Purwakarta – Penangkapan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi pelajaran penting bagi daerah. Aktivis Analitika Purwakarta menilai, modus pemerasan berkedok pelayanan publik yang menjerat Noel sangat mungkin terjadi di Purwakarta, apalagi di tengah maraknya gaya pejabat yang gemar inspeksi mendadak (sidak) tanpa penyelesaian nyata.
“Kalau pejabat pusat saja bisa ditangkap KPK, jangan menganggap Purwakarta kebal. Justru pola-pola serupa bisa terjadi di sini, lewat perizinan, proyek, atau layanan publik,” kata Mahesa Jenar, peneliti Analitika Purwakarta, Jumat (22/8/2025).
Menurut Mahesa, publik perlu lebih kritis terhadap fenomena pejabat yang menjadikan sidak sebagai panggung pencitraan. “Kita sering lihat sidak heboh, kamera berderet, pejabat berpose, tapi setelah itu masalah tetap berulang. Sidak yang tidak berujung solusi patut dicurigai. Bisa jadi hanya jadi pintu tawar-menawar di belakang layar,” ujarnya.
Ia menilai, birokrasi Purwakarta masih rawan praktik pungutan liar. Banyak warga dan pelaku usaha mengeluhkan pelayanan publik yang lambat dan kerap hanya selesai jika disertai uang pelicin. “Kondisi seperti ini sangat mirip dengan kasus yang menjerat Noel. Bedanya, di daerah sering dibungkus dengan seremonial sidak yang ujungnya nihil perubahan,” kata Mahesa.
Analitika Purwakarta mendesak agar pemerintah daerah benar-benar serius memperkuat transparansi dan pengawasan. “Kalau gaya pencitraan terus dibiarkan, bukan mustahil OTT berikutnya terjadi di Purwakarta. Hari ini pejabat sibuk sidak dan difoto, besok bisa saja difoto lagi—tapi dengan rompi oranye,” pungkas Mahesa. (***)
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram