-->

Sabtu, 03 Januari 2026

"CATATAN POJOK TUMARITIS" ​JUDUL: "JERITAN REKANAN JADI MUSIK PENGANTAR TIDUR: Lurah Badranaya dan Pasukan Hura-Hura 'Kabur' ke Amarta di Tengah Badai Tunda Bayar"

"CATATAN POJOK TUMARITIS"  ​JUDUL: "JERITAN REKANAN JADI MUSIK PENGANTAR TIDUR: Lurah Badranaya dan Pasukan Hura-Hura 'Kabur' ke Amarta di Tengah Badai Tunda Bayar"


Foto: Ilustrasi 

Tumaritis – Syahdu benar nasib birokrasi kita. Di saat APBD sedang "batuk-batuk" parah, realisasi anjlok, dan kas daerah kosong melompong menyisakan hutang Tunda Bayar (TB) yang menggunung, ada satu sosok yang justru memilih "menenangkan diri".

​Sebut saja Lurah Badranaya (bukan nama sebenarnya, tapi rasanya semua orang tahu siapa). Sang "Pemborong Kebijakan" ini dikabarkan tengah mengepak koper, bukan berisi berkas tagihan rekanan yang menumpuk, melainkan sunscreen dan kacamata hitam.

​Bersama pasukan elitnya—kita sebut saja "Pasukan Hura-Hura"—mereka terbang ke Amarta.

Alasannya klasik: merayakan tahun baru. Atau dalam bahasa anak senja masa kini: "Healing".

Healing dari Apa?

​Mungkin Lurah Badranaya lelah. Lelah menghitung klaim sepihak prestasi 45,1 Km jalan mantap dan 8 Km perbaikan yang sering digembar-gemborkan itu. Lelah mendengar rintihan para kontraktor kecil yang harus menggadaikan SK, sertifikat rumah, hingga dikejar debt collector material karena tagihan proyek mereka tak kunjung cair.

​Sungguh sebuah ironi yang estetik.

Di Tumaritis, para rekanan sedang pusing tujuh keliling memikirkan nasib dapur yang tak lagi mengepul karena termin pembayaran macet. Sementara di Pantai Amarta, Lurah Badranaya dan Pasukan Hura-Hura mungkin sedang bersulang, menikmati deburan ombak yang suaranya mampu meredam jeritan "Mana Uang Kami?!" dari seberang pulau.

Prestasi Semu di Atas Kertas Hutang

​Klaim perbaikan infrastruktur puluhan kilometer itu kini terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Apa gunanya jalan mulus jika dibangun di atas pondasi hutang yang membuat ekonomi pihak ketiga hancur lebur?

​Kepergian rombongan ini ke Amarta di momen kritis awal tahun mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada publik dan rekanan: "Urusan perut kalian adalah derita kalian, urusan liburan kami adalah prioritas kami."

​Selamat berlibur, Lurah Badranaya. Semoga matahari Bali bisa mencairkan hati nurani, meski tak bisa mencairkan anggaran Tunda Bayar. Jangan lupa bawa oleh-oleh, syukur-syukur kalau oleh-olehnya adalah bukti transfer pelunasan hutang.

Penulis: Mahesa Jenar 

Sumber : Cerita fiksi

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved