-->

Sabtu, 03 Januari 2026

Feature: "Kado" Pahit Awal Tahun untuk Sekda Baru: Antara Target Jeblok dan Hantu Tunda Bayar

Feature: "Kado" Pahit Awal Tahun untuk Sekda Baru: Antara Target Jeblok dan Hantu Tunda Bayar


Foto: Ir.Sri Jaya Midan.MP. Sekda Purwakarta 

​Penulis: Mahesa Jenar 

Purwakarta, 3 Januari 2026 — Kembang api tahun baru sudah padam, terompet sudah menjadi sampah, dan euforia pergantian tahun perlahan menguap. Bagi sebagian orang, 2026 adalah lembaran putih yang siap ditulis dengan harapan baru. Namun, bagi Sekretaris Daerah (Sekda) baru, meja kerjanya tidaklah kosong dan bersih.

​Di atas meja "Jenderal ASN" itu, telah menumpuk sebuah bungkusan besar. Bukan parsel berisi buah-buahan segar atau keramik mahal, melainkan sebuah kotak pandora bernama: Warisan Masalah.

​Ini adalah "hadiah" istimewa menyambut tahun 2026. Sebuah paket lengkap berisi capaian target tahun sebelumnya yang jeblok dan momok menakutkan bernama tunda bayar.

​Selamat Datang di "Hutan Belantara" Anggaran

​Tidak ada masa bulan madu bagi Sekda baru. Kursi empuk di kantor sekretariat daerah itu menyimpan paku-paku tajam persoalan fiskal.

​Isu Tunda Bayar menjadi menu pembuka yang paling tidak sedap. Ini bukan sekadar angka di atas kertas neraca, melainkan jeritan para kontraktor pihak ketiga yang modalnya tertahan. Tunda bayar adalah efek domino; ketika pemerintah gagal membayar tepat waktu, perputaran ekonomi lokal tersendat, kepercayaan publik merosot, dan kredibilitas pemerintah daerah dipertaruhkan.

"Bagaimana mau lari kencang di 2026 jika kaki birokrasi masih terbelenggu rantai utang pekerjaan tahun lalu?"


​Sang Sekda baru dipaksa menjadi pesulap. Ia harus memutar otak menyeimbangkan arus kas (cash flow) yang "senin-kemis", memprioritaskan belanja wajib, sembari menghadapi tagihan-tagihan yang menumpuk di depan mata.

​Rapor Merah dan Target yang Meleset

​Jika tunda bayar adalah masalah di hilir, maka Capaian Target yang Jeblok adalah masalah di hulu.

​Evaluasi kinerja tahun sebelumnya menyisakan rapor merah di berbagai sektor. Entah itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang jauh panggang dari api, atau serapan anggaran yang menumpuk di akhir tahun karena perencanaan yang buruk.

​Sekda baru mewarisi mesin birokrasi yang mungkin bensinnya bocor atau mesinnya tua. Target-target pembangunan yang tidak tercapai bukan hanya statistik, itu adalah representasi dari jalan yang belum diperbaiki, pelayanan kesehatan yang belum maksimal, atau bansos yang tidak tepat sasaran.

​Ujian Sang "Koki" Anggaran

​Di sinilah letak ujian sebenarnya bagi kapasitas manajerial Sekda baru di tahun 2026.

​Sebagai Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Sekda bukan hanya administrator, ia adalah "Koki". Ia harus memasak dengan bahan-bahan yang terbatas (anggaran defisit), menggunakan alat masak yang mungkin usang (SDM yang kurang kompeten), namun dituntut menyajikan hidangan lezat (pelayanan publik prima) bagi masyarakat.

​Strategi apa yang akan diambil?

  • ​Apakah akan melakukan rasionalisasi anggaran besar-besaran yang tidak populer?
  • ​Mampukah ia melakukan intensifikasi pajak tanpa mencekik rakyat yang sedang susah?
  • ​Atau, sanggupkah ia menggebrak meja untuk mendisiplinkan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang kerjanya lamban?

​Epilog: Menolak Mewarisi Kegagalan

​Tahun 2026 baru saja dimulai. "Hadiah" tumpukan masalah itu sudah diterima dan tidak bisa dikembalikan. Publik kini menunggu, apakah Sekda baru akan tenggelam dalam warisan masalah tersebut, atau justru mampu mengubah tumpukan jerami basah itu menjadi emas?

​Satu hal yang pasti: tunda bayar dan target jeblok tidak bisa diselesaikan dengan pidato manis atau seremoni potong pita. Ia butuh keberanian eksekusi dan ketegasan manajemen.

​Selamat bekerja, Pak Sekda. "Hadiah" Anda menunggu untuk dibuka.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved