-->

Senin, 04 Mei 2026

REDAKSI BICARA: MEMASUNG ESENSI DALAM BARISAN UPACARA

REDAKSI BICARA: MEMASUNG ESENSI DALAM BARISAN UPACARA


Gambar : Ilustrasi 

​Setiap tanggal 2 Mei, kita seolah terjebak dalam sebuah ritual tahunan yang nyaris menyerupai teater kolosal. Di bawah terik matahari yang menyengat lapangan-lapangan terbuka di Purwakarta, ribuan guru diminta berdiri tegak, mendengarkan pidato tentang "Merdeka Belajar" yang dibacakan dari balik podium teduh yang sejuk.

​Namun, ada satu pertanyaan besar yang selalu luput dari naskah pidato pejabat: Di mana esensi pendidikan dalam tumpukan kuitansi sewa tenda dan sound system senilai puluhan juta rupiah?

Simbolisme yang Mematikan Logika

​Anggaran Rp50 juta mungkin terdengar kecil bagi sebuah birokrasi, namun bagi seorang guru honorer di pelosok Purwakarta, angka itu adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Mahesa Jenar benar ketika ia berujar bahwa dana tersebut lebih mulia jika mendarat di dompet para pendidik berprestasi ketimbang habis menguap bersama asap kendaraan dinas yang terparkir rapi di pinggir lapangan.

​Kita sering kali lebih sibuk merayakan "bungkus" pendidikan daripada membenahi "isinya". Kita lebih bangga melihat barisan yang rapi di lapangan daripada melihat dapur guru yang berasap. Saat anggaran daerah terkuras untuk menyewa panggung megah dan mencetak baliho wajah pejabat yang tersenyum lebar, kita sebenarnya sedang mempertontonkan sebuah ironi yang menyakitkan.

Pendidikan Bukan Pertunjukan

esensi hardiknas yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara adalah soal pembebasan dan kesejahteraan batin serta lahiriah. Pendidikan tidak akan pernah merdeka jika para pengajarnya masih dikejar bayang-bayang utang hanya untuk sekadar bertahan hidup sampai akhir bulan.

  • ​Apakah keringat guru honorer yang berdiri di barisan paling belakang itu dihargai setimpal dengan nasi kotak mewah di meja VIP?
  • ​Apakah piagam kertas yang dibagikan secara simbolis bisa membayar biaya sekolah anak-anak mereka sendiri?

Momentum untuk Berbenah

​Pemerintah Kabupaten Purwakarta seharusnya memiliki keberanian untuk mendobrak tradisi usang ini. Menghormati Hardiknas tidak harus dengan pengerahan massa. Menghormati Hardiknas berarti memastikan bahwa guru tidak lagi dianggap sebagai "pahlawan" yang harus selalu berkorban dalam kemiskinan, sementara birokrasi berpesta di atas nama dedikasi mereka.

​Sudah saatnya upacara di lapangan terbuka yang menelan biaya puluhan juta itu dipensiunkan. Gantilah dengan kebijakan yang menyentuh akar rumput. Berikan bonus tunai, subsidi kesehatan, atau akses literasi digital bagi mereka yang benar-benar berjuang di barisan depan kelas, bukan barisan depan lapangan.

​Sebab, pendidikan yang maju tidak dibangun dari atas panggung pidato, melainkan dari kesejahteraan guru yang terjaga di balik meja kelas. Jangan biarkan Hardiknas hanya menjadi seremoni tanpa hati, yang megah di mata kamera namun hampa di perut para pendidik.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved