JAWA BARAT – Dua kabupaten yang berdampingan, Subang dan Purwakarta, menyajikan pemandangan malam yang bagaikan bumi dan langit. Alun-Alun Subang kini bertransformasi menjadi pusat energi rakyat yang terang benderang, sementara Alun-Alun Purwakarta (Maya Datar) tetap mempertahankan karakter tertutup yang sunyi dan penuh privasi.
Subang Lautan Cahaya dan Denyut Ekonomi 24 Jam
Sejak revitalisasi rampung, Alun-Alun Subang tidak pernah tidur. Dengan konsep terbuka total tanpa pagar, area ini menjadi "ruang keluarga" raksasa bagi warga.
Terang Benderang: Instalasi lampu kota dan layar LED besar menciptakan atmosfer yang aman dan meriah, bahkan hingga larut malam.
Magnet Massa: Ribuan warga memadati area setiap malam untuk bersantai, berolahraga ringan, hingga menikmati kuliner UMKM yang menjamur di sekelilingnya.
Inklusivitas: Tanpa sekat gerbang, siapa pun bisa masuk tanpa birokrasi, menjadikan alun-alun ini sebagai simbol demokrasi ruang publik yang nyata.
Purwakarta Estetika Sunyi di Balik Gerbang Tertutup
Berbanding terbalik, Alun-Alun Maya Datar di Purwakarta justru meredupkan lampu dan menutup gerbangnya saat malam tiba. Suasana gelap dan sunyi di area inti memberikan kesan yang sangat berbeda.
Eksklusivitas Budaya: Pembatasan akses ini menjaga kesakralan kompleks perkantoran Bupati dan Masjid Agung. Alun-alun berfungsi sebagai "monumen" estetika daripada tempat berkumpul massal.
Kegelapan yang Terencana: Minimnya cahaya di dalam area inti (kecuali saat ada acara besar) memberikan kesan privat dan formal, menjaga ketenangan di jantung kota.
Ketertiban Ketat: Bagi mereka yang mencari ketenangan dari hiruk pikuk, Purwakarta menawarkan pemandangan dari luar pagar yang rapi, meski interaksi fisik di dalamnya sangat terbatas oleh jam operasional.
Pesta Rakyat vs Galeri Kota
Subang menawarkan vitalitas urban yang mendorong ekonomi lokal namun berisiko pada masalah sampah dan kemacetan. Di sisi lain, Purwakarta menyajikan galeri kota yang bersih dan terjaga, namun terasa "dingin" bagi warga yang haus akan ruang interaksi yang bebas.
"Subang adalah festival yang terbuka bagi siapa saja, sedangkan Purwakarta adalah karya seni yang hanya boleh dinikmati dari jarak tertentu demi menjaga keasriannya," ungkap pengamat tata kota setempat.
Kontras ini menjadi potret bagaimana dua kepemimpinan daerah mendefinisikan "kenyamanan" bagi warganya: apakah melalui kebebasan akses yang ramai, atau ketertiban yang sunyi. (Red)
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram