Foto : Ilustrasi/Net
Oleh: Mahesa Jenar
Lorong-lorong gedung itu mendadak senyap. Biasanya, suara langkah kaki yang tegap penuh percaya diri menggema, diiringi tawa renyah para "pengawal" setia. Namun, hari ini, atmosfer berubah drastis. Kabar itu menyebar lebih cepat dari api yang memakan jerami kering: Sang Jagal, sosok yang selama ini ditakuti karena ketajaman penanya dalam "mengesekusi" nasib orang, kini justru tersandung kakinya sendiri.
Ia yang biasa memberi sanksi, kini berbalik menjadi terhukum. Surat Keputusan (SK) indisipliner itu bukan sekadar kertas, melainkan palu godam yang meruntuhkan benteng arogansi yang selama ini dibangun kokoh.
Runtuhnya Sang Eksekutor
Julukan "Sang Jagal" tidak sematan lahir begitu saja. Selama menjabat, ia dikenal dingin. Kebijakannya kerap memangkas, memutasi, bahkan mematikan karier lawan-lawan politik atau bawahan yang tidak sejalan. Di matanya, aturan adalah alat pukul, dan ia adalah pemegang gadanya.
Namun, pepatah lama “di atas langit masih ada langit” sepertinya luput dari kalkulasinya. Dugaan pelanggaran disiplin berat—entah itu penyalahgunaan wewenang atau maladministrasi—kini menjerat lehernya sendiri. Sang Jagal yang biasanya garang saat memimpin apel atau rapat evaluasi, kini harus menunduk, sibuk menyusun pembelaan diri yang mungkin sudah terlambat.
Sport Jantung Para Pengikut
Jika Sang Jagal kini pusing tujuh keliling, kondisi lebih parah justru dialami oleh para pengikutnya. Mereka adalah orang-orang yang selama ini berlindung di balik ketiak kekuasaan Sang Jagal. Mereka yang ikut tertawa saat Sang Jagal menghina lawan, dan ikut "menggigit" saat diperintah.
Kini, mereka massal terkena sindrom sport jantung.
Wajah-wajah yang biasanya angkuh itu kini pucat pasi. Ponsel-ponsel mereka berdering atau bergetar, namun diangkat dengan tangan gemetar. Grup-grup WhatsApp yang biasanya ramai dengan puja-puji untuk atasan, kini hening, atau berganti menjadi jalur komunikasi rahasia untuk saling bertanya: "Apakah kita akan kena imbasnya?"
Ketakutan mereka beralasan. Ketika pohon besar tumbang, benalu yang menempel di batangnya pasti akan ikut jatuh ke tanah. Hilangnya perlindungan dari Sang Jagal berarti mereka kini telanjang di hadapan aturan yang sebenarnya. Jejak-jejak digital, tanda tangan persetujuan, hingga loyalitas buta yang dulu mereka banggakan, kini berubah menjadi bom waktu.
Epilog: Roda yang Berputar
Drama "Sang Jagal Kena Indisipliner" ini menjadi tontonan ironis sekaligus pelajaran moral telak bagi siapa saja yang sedang memegang amanah. Bahwa kekuasaan, sekuat apa pun digenggam, memiliki batas kadaluwarsa.
Bagi Sang Jagal, ini adalah masa pertanggungjawaban. Namun bagi sang pengikut yang kini sport jantung, hari-hari ke depan adalah mimpi buruk yang panjang. Mereka sadar, dalam birokrasi dan politik, tidak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Dan ketika kepentingan itu terancam, siapa yang akan menyelamatkan siapa?
Mungkin hari ini mereka masih bisa bernapas, tapi detak jantung yang memburu itu adalah sinyal: badai belum berlalu, ia baru saja dimulai.
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram