Foto: Ilustrasi/Net
Lampu di ruang interogasi itu mungkin tidak seterang lampu sorot panggung kekuasaan yang biasa ia nikmati, namun cahayanya cukup tajam untuk menelanjangi rasa percaya diri yang tersisa. Di ruangan dingin itulah, mitos tentang "Sang Patih Jalan Siliwangi" akhirnya runtuh.
Sang arsitek politik yang dikenal licin, yang bermimpi membangun dinasti baru dengan meminjam tangan-tangan kekuasaan eksternal, akhirnya tak berkutik di hadapan lembar demi lembar Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
Ambisi yang Terputus
Selama ini, narasi yang dibangun Sang Patih begitu megah. Ia tidak hanya ingin berkuasa; ia ingin mengakar. Strateginya brilian sekaligus berisiko: menciptakan sebuah "Klan Baru". Ia sadar tak bisa bergerak sendiri, maka diciptakanlah sosok "Panglima Birokrasi"—sebuah avatar kekuasaan yang ditempatkan di puncak hierarki ASN untuk mengamankan titah sang Patih.
Sang Panglima Birokrasi didesain menjadi benteng. Ia adalah eksekutor yang memastikan setiap kebijakan, setiap mutasi, dan setiap anggaran mengalir sesuai cetak biru "Klan Baru" tersebut. Di atas kertas, skenario ini tampak sempurna. Birokrasi terkunci, lawan politik terkecoh.
Namun, hukum besi kekuasaan punya logikanya sendiri: Ketika kepala dipenggal, tubuh akan lumpuh.
Guncangan di Akar Rumput
Kabar tumbangnya Sang Patih di ruang interogasi mengirimkan gelombang kejut yang dahsyat ke sepanjang koridor pemerintahan. Bukan sekadar soal hukum, ini adalah soal runtuhnya patron.
Pertanyaan besar kini menggantung di udara: Akankah klan yang dibangun dengan susah payah ini bertahan?
Jawabannya kemungkinan besar adalah tidak. Sebuah klan yang dibangun bukan atas dasar ideologi, melainkan atas dasar transaksi kepentingan, biasanya tak memiliki perekat yang kuat. Loyalitas para pengikut Sang Patih ibarat embun pagi; akan menguap begitu matahari masalah mulai terbit. Tanpa perlindungan dan logistik dari Sang Patih, "klan baru" ini hanyalah kerumunan orang-orang yang ketakutan, sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Nasib Sang Panglima: Antara Loyalitas dan Penyelamatan Diri
Sorotan kini beralih kepada Sang Panglima Birokrasi. Dialah sosok yang paling malang dalam tragedi ini. Diciptakan untuk melayani Sang Patih, kini ia berdiri sendiri di tengah badai, bak anak ayam kehilangan induk—atau lebih tepatnya, seperti wayang yang kehilangan dalangnya.
Nasib Sang Panglima Birokrasi kini berada di ujung tanduk. Ada dua skenario kelam yang menantinya:
- Menjadi Tumbal: Tanpa perlindungan politik Sang Patih, Panglima Birokrasi adalah target paling empuk. Semua "dosa" kebijakan yang diperintah oleh Sang Patih akan ditimpakan ke pundaknya. Ia berpotensi terseret arus deras kasus yang membelit tuannya.
- Dikudeta Sejawat: Di internal birokrasi, musuh-musuh lama yang selama ini tiarap mulai bangkit. Mereka yang sakit hati, yang terpinggirkan oleh kebijakan "Klan Baru", kini melihat celah. Posisi Sang Panglima kini goyah, legitimasinya keropos. Teman sejawat yang dulu tersenyum manis kini siap menghunus pisau kudeta.
Epilog
Jalan Siliwangi hari ini mungkin masih ramai oleh lalu lalang kendaraan, namun di gedung-gedung pengambil kebijakan, suasananya senyap dan mencekam. Runtuhnya Sang Patih di ruang interogasi mengajarkan satu hal: bahwa membangun klan di atas pondasi kekuasaan eksternal yang rapuh hanyalah menunda waktu kehancuran.
Sang Patih telah jatuh, dan Sang Panglima Birokrasi kini menghitung hari: akankah ia ikut karam bersama kapal tuannya, atau nekat melompat ke sekoci pengkhianatan demi menyambung napas? Waktu
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram