-->

Jumat, 02 Januari 2026

TRAGEDI KOMEDI: SI GAGAH DAN SI BISU

TRAGEDI KOMEDI: SI GAGAH DAN SI BISU


Foto: Gambar ilustrasi 

Oleh: Mahesa Jenar 

​Selamat datang di panggung sandiwara paling mahal di kota ini. Tiketnya dibayar lunas dengan pajak rakyat, tapi tontonannya bikin sakit kepala.

​Di tengah panggung, berdiri sang pemeran utama: Tuan Eksekutif. Ia tampil begitu gagah. Dadanya dibusungkan ke depan, dagunya diangkat tinggi-tinggi. Di tangannya, ia memegang mikrofon emas, berteriak lantang, "Lihatlah! Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita naik! Kita mandiri! Kita hebat!"

​Tepuk tangan membahana. Lampu sorot menyilaukan mata. Tapi, ah, jangan lihat ke belakang punggungnya. Di sana, tertempel kertas tagihan yang menjuntai panjang sampai ke lantai. Itu bukan jubah kebesaran, Saudara. Itu Hutang.

​Tuan Eksekutif kita ini ibarat orang yang pamer baru beli mobil sport mentereng, padahal sertifikat rumahnya sudah digadaikan ke bank dan cicilan kartu kreditnya macet total. Ia gagah di podium, tapi keropos di brankas. Ia sibuk membangun tugu dan gapura, sementara kontraktor lokal menangis di pojokan karena tagihannya cuma dibayar dengan janji manis "dianggarkan tahun depan".

​Lalu, di mana para penjaga panggung? Di mana Tuan Legislatif?

​Oh, mereka ada di sana. Duduk manis di deretan kursi empuk di sisi panggung. Seharusnya, tugas mereka adalah menjadi watchdog—anjing penjaga yang menggonggong galak kalau Tuan Eksekutif mulai "mabuk" anggaran.

​Tapi, lihatlah baik-baik. Tuan Legislatif kita tidak menggonggong. Mereka bahkan tidak menggeram. Mereka tampak seperti sekumpulan kucing anggora yang kekenyangan setelah disuguhi ikan asin bernama "Dana Pokir".

​Saat Tuan Eksekutif menumpuk hutang demi proyek pencitraan, Tuan Legislatif tidak bertanya, "Bung, bayarnya pakai apa?". Tidak. Mereka justru sibuk mengangguk-angguk, mengetuk palu secepat kilat, seolah palu sidang itu adalah alat musik perkusi untuk mengiringi nyanyian sumbang sang penguasa.

​Inilah fenomena "Eksekutif Gagah, Legislatif Lemah". Sebuah anomali biologi politik: Kepala (Eksekutif) membesar tidak wajar, sementara Tulang Punggung (Legislatif) melengkung karena osteoporosis moral.

​Akibatnya? Kita hidup dalam ilusi. Kita disuguhi grafik PAD yang mendaki, padahal di bawahnya ada jurang defisit yang menganga.

​Hutang menumpuk itu bukan sekadar angka di kertas APBD. Itu adalah pajak anak cucu kita yang sudah dicuri hari ini. Itu adalah jalan berlubang yang tak kunjung ditambal karena uangnya habis buat bayar bunga pinjaman.

​Jadi, nikmatilah pertunjukan ini selagi bisa. Tuan Eksekutif sedang gagah-gagahnya menari di atas tumpukan hutang, ditemani paduan suara Tuan Legislatif yang hening dan patuh.

​Dan kita, rakyat jelata? Kita adalah penonton yang dipaksa membayar tiketnya, sambil berdoa semoga panggung ini tidak rubuh menimpa kepala kita semua.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved