-->

Rabu, 31 Desember 2025

TAJUK RENCANA: Pahit Manis 10 Bulan "Om Zein", Ketika Prestasi Tergerus Defisit

TAJUK RENCANA: Pahit Manis 10 Bulan "Om Zein", Ketika Prestasi Tergerus Defisit



31 Desember 2025 – Matahari terakhir di tahun 2025 akan segera terbenam. Bagi sebagian orang, ini adalah momen perayaan. Namun, bagi tata kelola pemerintahan Kabupaten Purwakarta, senja di penghujung tahun ini terasa lebih kelabu dari biasanya.

​Di meja redaksi kami, data-data berbicara lebih lantang daripada riuh rendah kembang api. Fokus kami tertuju pada satu figur sentral: Saepul Bahri SAg atau sapaan akrab "Om Zein". Sepuluh bulan telah berlalu sejak beliau memegang kemudi. Sepuluh bulan yang seharusnya cukup untuk membuktikan arah navigasi kapal besar bernama Purwakarta.

​Ada "suka", tentu saja. Kita melihat kedekatan pemimpin dengan warga, respons cepat dalam isu sosial, hingga seremonial penghargaan yang silih berganti menghiasi beranda media sosial. Wajah pemerintahan terasa lebih humanis. "Om Zein" berhasil membangun citra pemimpin yang mudah dijangkau.

​Namun, di balik "suka" itu, tersimpan "duka" yang fundamental. Dan duka itu bernama: Krisis Likuiditas.

​Redaksi mencatat, 10 bulan menjabat, pemerintahan ini dihadapkan pada realitas ekonomi yang brutal. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2025 meleset jauh dari harapan. Ibarat mesin, bahan bakarnya tekor. Akibatnya fatal. Roda pembangunan tersendat bukan karena ketiadaan rencana, tapi ketiadaan dana.

​Istilah Tunda Bayar kembali menjadi hantu yang menakutkan. Di lapangan, para pihak ketiga—kontraktor lokal yang menjadi urat nadi ekonomi daerah—menjerit. Tagihan mereka menumpuk menjadi utang daerah. Efek dominonya mengerikan: toko material tidak dibayar, tukang bangunan dirumahkan, dan daya beli masyarakat merosot.

​Tak hanya pihak luar, "jeritan" juga terdengar dari dalam gedung pemerintahan sendiri. Hak-hak pegawai yang tertunda menjadi ironi di tengah tuntutan kinerja pelayanan publik yang prima. Bagaimana bisa kita menuntut birokrat berlari kencang jika "vitamin" kesejahteraan mereka tertahan?

​Refleksi akhir tahun ini harus menjadi cermin yang jujur bagi Om Zein dan jajarannya. Bahwa popularitas tidak bisa membayar utang. Bahwa piagam penghargaan tidak bisa menambal defisit anggaran.

​Masa 10 bulan ini mungkin adalah masa "Bulan Madu" secara politis, tapi secara teknokratis, ini adalah rapor merah pengelolaan keuangan. Kegagalan mencapai target PAD bukan sekadar angka statistik, itu adalah indikator bahwa mesin pendapatan daerah sedang sakit, atau mungkin bocor.

​Memasuki 2026 besok pagi, Purwakarta tidak butuh sekadar resolusi klise. Kita butuh solusi konkret. Utang tahun ini akan menjadi beban (carry over) yang memangkas ruang gerak anggaran tahun depan. Ikat pinggang harus dikencangkan.

​Ini adalah ujian kepemimpinan yang sesungguhnya bagi Om Zein. Publik menanti, apakah nakhoda ini mampu membawa kapal keluar dari badai utang, atau kita akan terus terombang-ambing dalam ketidakpastian fiskal?

​Selamat Tahun Baru 2026. Semoga tahun depan dompet daerah kita lebih sehat daripada tahun ini.

— Dapur Redaksi

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved