Penulis : Mahesa Jenar
Sungguh sebuah pemandangan yang menghangukan sukma. Di satu sisi, rakyat disuguhi parade megah Mahkota Binokasih yang berkilau, simbol kejayaan masa lalu yang dibawa berkeliling dengan penuh khidmat.
Di sisi lain, para pejabat daerah sedang sibuk mengasah kikir untuk menjalankan ritual "Efisiensi Keuangan" yang tak kalah sakralnya.
Berikut adalah beberapa anomali menarik yang patut kita apresiasi dengan sedikit senyum kecut.
Bagaimana mungkin kita tidak terpesona? Melihat barisan pengawal berbaju adat yang gagah, sementara di meja kantor dinas, para staf sedang berdebat sengit tentang bagaimana caranya memotong anggaran alat tulis kantor (ATK) dan biaya perjalanan dinas agar tidak defisit. Memang, menjaga warisan budaya itu wajib, tapi menjaga saldo kas daerah itu... ya, opsional-lah ya?
Seperti kita ketahui Pemerintah daerah sedang melakukan program "diet" anggaran yang sangat ketat. Namun, seperti orang yang sedang diet karbo tapi sesekali cheating dengan makan tumpeng ukuran raksasa, kirab budaya ini adalah momen cheating yang sangat kolosal.
Program Efisiensi: "Mari kita hemat penggunaan listrik dan kurangi rapat di hotel!"
Realita Kirab: "Sewa tenda, panggung, sound system, dan konsumsi untuk ribuan orang? Gaspol!"
Secara harfiah, Binokasih berarti kasih sayang. Mungkin maksud pemerintah adalah menunjukkan kasih sayang kepada masyarakat dalam bentuk hiburan visual, agar rakyat lupa sejenak kalau jembatan di desa sebelah sudah setahun bolong karena anggarannya terkena refocusing.
"Mahkota emasnya asli, tapi janji efisiensinya mungkin masih imitasi."
Mari kita bandingkan Fantasi vs. Realita
Sektor | Narasi Kirab Budaya | Narasi Efisiensi Daerah |
Transportasi | Kuda-kuda gagah dan mobil hias mewah. | "Mobil dinas harap jangan sering-sering diisi Pertamax." |
Konsumsi | Jamuan prasmanan untuk tamu VIP. | "Rapat internal cukup pakai gorengan dan air mineral gelas." |
Seragam | Kostum adat baru yang dijahit khusus. | " |
Tentu saja, kita tidak boleh skeptis. Barangkali, dengan mengarak mahkota emas tersebut, diharapkan ada keajaiban alkimia di mana debu-debu jalanan yang terkena bayangan mahkota tiba-tiba berubah menjadi saldo kas daerah yang melimpah. Mari kita aminkan saja, sambil tetap memegang erat dompet kita yang makin tipis.
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram