Foto: Ilustrasi
Penulis : Mahesa Jenar
Euforia pesta penobatan belum benar-benar usai. Karangan bunga ucapan selamat masih berjejer rapi di halaman istana, dan singgasana kekuasaan itu pun masih terasa hangat. Namun, di balik senyum seremonial sang penguasa baru—kita sebut saja "Sang Ratu"—tersimpan amarah yang membara.
Bulan madu kepemimpinan itu rusak seketika. Bukan oleh musuh politik dari luar benteng, melainkan oleh ulah orang kepercayaannya sendiri: Sang Patih.
Nestapa Sang Patih
Sang Patih, yang seharusnya menjadi kompas penunjuk arah bagi pemerintahan baru Sang Ratu, kini justru menjadi beban terberat. Ia sedang didera nestapa. Wajahnya yang dulu tegak penuh kuasa, kini tertunduk lesu.
Kabar burung yang beredar di lorong-lorong birokrasi bukan isapan jempol belaka. Sang Patih tertangkap basah "bermain api"—atau lebih tepatnya, bermain anggaran—dengan pihak yang selama ini disebut-sebut sebagai "Pemerintah Kolonial".
Permainan Terlarang dengan 'Kolonial'
Dalam peta politik lokal, "Pemerintah Kolonial" adalah metafora bagi pemegang kucuran dana besar dari luar daerah yang memiliki aturan main ketat. Sang Patih, dengan arogansi masa lalunya, diduga mencoba bermanuver di area terlarang ini. Ia mencoba mengutak-atik pos anggaran, berharap sisa remah-remah "roti anggaran" itu bisa dinikmati diam-diam.
Namun, ia lupa bahwa mata "Pemerintah Kolonial" setajam elang. Jejak digital dan aliran dana yang tak wajar terendus. Praktik lancung yang niatnya dilakukan senyap, kini meledak menjadi skandal yang memalukan. Sang Patih kini terjepit; di satu sisi dikejar pertanggungjawaban oleh pihak 'Kolonial', di sisi lain harus menghadapi murka junjungannya sendiri.
Amarah di Ujung Takhta
Bagi Sang Ratu, ini adalah tamparan keras di wajahnya tepat di hari-hari pertama ia memimpin. Ia yang naik takhta dengan janji "Perubahan" dan "Bersih-bersih", kini justru disuguhi kotoran di teras rumahnya sendiri.
Sang Ratu murka. Sumber dalam istana menyebutkan, tak ada lagi pembelaan untuk Sang Patih. Sang Ratu merasa dikhianati. Di saat ia butuh stabilitas untuk menancapkan kuku kekuasaannya, Sang Patih justru menggali lubang kubur bagi kredibilitas pemerintahan baru ini.
Pilihan Sulit Sang Ratu
Kini, bola panas ada di tangan Sang Ratu. Ia dihadapkan pada pilihan buah simalakama:
- Melindungi Sang Patih: Ini berarti ia ikut terseret dalam lumpur skandal, dan berisiko dicap sama kotornya oleh rakyat dan pihak 'Kolonial'.
- Memenggal Sang Patih: Mengorbankan orang kepercayaannya demi menyelamatkan marwah singgasana. Sebuah langkah drastis yang akan memuaskan dahaga publik akan keadilan, namun juga akan memotong kaki tangannya sendiri di birokrasi.
Drama ini belum berakhir. Sang Patih masih didera nestapa, menunggu vonis dari Sang Ratu yang sedang menahan murka. Akankah ini menjadi akhir dari karier Sang Patih, atau justru awal dari badai yang lebih besar yang akan mengguncang singgasana Sang Ratu?
Satu hal yang pasti, di pemerintahan ini, tidak ada lagi tempat aman bagi mereka yang berani bermain mata dengan anggaran, apalagi jika itu menyangkut urusan dengan 'Kolonial'.
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram