumen perkawinan sering kali baru dirasakan ketika keluarga menghadapi persoalan, mulai dari perceraian, sengketa harta, urusan waris hingga kebutuhan administrasi anak.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu persoalan muncul untuk memastikan status dan dokumen pernikahan mereka.

“Jangan menunggu persoalan datang baru mencari bukti perkawinan. Pencatatan harus dilakukan sejak awal sebagai bagian dari tanggung jawab membangun keluarga,” ujarnya.

Kiai Maman juga melihat pencatatan pernikahan dari perspektif maqashid syariah. Menurutnya, pencatatan berkaitan dengan upaya menjaga keturunan (hifz al-nasl) dan menjaga harta (hifz al-mal), sekaligus memberikan kepastian terhadap hak-hak anggota keluarga.

Ia juga mengaitkan pentingnya dokumentasi dengan semangat pencatatan dalam QS Al-Baqarah ayat 282 yang menekankan pentingnya dokumentasi untuk menjaga hak dan mencegah terjadinya perselisihan.

Sementara itu, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Jaja Zarkasyi mengatakan, keluarga sakinah perlu dipersiapkan sejak sebelum akad pernikahan.

Menurut Jaja, calon pengantin perlu memahami hak dan kewajiban suami-istri, membangun komunikasi yang sehat, memiliki kesiapan mental serta memahami aspek hukum perkawinan.

“Pencatatan nikah menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan keluarga memperoleh perlindungan hukum,” ujarnya.

Jaja juga mendorong agar gerakan sadar pencatatan nikah tidak hanya menjadi tanggung jawab Kantor Urusan Agama (KUA), tetapi melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Mulai dari tokoh agama, pesantren, pemerintah daerah, pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan hingga keluarga dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.

Pengasuh Ponpes Ar Roudloh, Nyai Hj. Ummu Hanifah, menambahkan bahwa membangun keluarga sakinah membutuhkan kesadaran dan kesiapan dari kedua pasangan.

Menurutnya, perempuan dan anak harus menjadi bagian penting dalam upaya membangun keluarga yang sehat dan terlindungi.

“Keluarga bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat pertama untuk menanamkan nilai agama, akhlak dan kasih sayang. Karena itu, setiap pasangan harus memahami tanggung jawabnya sejak awal, termasuk memastikan pernikahannya tercatat dengan baik,” tuturnya.

Sebagai Anggota DPR RI Komisi VIII, Kiai Maman menegaskan pentingnya kehadiran negara melalui regulasi, anggaran, pengawasan dan pelayanan publik yang mudah diakses masyarakat.

Ia berharap proses pencatatan pernikahan dapat dilakukan secara mudah, cepat dan terjangkau sehingga masyarakat tidak kehilangan hak-haknya hanya karena persoalan administrasi.

Dewan Syuro DPP PKB itu kemudian mengajak masyarakat menjadikan kesadaran mencatatkan pernikahan sebagai kebiasaan bersama melalui empat langkah sederhana: Sadar, Catat, Simpan dan Lindungi.

“Nikah adalah ibadah. Keluarga adalah amanah. Pencatatan adalah ikhtiar perlindungan. Dengan pencatatan, kita bukan hanya menjaga dokumen, tetapi juga menjaga masa depan keluarga dan anak-anak kita,” pungkas Kiai Maman.

Selasa, 25 Agustus 2026

Semarak Maulid Nabi di Ponpes Al-Haromain, Ulama dan Tokoh Masyarakat Serukan Penguatan Iman

PURWAKARTA — Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Haromain Cirangin, Kabupaten Purwakarta, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh semarak dan khidmat. Kegiatan tersebut diikuti antusias oleh jamaah dan masyarakat sekitar.

Peringatan Maulid Nabi menghadirkan penceramah Al-Habib Hamid bin Abu Bakar Barakwan, Khodimul Majelis Rasulullah SAW. Kehadiran Habib Hamid menambah kekhidmatan acara sekaligus menjadi daya tarik bagi jamaah yang hadir.

Dalam tausyiahnya, Al-Habib Hamid mengajak umat Islam untuk menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan Maulid, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al-Haromain Cirangin, Abuya Hasan Asy’ari, mengajak masyarakat menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana introspeksi atau muhasabah untuk memperbaiki diri.

“Ramaikan dan gebyarkanlah selama bulan kelahiran Nabi. Karena dengan mencintai beliau, kita berharap akan mendapatkan syafaat nanti di Yaumul Akhirat,” ujar Abuya Hasan Asy’ari.

Ia menegaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW hendaknya tidak berhenti pada simbol maupun seremonial. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan dengan berusaha mengikuti sunnah dan meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie. Dalam kesempatan itu, Asep mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.

“Apalagi di bulan kelahiran Rasulullah, mari kita lebih mensyiarkan kecintaan kepada beliau. Ini adalah momentum tepat untuk memperkuat spiritualitas kita sebagai hamba Allah,” tegas Asep Saepul Bahrie.

Antusiasme jamaah terlihat sejak awal hingga berakhirnya kegiatan. Lantunan sholawat, tausyiah keagamaan, serta kehadiran ulama dan tokoh masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi di Ponpes Al-Haromain Cirangin tidak hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai keimanan masyarakat Desa Cimahi dan sekitarnya. (AGUS)

Rabu, 19 Agustus 2026

Ribuan Sholawat Menggema di Cimahi, Kades Asep Dorong Desa Makin Religius dan Berakhlak

PURWAKARTA – Pemerintah Desa Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, menunjukkan dukungannya terhadap kegiatan syiar keagamaan dengan menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid Jamie Alfalah, Lingkungan Citenjo.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah desa terhadap berbagai kegiatan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Asep mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat dalam menyemarakkan kegiatan keagamaan. Menurutnya, kegiatan seperti peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi sarana memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan masyarakat.

«“Saya merasa bangga dengan kegiatan syiar keagamaan yang gebyar di wilayah Desa Cimahi. Ini sejalan dengan salah satu program Pemdes Cimahi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan melalui berbagai kegiatan keagamaan,” ujar Asep.»

Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat. Acara diawali dengan pembacaan Deba atau puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakan para santri Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin.

Lantunan sholawat dan puji-pujian tersebut mengiringi suasana religius sebelum jamaah mengikuti acara inti berupa tausyiah.

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin, Abuya Hasan Asy’ari, hadir sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan tausyiah mengenai keteladanan Rasulullah SAW, termasuk nilai-nilai spiritual dan sosial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Para jamaah tampak antusias menyimak tausyiah hingga kegiatan berlangsung. Masjid Jamie Alfalah dipenuhi masyarakat dari berbagai lapisan yang mengikuti rangkaian acara dengan tertib dan khidmat.

Tingginya partisipasi warga tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Cimahi.

Kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh agama, masyarakat, dan lembaga pendidikan keagamaan seperti Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin diharapkan dapat terus diperkuat.

Melalui berbagai kegiatan keagamaan, Desa Cimahi diharapkan tidak hanya mampu menjaga tradisi syiar Islam, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang semakin religius, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak.

Dengan demikian, semangat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah sekaligus mempererat persaudaraan di tengah masyarakat. (AGUS)

Minggu, 16 Agustus 2026

Semarak HUT ke-81 RI, Yayasan Kasih Bapa Gelar Bakti Sosial Gratis di Semarang


SEMARANG – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Kasih Bapa–Tangerang menggelar kegiatan pelayanan sosial bagi masyarakat di Kota Semarang.

Kegiatan sosial tersebut dilaksanakan kepada jemaat Gereja GIA yang berlokasi di Jalan Cemara 2 Nomor 24, Banyumanik, Kota Semarang, yang dipimpin oleh Pdt. Andreas selaku Gembala Sidang. (Minggu, 16/08/2026)

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dan jemaat mendapatkan sejumlah layanan sosial dan pemeriksaan kesehatan secara gratis. Di antaranya pemberian kacamata gratis, pemeriksaan tekanan darah, pengecekan gula darah, hingga pemeriksaan kadar kolesterol.

Pimpinan Yayasan Kasih Bapa, Ihwan Mulianto, yang akrab disapa Pak Mul, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen yayasan untuk hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurut Pak Mul, momentum peringatan kemerdekaan tidak hanya dapat diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aksi sosial dan pelayanan kepada sesama.

“Kasih Bapa adalah sebuah yayasan sosial yang rindu melayani masyarakat. Kami ingin kehadiran yayasan dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat,” ujar Pak Mul.

Ia berharap kegiatan sosial tersebut dapat terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Selain pemeriksaan kesehatan, pemberian kacamata gratis menjadi salah satu bentuk pelayanan yang mendapat perhatian. Layanan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami kendala penglihatan sehingga aktivitas sehari-hari dapat dilakukan dengan lebih baik.

Sementara itu, salah satu anggota Yayasan Kasih Bapa, Yosep Setiawan, mengaku merasa bahagia dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial tersebut.

“Saya sungguh merasa bahagia dapat ikut serta berpartisipasi dalam acara ini. Bisa berbagi dan memberikan pelayanan kepada sesama merupakan pengalaman yang sangat berarti,” kata Yosep.

Ia menilai kegiatan sosial semacam ini memiliki nilai positif karena tidak hanya memberikan bantuan secara langsung, tetapi juga mempererat kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan pelayanan sosial Yayasan Kasih Bapa tersebut menjadi salah satu bentuk pengisian momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan semangat berbagi, kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Kasih Bapa berharap semangat kemerdekaan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (YOSEP)

Selasa, 04 Agustus 2026

Tak Hanya Urus Pemerintahan, Pemdes Cimahi Perkuat Spiritual Lewat Kajian Safinatun Najah

 

PURWAKARTA – Pemerintah Desa (Pemdes) Cimahi kembali menggelar pengajian rutin bulanan sebagai upaya meningkatkan kualitas keimanan dan spiritual aparatur desa serta masyarakat. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menghadirkan penceramah Abuya Hasan Asy'ari dan diikuti oleh seluruh aparatur Pemerintah Desa Cimahi bersama warga setempat.

Dalam tausiyahnya, Abuya Hasan Asy'ari mengupas hakikat keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa iman sejati berawal dari keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati (tashdiqul qalbi), bukan sekadar ucapan di lisan.

Menurutnya, seseorang yang memiliki keyakinan penuh terhadap keesaan dan kebesaran Allah SWT akan memperoleh ketenangan jiwa dalam menjalani berbagai persoalan kehidupan.

"Keimanan itu harus dibuktikan dengan ketenangan hati. Ketika kita benar-benar menyadari keagungan Allah SWT, maka segala urusan dunia akan terasa lebih ringan karena kita bersandar hanya kepada-Nya," ujar Abuya Hasan Asy'ari.

Selain menyampaikan materi tentang keimanan, Abuya Hasan juga mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kitab klasik Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadrami. 

Kitab tersebut merupakan salah satu rujukan utama dalam mempelajari ilmu fikih dasar, khususnya mengenai tata cara ibadah sesuai tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menegaskan bahwa pemahaman fikih yang benar akan melahirkan ibadah yang lebih khusyuk dan menjadi bekal dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai syariat Islam.

Pengajian berlangsung dengan penuh antusias. Para aparatur desa dan masyarakat tampak menyimak setiap materi yang disampaikan, bahkan sebagian peserta terlihat mencatat poin-poin penting selama tausiyah berlangsung.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, mengatakan kegiatan keagamaan seperti ini memiliki peran penting dalam membangun keseimbangan antara pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembinaan spiritual para aparatur desa.

"Dengan mengikuti pengajian dan mendalami kitab Safinatun Najah, kita diharapkan tidak hanya mampu mengelola pemerintahan desa dengan baik, tetapi juga mampu membina diri agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa di hadapan Allah SWT," ujarnya.

Melalui pengajian rutin bulanan ini, Pemerintah Desa Cimahi menegaskan komitmennya untuk terus membangun lingkungan pemerintahan yang religius, berakhlak mulia, serta memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. (Agus)

Rabu, 27 Mei 2026

Spirit Khutbah Wada’: Kiai Maman Ajak Umat Bangun Peradaban dengan Kasih Sayang dan Ilmu



MAJALENGKA - Di hadapan anggota DPR RI yang menjadi Pengawas Haji 2026, Maman Imanulhaq menegaskan bahwa inti ajaran Nabi Muhammad SAW adalah spiritualitas kemanusiaan, yakni agama yang menjaga martabat manusia, menebarkan kasih sayang, serta membangun peradaban.

Menurutnya, pesan kemanusiaan itu telah diwariskan Rasulullah SAW melalui Khutbah Wada’ yang disampaikan di Padang Arafah pada tahun 632 M. Khutbah tersebut menjadi fondasi penting dalam ajaran Islam yang menempatkan manusia pada posisi mulia tanpa membedakan suku, ras, maupun warna kulit.

Dalam khutbahnya, Rasulullah SAW menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan manusia adalah suci serta tidak boleh dirusak oleh kebencian, kekuasaan, ataupun fanatisme.

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah suci sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini, dan negeri ini.”

Rasulullah SAW juga menekankan persamaan derajat seluruh manusia di hadapan Tuhan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia, Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab ataupun non-Arab atas Arab, tidak pula yang putih atas yang hitam kecuali karena takwa.”

Kiai Maman menjelaskan, di tengah masyarakat yang kala itu dibangun atas dasar kasta dan kesukuan, Islam hadir membawa revolusi kemanusiaan. Salah satu simbol kuatnya adalah dimuliakannya Bilal bin Rabahah, seorang bekas budak berkulit hitam, hingga dipercaya mengumandangkan azan dari atas Ka’bah.

“Hal itu bukan sekadar simbol ibadah, tetapi deklarasi bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh iman dan akhlak, bukan warna kulit maupun keturunan,” ujarnya.

Ia juga mengutip pandangan penulis dan sejarawan asal Inggris, Karen Armstrong, yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai sosok pembawa perdamaian.

“Muhammad was not a man of violence. His essential genius was peace-making.”

Menurut Kiai Maman, kejeniusan Rasulullah SAW terletak pada kemampuannya membangun perdamaian, merawat welas asih, dan menghadirkan masyarakat berkeadaban sebagaimana tercermin dalam Piagam Madinah.

Spirit Arafah itu, lanjutnya, kemudian melahirkan peradaban besar Islam di Andalusia setelah dibuka oleh Thariq bin Ziyad pada tahun 711 M. Namun kejayaan Islam di Andalusia tidak dibangun semata-mata dengan kekuatan militer, melainkan melalui ilmu pengetahuan, toleransi, dan akhlak.

Kota-kota seperti Cordoba, Granada, dan Sevilla menjadi pusat cahaya peradaban dunia ketika sebagian Eropa masih berada dalam masa kegelapan. Dari rahim peradaban Islam lahir banyak ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina dengan karya The Canon of Medicine, Al-Khawarizmi dengan ilmu aljabar dan algoritma, serta Ibnu Rusyd yang dikenal melalui gagasan filsafat dan rasionalitasnya.

Selain itu, nama Imam Asy-Syathibi turut dikenang melalui gagasan besar Maqāṣid al-Syarī‘ah yang menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan utama syariat.

Masjid Cordoba dan Istana Alhambra, menurut Kiai Maman, menjadi bukti bahwa iman mampu melahirkan keindahan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan peradaban.

Namun sejarah juga mencatat bahwa peradaban besar dapat runtuh ketika persatuan melemah dan orientasi spiritual memudar. Granada jatuh pada tahun 1492 bukan karena lemahnya bangunan fisik, melainkan karena rapuhnya jiwa dan hilangnya visi peradaban.

Karena itu, pesan Khutbah Wada’ dinilai tetap relevan hingga hari ini. Masa depan umat, kata Kiai Maman, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kemanusiaan, ilmu pengetahuan, persaudaraan, serta akhlak.

“Arafah mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus melahirkan kasih sayang, keadilan, dan peradaban,” pungkasnya. (RED)

Selasa, 21 April 2026

Fakta Tersembunyi Pura Kuno Nusantara: Sejarah, Mitos, dan Jejak Peradaban Tertua



RELIGI - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya dan spiritual yang mendalam. Salah satu warisan yang masih terjaga hingga kini adalah keberadaan pura-pura kuno yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya di Bali dan Jawa. 

Pura-pura ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, arkeologi, serta mitologi yang diwariskan lintas generasi.

Berikut rangkuman sejumlah pura tertua dan paling bersejarah di Nusantara yang hingga kini masih menjadi pusat spiritual dan budaya:

1. Pura Puncak Penulisan

Pura yang juga dikenal sebagai Pura Tegeh, dan Pura ini dianggap sebagai salah satu pura tertua di Bali, dengan jejak arkeologi yang menunjukkan eksistensinya jauh sebelum pengaruh Hindu Majapahit masuk.

Perkiraan Tahun: Dibangun sekitar tahun 300 Masehi (Zaman Perunggu) dan berkembang pesat hingga abad ke-10 sampai 1343 Masehi.

Terletak di Bukit Penulisan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Mitos/Sejarah: Pura ini terletak di puncak bukit tertinggi di Kintamani. Mitosnya berkaitan dengan konsep Gunung Suci sebagai tempat persemayaman para dewa dan roh leluhur. Di tingkat tertinggi (Sunya Loka), pura ini digunakan untuk memuja Dewa Siwa.

2. Pura Agung Besakih (The Mother Temple)

Dikenal sebagai "Ibu dari seluruh Pura" di Bali, Besakih merupakan kompleks pura terbesar dan paling suci.

Perkiraan Tahun: Diperkirakan mulai berdiri sekitar abad ke-8 Masehi, namun secara formal dikaitkan dengan kedatangan Rsi Markandeya pada tahun 1284 Masehi.

Alamat Lengkap: Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali

Mitos/Sejarah: Nama "Besakih" berasal dari bahasa Sanskerta Wasuki atau Jawa Kuno Basuki yang berarti selamat. Mitosnya sangat erat dengan Naga Basuki yang dipercaya sebagai penyeimbang Gunung Mandara. Rsi Markandeya membangun pura ini setelah mendapat petunjuk gaib saat bermeditasi di Dieng.

3. Pura Lempuyang Luhur

Salah satu dari Sad Kahyangan Jagat (enam pura utama dunia) yang dianggap sebagai pilar spiritual Pulau Bali.

Perkiraan Tahun: Merupakan salah satu pura tertua, namun tanggal pastinya sulit dipastikan. Beberapa sumber menyebutkan pura ini sudah ada sejak zaman pra-Hindu sebagai tempat pemujaan leluhur.

Alamat Lengkap: Lereng Gunung Lempuyang, Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Mitos/Sejarah: Mitosnya berkaitan dengan perjalanan spiritual untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Pendaki atau pemedek (umat) dilarang mengeluh saat menapaki ribuan anak tangga menuju puncak, karena diyakini bahwa ketabahan adalah ujian kesucian hati sebelum menghadap Tuhan.

4. Pura Mandara Giri Semeru Agung

Meskipun pemugaran besarnya dilakukan di era modern, pura ini secara spiritual dianggap sebagai salah satu yang paling tua dan "dituakan" di Nusantara karena letaknya di kaki Gunung Semeru.

Perkiraan Tahun: Pembangunan permanen dimulai sekitar tahun 1960-an hingga diresmikan pada 1992, namun lokasinya dianggap suci sejak masa kerajaan kuno.

Alamat Lengkap: Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Mitos/Sejarah: Terkait dengan mitologi Gunung Meru (Himalaya) yang bagian puncaknya dipotong dan dibawa ke Nusantara untuk menstabilkan Pulau Jawa. 

Gunung Semeru dipercaya sebagai "Bapak" dari Gunung Agung di Bali, sehingga umat Hindu Bali sering melakukan perjalanan ziarah ke sini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

5. Pura Puseh Penegil Dharma

Pura ini memiliki nilai sejarah tinggi sebagai cikal bakal tatanan masyarakat di Bali utara.

Perkiraan Tahun: Diperkirakan berdiri sekitar tahun 915 Masehi pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Alamat Lengkap: Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Mitos/Sejarah: Dikenal sebagai pura yang menjadi landasan penyatuan berbagai sekte agama di Bali menjadi satu tatanan Hindu Bali yang harmonis.

Keberadaan pura-pura kuno tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki sistem kepercayaan dan tatanan spiritual yang kuat sejak masa lampau. 

Hingga kini, pura tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelestarian budaya, sejarah, serta nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (Red)

Jumat, 17 April 2026

Terungkap! Gereja Sion Berdiri Sejak 1600-an, Jadi Saksi Bisu Sejarah Nusantara



RELIGI - Selain Gereja Sion yang dikenal sebagai gereja tertua di Indonesia, sejumlah bangunan gereja bersejarah lain juga tersebar di berbagai daerah, menyimpan kisah panjang perjalanan iman sekaligus warisan budaya bangsa.

Salah satunya adalah Gereja Blenduk yang berdiri megah di kawasan Kota Lama Semarang. Gereja ini pertama kali dibangun pada tahun 1753 oleh komunitas Belanda dan mengalami renovasi besar pada tahun 1894.

Nama “Blenduk” sendiri berasal dari bentuk kubahnya yang bulat (dalam bahasa Jawa: mblenduk). Arsitek yang terlibat dalam pembaruan bangunan ini adalah H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas, yang mengusung gaya neo-klasik Eropa.

Tak kalah bersejarah, di wilayah timur Indonesia berdiri Gereja Tua Immanuel Hila yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1780 oleh bangsa Portugis.

Gereja ini menjadi salah satu simbol awal penyebaran agama Kristen di kawasan Maluku, yang saat itu merupakan pusat perdagangan rempah dunia. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, struktur utamanya tetap dipertahankan.

Sementara itu, di tanah Papua terdapat Gereja Tua Wasior yang menjadi bukti masuknya misi zending di wilayah timur Nusantara. Gereja ini dibangun sekitar awal abad ke-20 oleh para misionaris Jerman yang datang untuk menyebarkan ajaran Kristen sekaligus pendidikan kepada masyarakat setempat.

Keberadaan gereja-gereja tua ini tidak hanya mencerminkan aktivitas keagamaan di masa lampau, tetapi juga menjadi bukti interaksi budaya antara bangsa Indonesia dengan dunia luar, mulai dari Portugis, Belanda, hingga Jerman.

Sejarawan menilai, bangunan-bangunan ini memiliki nilai penting yang harus dijaga. Selain sebagai tempat ibadah, gereja-gereja tersebut kini juga berfungsi sebagai cagar budaya dan destinasi wisata sejarah yang memberikan edukasi lintas generasi.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan gereja-gereja tua ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki warisan sejarah yang kaya dan beragam, yang patut dilestarikan sebagai identitas bangsa. (Red)

Kamis, 16 April 2026

Merinding! Suara Misterius & Bayangan Putih di Kuil Ini Bikin Warga Tak Berani Datang Malam Hari



RELIGI - Sejumlah kuil dan klenteng tua di wilayah Jawa Barat kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Bukan hanya karena nilai sejarah dan arsitekturnya, tetapi juga kisah-kisah mistis yang berkembang dari mulut ke mulut selama puluhan tahun.

Cerita tersebut hidup kuat di tengah warga lokal, terutama di kota-kota seperti Cirebon dan Bandung, yang dikenal memiliki klenteng-klenteng berusia ratusan tahun.

Salah satu yang paling sering disebut adalah Vihara Dewi Welas Asih. Klenteng yang diyakini sebagai salah satu tertua di Indonesia ini tak lepas dari cerita spiritual.

Warga sekitar mengaku kerap merasakan suasana berbeda, terutama saat malam hari. Beberapa menyebut adanya suara langkah kaki tanpa wujud hingga aroma dupa yang muncul tiba-tiba.

"Kalau malam, suasananya memang beda. Tenang, tapi kadang bikin merinding,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Cerita serupa juga muncul dari Klenteng Hok Tek Bio. Selain dikenal sebagai tempat ibadah untuk memohon rezeki, sejumlah pengunjung mengaku mengalami hal tak biasa.

Mulai dari rasa pusing mendadak hingga perasaan seperti diawasi saat berada di dalam area klenteng.

"Katanya kalau niatnya nggak baik, biasanya nggak betah lama di dalam,” ungkap seorang pedagang di sekitar lokasi.

Di Bandung, Vihara Dharma Ramsi juga kerap disebut memiliki aura kuat. Meski berada di kawasan padat, beberapa pengunjung mengaku merasakan kesunyian yang berbeda saat memasuki ruang utama vihara.

"Ada yang bilang dadanya terasa berat. Tapi ada juga yang justru merasa tenang,” kata seorang pengurus vihara.

Fenomena ini pun mendapat tanggapan dari pemerhati budaya, Murfito Adi. Ia menilai, cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari dinamika budaya yang berkembang di masyarakat.

"Yang perlu dipahami, tempat-tempat ini adalah situs ibadah dan sejarah. Cerita mistis yang beredar lebih kepada pengalaman subjektif dan kepercayaan lokal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap menghormati fungsi utama tempat tersebut sebagai ruang spiritual.

Terlepas dari berbagai cerita yang beredar, kuil dan klenteng di Jawa Barat tetap menjadi simbol toleransi dan warisan budaya yang harus dijaga.

Bagi sebagian orang, tempat-tempat ini bukanlah lokasi angker, melainkan ruang untuk mencari ketenangan, harapan, dan doa.

Namun bagi lainnya, kisah-kisah tak kasat mata justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat tempat tersebut terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. (Red)


Rabu, 15 April 2026

5 Tempat Keramat di Jawa Barat yang Tak Pernah Sepi, Nomor 1 Jadi Pusat Ziarah Nasional



RELIGI – Sejumlah tempat keramat di Jawa Barat hingga kini masih menjadi tujuan utama ziarah masyarakat. Selain memiliki nilai spiritual, lokasi-lokasi tersebut juga menyimpan jejak sejarah panjang, khususnya terkait penyebaran Islam dan peninggalan tokoh kerajaan Sunda.

Tradisi ziarah yang terus berlangsung menunjukkan kuatnya keterikatan masyarakat terhadap nilai religius dan budaya lokal. Berikut lima tempat keramat yang paling dikenal dan kerap dikunjungi peziarah:

Salah satu yang paling populer adalah Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana. Situs ini merupakan tempat peristirahatan Sunan Gunung Jati, tokoh penting dalam penyebaran Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kompleks makam ini tidak pernah sepi, terutama menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan.

Di wilayah Tasikmalaya, terdapat Gua Safarwadi Pamijahan yang berlokasi di Desa Pamijahan. Tempat ini dikenal sebagai pusat dakwah Syekh Abdul Muhyi. Gua tersebut diyakini memiliki nilai spiritual tinggi dan sering digunakan untuk berdoa serta melakukan ritual keagamaan.

Sementara itu di Garut, peziarah banyak mendatangi makam Prabu Kian Santang yang berada di Kampung Godog. Tokoh ini dikenal dalam legenda sebagai sosok sakti dari Kerajaan Pajajaran yang kemudian menyebarkan ajaran Islam. Kompleks makamnya menjadi salah satu pusat ziarah penting di wilayah Priangan.

Tak jauh berbeda, di Kabupaten Ciamis terdapat Situs Keramat Depok yang berlokasi di Desa Depok. Situs ini dipercaya sebagai petilasan perjalanan spiritual Prabu Kian Santang. Dikelilingi pepohonan tua, suasana di lokasi ini kental dengan nuansa sakral dan sering dimanfaatkan untuk doa serta tirakat.

Adapun di Cirebon, terdapat Keramat Plangon yang berada di Desa Babakan. Kompleks ini merupakan makam tokoh penyebar Islam seperti Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan. Selain nilai religius, kawasan ini juga dikenal dengan keberadaan kera liar yang hidup di sekitar hutan, menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Fenomena ramainya ziarah ke tempat-tempat keramat ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak hanya menjaga tradisi spiritual, tetapi juga merawat warisan sejarah. Aktivitas ziarah umumnya meningkat pada malam Jumat, bulan Maulid, serta menjelang Ramadan.

Bagi sebagian masyarakat, ziarah bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa dalam perjalanan sejarah dan penyebaran agama di Tanah Pasundan. (Red)

Rabu, 01 April 2026

Ziarah Penuh Makna, Persit KCK Purwakarta Kenang Jasa Pahlawan di Usia ke-80



Purwakarta – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) ke-80 tahun 2026, Persit Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta menggelar kegiatan ziarah rombongan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sirna Raga, Jalan Terusan Industri, Kelurahan Purwamekar, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Kamis (1/4/2026) pagi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya Ketua KCK Sub Anak Ranting (4) Subdenpom 3/III Siliwangi Ny. Neni Asep Casmita, pengurus Persit Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta, Persit Cabang XII Menarmed 1, serta Persit Ranting 2 Yon Armed 9/Pasopati.

Kegiatan ziarah ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Persit KCK ke-80 yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, mengenang jasa para pahlawan, serta mempererat kebersamaan antar anggota Persit.

Komandan Kodim 0619/Purwakarta, Letkol Inf Ardha Cairova Pari Putra, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ziarah ini memiliki makna penting dalam membangun karakter dan jiwa kebangsaan.

“Ziarah ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengenang dan meneladani perjuangan para pahlawan. Kami berharap seluruh anggota Persit dapat terus menanamkan nilai-nilai patriotisme serta mendukung tugas suami dalam pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Dandim.

Ia juga menambahkan bahwa peringatan HUT Persit KCK ke-80 diharapkan menjadi penguat soliditas organisasi serta meningkatkan peran Persit dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. (FITO)

Jumat, 04 Juli 2025

Pertemuan Tokoh Lintas Agama Kuatkan Kesatuan Dan Persatuan , Kondusifitas Serta Kerukunan Umat

 


Infonas.ID | Sukabumi,-Bupati Sukabumi H. Asep Japar berkumpul bersama tokoh lintas agama se Kabupaten Sukabumi di Pendopo, Kamis, 3 Juli 2025. Kegiatan dalam rangka silaturahmi ini dihadiri juga oleh Forkopimda Sukabumi dan Staf Khusus Kementerian Hak Asasi Manusia.

Dalam kesempatan tersebut, H. Asep berterima kasih kepada semua pihak yang terus menjaga kondusifitas dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Sukabumi.
"Alhamdulillah dan terima kasih kepada semua pihak. Kita bisa bersilaturahmi memperkuat kesatuan dan persatuan serta mempererat tali persaudaraan di antara kita," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak semua pihak untuk bersama - sama berkolaborasi menegakan dan menjaga kerukunan beragama.
"Harus kita tanamkan bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak dasar yang diatur dalam undang-undang. Termasuk dalam konstitusi dan konvensi internasional tentang hak sipil politik," ucapnya.
Maka dari itu, dirinya turut prihatin atas peristiwa yang terjadi di Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, beberapa waktu lalu. H. Asep berharap peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari.
"Semoga kita semua bisa mengambil hikmah besar dari peristiwa tersebut," harapnya.
Kapolres Sukabumi AKBP Samian menegaskan, pengrusakan tempat yang terjadi di Kecamatan Cidahu, bukanlah tempat ibadah beragama. Hal itu melainkan rumah singgah atau villa yang saat itu kebetulan digunakan untuk aktifitas terkait kegiatan agama.
"Insinden di Cidahu ada yang mengaitkan ke agama ataupun SARA, berdasarkan fakta di lapangan tidak seperti itu. Tempat yang dirusak merupakan rumah singgah atau villa. Peristiwa itu terjadi akibat kesalahpahaman," tegasnya.
Oleh karena itu, dirinya meminta semua pihak untuk tidak tergiring opini dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Di Kecamatan Cidahu sendiri, sejauh ini aman, tentram, dan damai.
"Faktanya,kebebasan beribadah di Cidahu sampai sekarang terjalin dengan baik. Bahkan masyarakatnya aman, kondusif, dan tentram," ungkapnya.
Staf Khusus Kementerian Hak Asasi Manusia, Thomas Suwarta pun membenarkan peristiwa di Cidahu, Kabupaten Sukabumi akibat kesalahpahaman. Terutama mengenai istilah tempat ibadah, rumah ibadah, dan tempat pembinaan rohani.
"Ini betul -betul murni kesalahpahaman. Adanya mispersepsi dan miskomunikasi," bebernya.
Dirinya pun mengapresiasi kepolisian yang respon cepat. Sehingga bisa ditangani dan dinetrailisir dan tak berkembang.
"Ini betul-betul kesalahpahaman semata, Bangsa Indonesia ialah bangsa yang menghargai keberagaman. Kita ini Bhineka Tunggal Ika," pungkasnya. ( ADV )

Kamis, 05 September 2024

Viral di TikTok, 78 Makam Wali Palsu di Wonosobo Dibongkar

INFONAS.ID - Di Desa Ngalian, Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo, terjadi pembongkaran terhadap 78 makam yang diduga sebagai makam wali palsu.

Video aksi pembongkaran makam diunggah oleh akun TikTok @Argama Balarama dengan durasi sekitar enam menit. Hingga berita ini ditulis, video tersebut telah menerima ribuan komentar dari netizen.

Makam ini baru muncul sekitar dua tahun lalu, dan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa makam tersebut milik ulama atau wali. 

Tindakan pembongkaran dilakukan sebagai upaya mencegah penyesatan masyarakat dan untuk menjaga sejarah tetap akurat. Warga sekitar khawatir makam-makam ini bisa menjadi pusat ziarah yang keliru. 

Pembongkaran ini merupakan inisiatif bersama antara pihak desa dan aparat setempat.

Pihak desa menjelaskan bahwa makam tersebut awalnya dibangun tanpa izin dan mulai menarik perhatian warga dari berbagai daerah. Mereka datang untuk berziarah, berharap mendapatkan keberkahan dari para wali yang dipercaya dimakamkan di sana. 

Namun, klaim bahwa itu adalah makam wali ternyata tidak didasari oleh bukti sejarah atau dokumen otentik.

Camat Wadaslintang menyatakan bahwa pembongkaran ini bertujuan mencegah masyarakat terjerumus dalam keyakinan yang salah. Selain itu, langkah ini juga dilakukan untuk menghindari potensi konflik sosial yang bisa timbul jika makam tersebut terus dipertahankan. 

Makam-makam tersebut akan dikembalikan fungsinya menjadi area pemakaman umum biasa. Ke depan, pihak desa bersama aparat akan lebih waspada terhadap pembangunan atau klaim-klaim yang berpotensi menyesatkan masyarakat.

Pembongkaran makam wali palsu ini menunjukkan pentingnya verifikasi fakta dalam menjaga keaslian sejarah dan tradisi masyarakat. Warga diimbau untuk tidak mudah percaya pada klaim-klaim tanpa dasar kuat, terutama yang berhubungan dengan keagamaan. (FT)


Rabu, 21 Agustus 2024

Dewan Syuro PKB Sambangi Abuya Muhtadi, Bahas Sinergi Politik dan Keumatan

INFONAS.ID||BANTEN - Dewan Syuro DPP PKB menyambangi kediaman Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyati di kompleks Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Cidahu, Pandeglang, Banten, Rabu (21/8). Sejumlah Dewan Syuro PKB yang nampak hadir seperti Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB KH Saefullah Maksum, KH Maman Imanulhaq, KH Manarul Hidayat, serta KH Syihabuddin.

Pada pertemuan tersebut, Abuya Muhtadi menyampaikan pesan agar PKB dan PBNU kembali pada khittahnya masing-masing, PKB berjuang pada jalur politik, sementara PBNU berperan pada jalur keumatan, namun keduanya perlu bersinergi untuk kepentingan warga nahdliyin.

"Semuanya punya fungsinya masing-masing, mari kita selesaikan persoalan dengan kembali pada undang-undang. Jangan cekcok apalagi sampai menjadi tontonan di publik," kata Abuya Muhtadi kala pertemuan tersebut.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB Kiai Maman Imanulhaq mengungkapkan, kunjungan yang dilakukan kiai struktural PKB itu dilakukan untuk meminta doa kelancaran serta restu Kiai Muhtadi Dimyati pada penyelenggaraan Muktamar PKB ke-6. Selain itu, secara khusus Dewan Syuro DPP PKB pula mengundang Abuya Dimyati untuk hadir pada Muktamar PKB besok.

Kiai Maman pula menyebut, Muktamar PKB yang digelar pada tanggal 24-25 Agustus 2024 itu bakal dihadiri para kiai berpengaruh dari seluruh Tanah Air. Hal itu membuktikan bahwa PKB tidak pernah melenceng dan akan terus menjadi alat perjuangan politik para ulama untuk memperjuangkan Islam Ahsunnah wal jamaah.

Usai menggelar pertemuan, rombongan kiai struktural PKB tersebut kemudian melakukan ziarah ke Makam KH Muhammad Dimyati yang masih berlokasi di kompleks Pesantren Roudlotul Ulum.  

Untuk diketahui, Abuya KH. Ahmad Muhtadi bin Dimyathi al-Bantani atau yang lebih dikenal dengan Abuya Muhtadi adalah ulama kharismatik, mufti syafi'iyyah, dan mursyid thoriqoh syadziliyyah dari Banten. Abuya Muhtadi adalah putra Abuya Muhammad Dimyathi al-Bantani, pendiri Pondok Pesantren Roudotul Ulum Cidahu, Pandeglang. (FT)



Selasa, 13 Agustus 2024

Kiai di Jawa Barat Mempertanyakan Moralitas PBNU

INFONAS.ID||MAJALENGKA - Menjelang Muktamar PKB ke-6 pada tanggal 24-25 Agustus 2024 mendatang, manuver politik PBNU kian kentara. 

Ketua Umum PBNU, Gus Yahya yang awalnya menegasikan hubungannya dengan PKB, justru beres Pilpres mencoba mengintervensi PKB dengan membentuk Pansus PKB.

Melihat masifnya manuver Gus Yahya bersama Sekjen PBNU Saifullah Yusuf itu, Ratusan kiai se-Jawa Barat, semalam, Senin (11/8), menggelar istigasah mendoakan kelancaran Muktamar PKB yang bakal digelar di Provinsi Bali. 

Hadir sejumlah ulama kenamaan Jawa Barat seperti Kiai Hariri Cirebon, Kiai Syakur Majalengka, Kiai Jamal dari Bandung, juga banyak kiai lainnya dari berbagai wilayah Jawa Barat.

Dalam istigasah yang diadakan di Ponpes Suluk Mizani Majalengka itu, para kiai meminta PBNU untuk lebih fokus mengurusi umat ketimbang masuk dan cawe-cawe dalam urusan politik praktis.

"Ketimbang mengurusi PKB, lebih baik Gus Yahya memperbaiki kinerja PBNU yang belakangan mulai disorot publik. PBNU terlihat lebih fokus pada isu-isu politik dan kekuasaan daripada isu-isu moral dan keagamaan," kata Kiai Hariri, Senin (12/8).

Lebih lanjut Kiai Hariri menegaskan, Fokus yang berlebihan pada politik praktis membuat PBNU kehilangan fokus pada fungsi utamanya sebagai penjaga moral umat dan advokat keagamaan.

Dalam catatannya, ada beberapa isu yang meresahkan warga NU yang perlu dibereskan oleh Gus Yahya bersama Gus Ipul seperti pengelolaan tambang, cap pro zionis, gaya komunikasi, juga korupsi bekas Bendahara Umum PBNU Mardani Maming yang telah divonis 10 tahun penjara.

Keresahan para Kiai akan kepemimpinan Gus Yahya di PBNU juga dipicu oleh gaya kepemimpinannya yang dinilai otoriter. Pembekuan, pemecatan, dan likuidasi struktur Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) yang terjadi baru-baru ini menimbulkan kegelisahan di kalangan warga NU. 

Tindakan ini mencakup sekitar 40 cabang NU yang masa periodenya habis tanpa persetujuan untuk melakukan konferwil atau konfercab, sehingga PBNU menunjuk seorang karteker untuk menggantikan para ketua wilayah atau cabang yang dianggap tidak loyal.

"Salah satu contoh mencolok adalah pemecatan Ketua PWNU Jawa Timur, Marzuki Mustamar. Tindakan seperti ini dapat merusak soliditas dan harmoni di kalangan warga NU di tingkat akar rumput," imbuh Kiai Hariri.

Sementara soal cap pro zionis kepada Gus Yahya harus dijawab segera. Menurutnya, indikasi kedekataan dan kemitraan Yahya Cholil Tsaquf dengan gerakan Zionis internasional sudah tercium lama, hingga akhirnya terbuka saat kunjungannya ke Israel pada tahun 2018 silam saat menjadi Katib Aam PBNU.

Kunjungan Gus Yahya ke Israel dan pertemuannya dengan Presiden Israel, Benjamin Netanyahu, adalah tindakan yang mencederai perjuangan bangsa Palestina dan mengkhianati semangat Nahdlatul Ulama (NU) yang berkomitmen untuk memerdekakan Palestina. 

Tindakan ini adalah bentuk pengkhianatan yang tidak hanya melukai hati umat Islam Indonesia, tetapi juga merusak citra PBNU sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Kiai Syakur menuturkan, "Kedekatan dengan Zionis bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh NU. Al-Quran dan hadis mengajarkan umat Islam untuk berdiri di pihak yang tertindas, bukan merangkul penjajah. Qanun Asasi NU dan Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. 

"Tindakan Yahya Cholil Tsaquf ini tidak hanya menunjukkan ketidakpekaan terhadap penderitaan rakyat Palestina, tetapi juga menunjukkan sikap yang bertentangan dengan dasar-dasar perjuangan bangsa Indonesia," kata Kiai Syakur.

Terakhir soal pernyataan publik yang dikeluarkan oleh sejumlah pengurus PBNU dalam beberapa tahun terakhir seringkali menciptakan kegaduhan dan konflik, baik di kalangan internal NU maupun di masyarakat luas. 

Fenomena ini menimbulkan keprihatinan mendalam karena NU, sebagai organisasi ulama terbesar di Indonesia, memiliki sejarah panjang dalam menjaga marwah dan kehormatan melalui kebijakan yang bijaksana dan santun. 

Namun, belakangan ini, banyak pernyataan dari PBNU yang justru memancing kontroversi, yang pada gilirannya mempengaruhi kepercayaan dan simpati publik terhadap NU.

"PBNU harus menyadari bahwa setiap pernyataan yang dikeluarkan memiliki dampak yang luas. Pernyataan yang memancing kegaduhan akan merusak kepercayaan dan simpati publik terhadap NU. Oleh karena itu, sangat penting bagi PBNU untuk kembali ke prinsip dasar NU yang selalu menjaga kesantunan dan kebijaksanaan dalam bersikap. 

"Dengan demikian, NU dapat kembali dihormati sebagai organisasi ulama yang kompeten dan berwibawa, serta mampu menjalankan peran strategisnya dalam menjaga kedamaian dan keutuhan masyarakat Indonesia," kata Kiai Syakur menutup.
(FT)



Selasa, 09 April 2024

Kemenag Kabupaten Sukabumi Gelar Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1445 Hijriyah

 


INFONAS,ID  | Sukabumi,-Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi menggelar sidang isbat penetapan Idul Fitri 2024 atau 1 Syawal 1445 H di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Selasa, 9 April 2024.

Dewan Hisab Rukyat (DHR) Kab. Sukabumi, KH Muhamad Yahya menyatakan, rukyatul hilal di POB Cibeas terlihat pukul 17:59 sampai 18:02 WIB pada ketinggian kurang lebih 5 derajat.
"Insha Allah 1 Syawal 1445 H bertepatan dengan hari Rabu 10 April 2024," ujarnya.
Ia menyampaikan, Hasil Rukyatul hilal awal Bulan Syawal 1445 H di POB Cibeas Kab. Sukabumi dengan titik Markaz -7 derajat 4 menit 26 detik LS, 106 derajat 31 menit 52 detik BT.
Hasil Sidang isbat di POB Cibeas akan dilaporkan kepada Kementerian Agama RI untuk di Isbat kan secara nasional.
Kabag Kesra, Setda Kabupaten Sukabumi, Wawan Setiawan menambahkan, bahwa sidang isbat penetapan 1 Syawal 1445 H di POB Cibeas dipantau langsung oleh Kemenag Provinsi secara virtual.
"Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berjalan sesuai harapan. Sehingga nant hasil daripada rukyatul hilal bisa dilaporkan ke Kementerian Pusat," singkatnya.


( DR )
© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved