-->

Selasa, 30 Desember 2025

SATIRE : TUMARITIS 'PANIC ATTACK': Target Pendapatan Jeblok, Jurus 'Tunda Bayar' Jadi Jimat Penyelamat

SATIRE : TUMARITIS 'PANIC ATTACK': Target Pendapatan Jeblok, Jurus 'Tunda Bayar' Jadi Jimat Penyelamat


Gambar : Ilustrasi

OLEH: PEMERHATI WAYANG RUSAK

​Di Balai Pertemuan Negeri Tumaritis, suasana yang biasanya adem ayem mendadak panas dingin. Bukan karena AC mati, tapi karena Sang Bendahara Negeri baru saja menyodorkan kalkulator yang layarnya berkedip merah.

​"Gawat, Ndoro Patih!" teriaknya gemetar. "Tahun anggaran tinggal seujung kuku, tapi pendapatan kita masih ngesot di bawah 80 persen! Pajak seret, retribusi mampet, tapi pengeluaran jor-joran!"

​Para pejabat Tumaritis pun kalang kabut. Wajah mereka pucat pasi, membayangkan defisit yang menganga lebar seperti mulut Buta Ijo yang kelaparan. Jika ini ketahuan rakyat Tumaritis yang kritis-kritis itu, bisa geger satu negeri.

Rapat Darurat: Mencari Kambing Hitam

​Sang Patih yang terkenal cerdik (lebih tepatnya licik) segera memutar otak. Ia tidak mungkin memotong tunjangan pejabat—itu pamali. Ia tidak mungkin membatalkan perjalanan dinas—itu hobi.

​Maka, matanya tertuju pada satu kelompok yang paling lemah posisinya di rantai makanan birokrasi: Pihak Ketiga (Kontraktor & Vendor) Tunjangan ASN dan Siltap.

​"Aha!" seru Sang Patih sambil menjentikkan jari. "Kita pakai Jurus Mabuk Tanpa Bayangan!"

​"Apa itu, Ndoro?" tanya stafnya.

​"Namanya: Jurus Retensi dan Tunda Bayar!"

Mekanisme 'Penyelamatan' Ajaib

​Strategi ini sungguh brilian dalam kekejamannya. Logikanya sederhana: Jika kita tidak bisa mencari uang masuk, maka kita harus menahan uang keluar. Biarpun pekerjaan sudah selesai, uangnya kita sandera dulu.

  1. Jurus Tunda Bayar (The Prank of The Year): Mang Odo, kontraktor aspal jalan, datang dengan senyum sumringah membawa Berita Acara Serah Terima (BAST). "Jalan sudah mulus, Ndoro. Kapan cair?" Sang Patih menjawab dengan wajah sedih yang dibuat-buat. "Duh, Mang Odo. Kas negara sedang 'konsolidasi'. Uangnya ada, tapi sedang bertapa di sistem. Kita tunda bayar ya? Nanti dibayar tahun depan... atau tahun depannya lagi." Mang Odo pun pulang dengan dengkul lemas, bingung mau bayar tukang pakai apa. Daun singkong?

  2. Jurus Retensi (Menyandera Hak): Biasanya retensi (jaminan pemeliharaan) itu 5%. Tapi di Tumaritis, definisinya diperluas. "Uang proyek kamu kita tahan dulu ya," kata Bendahara. "Bukan cuma retensi pemeliharaan, tapi retensi 'penyelamatan arus kas'. Anggap saja kamu menabung di negara tanpa bunga, dan tanpa jaminan kapan bisa diambil."

Efek Samping: Pembangunan Semu

​Akibat jurus ini, Negeri Tumaritis terlihat sukses secara fisik. Gedung berdiri, taman tertata, gapura megah. Laporan pembangunan tercatat 100 persen.

​Tapi di balik kemegahan itu, terdengar jeritan pilu para pengusaha kecil. Toko material di pasar Tumaritis memajang spanduk: "DILARANG NGUTANG, KECUALI PEMKAB SUDAH CAIR".

​Si Cepot, yang melihat kekacauan ini, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ngopi di pos ronda.

​"Aneh bin ajaib," gumam Cepot. "Pejabat yang salah hitung target, pejabat yang boros anggaran, eh... giliran kas kosong, rakyat dan pengusaha kecil yang disuruh 'berkorban'. Itu kas negara atau dompet sirkus? Isinya cuma kejutan!"

Epilog

​Di Tumaritis, target pendapatan di bawah 80% bukanlah kegagalan manajemen, melainkan "Tantangan Dinamika Ekonomi". Dan solusinya bukanlah efisiensi pejabat, melainkan menunda hak mereka yang sudah memeras keringat.

​Sampai kapan? Sampai Sang Patih menemukan jurus baru, atau sampai rakyat Tumaritis bosan menonton dagelan ini.

Pesan Moral Mang Cepot

Membangun negeri dengan cara ngutang paksa ke pihak ketiga dan pekerja itu bukan prestasi, tapi tragedi yang dibungkus rapi.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved