PURWAKARTA – Langkah kreatif Bupati Purwakarta dalam mengekspresikan diri lewat seni musik baru-baru ini justru memicu gelombang perbincangan hangat di tengah masyarakat. Karya lagu terbaru yang diciptakan oleh orang nomor satu di Purwakarta tersebut menuai sorotan tajam karena liriknya yang dinilai sebagian pihak "nyeleneh" bahkan dianggap menjurus pada pelecehan terhadap kaum perempuan.
Menanggapi kontroversi yang tengah bergulir, Mahesa Jenar, angkat bicara. Ia menilai fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengenai motif dan sensitivitas di balik pembuatan karya tersebut.
"Kita harus melihat ini dari dua kemungkinan sudut pandang. Apakah ini sebuah gimmick politik dan strategi komunikasi yang sengaja dirancang untuk memancing perhatian publik (shock advertising), ataukah murni sebuah ketidaksengajaan akibat kurangnya sensitivitas gender dalam proses kreatif?" ujar Mahesa Jenar.
Menurut Mahesa, jika hal ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan popularitas atau mendekatkan diri ke segmen masyarakat tertentu, maka cara ini dinilai sangat berisiko. Di era sekarang, publik—khususnya kaum perempuan—sudah semakin kritis terhadap produk digital maupun seni yang bias gender.
Di sisi lain, jika narasi lirik tersebut lahir tanpa kesengajaan, Mahesa menilai perlu adanya evaluasi mendalam dari tim komunikasi publik atau dewan kreatif yang mendampingi sang kepala daerah sebelum sebuah karya dilempar ke ranah publik.
Hingga saat ini, polemik lagu tersebut terus menggelinding di media sosial dan menjadi ruang debat terbuka. Sebagian masyarakat mendesak adanya klarifikasi resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Purwakarta guna meluruskan makna dan tujuan asli dari lagu yang kontroversial tersebut agar tidak menimbulkan salah paham yang berlarut-larut.(***)
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram