-->

Rabu, 12 Agustus 2026

KH Maman Imanulhaq Berduka, Kenang Sosok Murobbi yang Penuh Kasih

KH Maman Imanulhaq Berduka, Kenang Sosok Murobbi yang Penuh Kasih

MAJALENGKA – Kabar wafatnya Abah Hasan Kiryani, salah satu sesepuh Buntet Pesantren, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, serta para santri dan masyarakat yang mengenal sosoknya.

Ungkapan duka disampaikan KH. Maman Imanulhaq, Anggota Komisi VIII DPR RI, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari daerah pemilihan Jawa Barat IX, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka.

Bagi KH. Maman, Abah Hasan Kiryani bukan sekadar sesepuh Buntet Pesantren. Ia mengenang almarhum sebagai sosok murobbi yang menjadi tempat belajar dan teladan bagi banyak orang, khususnya mereka yang merindukan figur ulama yang rendah hati, hangat, dan penuh kasih.

“Abah bukan hanya sesepuh Buntet Pesantren. Beliau adalah murobbi bagi siapa saja yang merindukan sosok ulama yang rendah hati, hangat, dan penuh kasih,” ungkap KH. Maman dalam pesan dukanya.

Kedekatan KH. Maman dengan almarhum juga tidak terlepas dari hubungan persahabatan antara Abah Hasan Kiryani dan ayahnya, KH. Abdurrochim. Keduanya disebut pernah menjadi sahabat seperjuangan ketika aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Hubungan tersebut kemudian terus terjalin hingga lintas generasi. Setiap kali berkunjung ke Buntet Pesantren, KH. Maman mengaku selalu menjadikan sowan kepada Abah Hasan Kiryani sebagai salah satu prioritas.

“Beliau selalu mengenang ayah kami, KH. Abdurrochim, sebagai sahabat perjuangan semasa di PMII,” tuturnya.

Kedekatan itu tidak hanya berlangsung dalam momentum keagamaan maupun kunjungan ke pesantren. Dalam berbagai momentum keluarga, KH. Maman dan keluarga juga selalu menyempatkan diri untuk menghadap dan bersilaturahmi kepada Abah Hasan.

Salah satunya ketika berlangsung resepsi pernikahan Mas Nahdi dan Emily. Saat itu, Abah Hasan Kiryani bersama Bu Nyai berkenan hadir untuk memberikan doa dan kasih kepada keluarga.

Bagi KH. Maman, kehadiran tersebut menjadi bagian dari kenangan yang akan terus melekat. Sosok Abah Hasan tidak hanya hadir sebagai ulama dan sesepuh, tetapi juga sebagai orang tua yang memberikan kehangatan serta keteladanan.

Kini, sosok yang selama ini menjadi tempat bersandar dan bersilaturahmi itu telah berpulang.

Meski kehilangan tersebut meninggalkan kesedihan mendalam, KH. Maman berusaha menerimanya sebagai bagian dari kehendak Allah SWT.

“Namun kami percaya, Allah SWT lebih mencintai Abah dan telah memanggilnya pulang ke haribaan-Nya,” katanya.

KH. Maman pun menyampaikan penghormatan terakhir sekaligus doa bagi almarhum. Ia berharap keteladanan Abah Hasan Kiryani tidak berhenti bersama kepergiannya, tetapi terus hidup dan diamalkan oleh keluarga, santri, serta siapa pun yang pernah mendapatkan ilmu dan kasih sayangnya.

“Selamat jalan, Abah. Kami mencintai Abah. Kami menyayangi Abah. Kami akan terus mengamalkan keteladanan Abah. Al-Fatihah,” ujar KH. Maman.

Kepergian Abah Hasan Kiryani menjadi kehilangan bagi keluarga besar Buntet Pesantren dan masyarakat pesantren. Namun, bagi mereka yang pernah mengenal dan belajar dari sosoknya, warisan terbesar sang ulama adalah keteladanan, kelembutan, serta nilai-nilai keislaman yang terus hidup dalam kehidupan para murid dan orang-orang yang ditinggalkannya. (FT)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved