JAKARTA - Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, memberikan klarifikasi terkait ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang belakangan menjadi sorotan publik. Klarifikasi tersebut disampaikan pada Sabtu, 18 April 2026, dalam konferensi pers yang berlangsung di kediamannya di kawasan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dalam keterangannya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa ceramah yang disampaikannya di UGM bukan merupakan bentuk keberpihakan politik kepada pihak tertentu, melainkan pandangan sebagai tokoh nasional mengenai kondisi bangsa, demokrasi, serta pentingnya menjaga persatuan nasional.
Ia menjelaskan, kampus merupakan ruang diskusi terbuka yang memiliki peran penting dalam menjaga tradisi intelektual dan kebebasan berpikir.
Menurutnya, berbagai gagasan, kritik, serta pandangan terhadap situasi politik nasional seharusnya dapat disampaikan secara akademis, objektif, dan bertanggung jawab.
Jusuf Kalla juga menyoroti pentingnya demokrasi yang sehat melalui ruang dialog yang terbuka antara pemerintah, masyarakat, dan kalangan akademisi.
Ia menilai bahwa kritik terhadap pemerintah maupun kondisi politik nasional tidak selalu berarti serangan terhadap pihak tertentu, melainkan bagian dari mekanisme kontrol publik dalam sistem demokrasi.
Terkait polemik ceramahnya yang menyinggung istilah “mati syahid” dan konflik agama, Jusuf Kalla menegaskan bahwa pernyataannya telah dipotong di luar konteks.
Ia menjelaskan bahwa yang dibahas dalam ceramah tersebut adalah upaya perdamaian serta pembelajaran dari konflik sosial seperti yang pernah terjadi di Ambon dan Poso, bukan penistaan agama maupun provokasi terhadap kelompok tertentu.
Menurutnya, seorang pemimpin harus siap menerima kritik, masukan, serta perbedaan pandangan dari masyarakat.
Oleh karena itu, ia berharap publik tidak salah menafsirkan isi ceramahnya sebagai manuver politik, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa dan kualitas demokrasi di Indonesia.
Melalui klarifikasi tersebut, Jusuf Kalla menegaskan posisinya sebagai negarawan yang menyampaikan pandangan demi kepentingan nasional, bukan sebagai bagian dari kontestasi politik sesaat. (Red)
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram