Penulis: Mahesa Jenar
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar urusan membagikan kotak nasi. Di balik ambisi besar meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terdapat mata rantai logistik raksasa yang melibatkan anggaran triliunan rupiah. Namun, di mana ada gula, di situ ada semut—program mulia ini kini berada di bawah bayang-bayang risiko eksploitasi demi keuntungan pribadi.
Menutup Celah "Proyekan"
Sejarah mencatat bahwa program bantuan sosial berskala besar sering kali menjadi sasaran empuk oknum yang ingin memperkaya diri. Dalam konteks MBG, potensi penyimpangan bisa muncul dalam berbagai bentuk:
Permainan Tender: Pengadaan bahan baku yang dimonopoli pihak tertentu tanpa kualifikasi mumpuni.
Penyusutan Kualitas: Memangkas biaya bahan (misal: mengganti protein hewani berkualitas dengan opsi yang lebih murah) demi memperlebar margin keuntungan.
Pelanggaran Regulasi: Pengabaian standar sanitasi dan rantai pasok demi menekan biaya operasional.
Kesehatan Penerima Manfaat Adalah Harga Mati
Jika regulasi diabaikan demi efisiensi biaya, yang paling dirugikan adalah anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat. Kesehatan tidak bisa ditawar.
"Satu porsi makanan yang tidak memenuhi standar gizi atau diolah secara tidak higienis bukan lagi bantuan, melainkan ancaman bagi kesehatan generasi mendatang."
Penerapan standar keamanan pangan (HACCP) dan pengawasan ketat terhadap kandungan nutrisi harian harus menjadi panglima dalam pelaksanaan program ini. Jangan sampai jargon "makan gratis" menjadi pembenaran untuk menyajikan makanan seadanya.
Transparansi dan Pengawasan
Agar program MBG tidak dijadikan lahan "basah" bagi pemburu rente, diperlukan sistem yang kokoh:
Digitalisasi Rantai Pasok: Memastikan setiap rupiah dan setiap butir beras terlacak dari produsen hingga ke meja makan.
Pelibatan UMKM Lokal dengan Standar Ketat: Memberdayakan ekonomi lokal namun tetap terikat pada sertifikasi kesehatan yang jelas.
Audit Independen Berkala: Melakukan uji petik kualitas makanan secara mendadak di berbagai titik distribusi.
Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi jangka panjang bangsa, bukan komoditas politik atau ekonomi jangka pendek. Menjaga integritas program ini berarti menjaga masa depan anak cucu kita. Jangan biarkan piring mereka diisi oleh kerak-kerak keserakahan yang mengabaikan regulasi dan keselamatan. (***)
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram