-->

Rabu, 07 Januari 2026

Satire : Kisah Raja "Kecil" Menunjukan taring berujung "ditinggalkan" para punggawanya

Satire : Kisah Raja "Kecil" Menunjukan taring berujung "ditinggalkan" para punggawanya


Foto: Ilustrasi 

Di Kerajaan Astina Raya—yang kini lebih sering disebut oleh rakyatnya sebagai "Astina Runtuh"—keadaan bukan hanya suram, tapi sudah melewati tahap tragis menuju komedi gelap. Kas negara tidak hanya kosong; lemari penyimpanannya sudah digadaikan, dan tikus-tikus yang dulu menghuninya telah bermigrasi ke lumbung tetangga karena kelaparan.

​Di tengah puing-puing ekonomi inilah muncul sosok Raja Gusti Prabu Alit.

​Kata "Alit" dalam namanya secara harfiah berarti "kecil". Dan memang, secara fisik, Raja Gusti tidaklah menjulang. Ia naik takhta bukan karena garis keturunan langsung, melainkan karena tujuh pewaris takhta sebelumnya telah melarikan diri ke negeri seberang membawa sisa-sisa perhiasan istana saat berita "Gagal Bayar Nasional" diumumkan.

​Gusti Prabu Alit adalah sepupu jauh yang kebetulan sedang bertugas menjaga perpustakaan kerajaan saat mahkota itu secara kiasan (dan harfiah, karena terlalu besar untuk kepalanya) jatuh kepadanya.

​Kerajaan Astina Raya berutang pada semua orang: pada bankir asing, pada serikat pedagang rempah, pada tentara bayaran yang kini mogok kerja, bahkan pada tukang cuci istana yang belum dibayar selama tiga purnama. Mata uang kerajaan, Koin Emas Astina, kini nilainya lebih rendah daripada logam pembungkusnya.

​Namun, Gusti Prabu Alit memiliki satu keyakinan teguh yang ia baca dari buku-buku sejarah kuno di perpustakaan: "Seorang Raja adalah bayangan Tuhan di bumi. Jika Raja menunjukkan taring, dunia akan tunduk."

​Dia tidak mengerti ekonomi makro. Dia tidak paham tentang inflasi atau restrukturisasi utang. Yang dia tahu adalah: dia sekarang Raja, dan Raja harus dihormati.

​Maka dimulailah era "Pasang Taring" sang Raja Kecil.

​Langkah pertamanya adalah memanggil Bendahara Kerajaan, seorang pria tua kurus bernama Ki Sastro, yang rambutnya telah memutih sepenuhnya dalam seminggu terakhir.

​"Ki Sastro," sabda Gusti Prabu Alit, suaranya dibuat seberat mungkin di ruang takhta yang bergema kosong. "Saya perintahkan untuk mencetak uang baru. Buat gambarnya wajah saya, sedang menunggang singa!"

​Ki Sastro menelan ludah. "Ampun, Paduka. Kita tidak punya emas untuk menjamin uang itu. Dan... tukang cetak istana sedang menyandera mesin cetaknya sampai kita membayar tunggakan gajinya."

​Raja Kecil menggebrak meja (yang kakinya goyah). "Kalau begitu, keluarkan Dekrit Kerajaan! Pajak baru! 'Pajak Bernapas di Tanah Astina'. Setiap hembusan napas rakyat adalah milik Raja!"

​"Rakyat sudah tidak punya uang, Paduka. Mereka sekarang bertransaksi menggunakan ubi jalar dan ayam kurus."

​Raja Alit mendengus, merasa frustrasi karena keagungannya tidak dihargai oleh realitas. "Mereka tidak takut karena kita terlihat lemah. Kita harus menunjukkan kekuatan. Kita akan mengadakan Parade Militer Agung besok pagi! Saya akan mengenakan Baju Zirah Emas Leluhur dan menunggangi kuda perang terbesar!"

​Ki Sastro ingin menangis. "Baju Zirah Emas sudah dilebur bulan lalu untuk membayar bunga utang ke Kerajaan Tetangga, Paduka. Dan kuda perang... yang tersisa hanya si 'Gembul', kuda poni tua milik mendiang Putri Bungsu yang menderita rematik."

​"Cukup!" teriak Raja Kecil, wajahnya memerah. "Kau terlalu banyak alasan! Jika tidak ada baju zirah, poles panci tembaga di dapur dan jahit menjadi rompi! Jika tidak ada kuda perang, cat si Gembul menjadi hitam agar terlihat garang! Saya adalah Raja, dan saya akan memasang taring!"

​Keesokan harinya, pemandangan di alun-alun ibukota sungguh menyedihkan sekaligus menggelikan.

​Hujan gerimis turun, menambah suasana muram. Gusti Prabu Alit duduk di atas si Gembul—kuda poni yang kakinya gemetar menahan beban raja dan rompi panci tembaga yang berbunyi klontang-klontung setiap kali bergerak. Mahkotanya miring ke kiri. Dia berusaha memasang wajah paling sangar, meniru lukisan leluhurnya.

​Di belakangnya, berbaris sekitar lima puluh prajurit yang tersisa. Seragam mereka tambal sulam, beberapa memegang tombak yang ujung besinya sudah dijual, diganti dengan kayu runcing. Mereka berbaris dengan lesu, perut keroncongan mereka lebih nyaring daripada genderang parade yang kulitnya sudah kendor.

​Rakyat Astina Raya berdiri di pinggir jalan. Mereka tidak bersorak. Mereka tidak takut. Mereka hanya menatap dengan mata kosong dan lelah. Seorang ibu menyusui bayinya yang menangis, sementara seorang pedagang ubi menatap rompi panci raja dengan tatapan menilai harga jual tembaganya.

​Raja Kecil mengangkat pedangnya (yang sebenarnya adalah pedang upacara tumpul karena pedang tajam sudah digadaikan).

​"Rakyatku!" teriaknya, suaranya pecah di tengah keheningan. "Lihatlah Rajamu! Astina Raya tidak akan tunduk pada kemiskinan! Kita akan bangkit! Barangsiapa menentangku akan merasakan taring kekuasaan!"

​Hening sejenak. Hanya suara hujan dan klontang panci.

​Tiba-tiba, dari kerumunan muncul seorang pria bertubuh besar, berpakaian sutra impor yang mewah, diiringi oleh empat pengawal berotot yang terlihat jauh lebih sehat dan bersenjata lengkap daripada tentara kerajaan. Itu adalah Tuan Marco, kepala perwakilan serikat rentenir internasional.

​Tuan Marco tidak berlutut. Dia berjalan santai ke tengah jalan, menghalangi jalur parade si Gembul.

​"Minggir, rakyat jelata!" teriak Raja Alit, mencoba memacu kudanya, tapi si Gembul malah mundur ketakutan melihat pengawal Tuan Marco.

​Tuan Marco tersenyum tipis, mengeluarkan sebuah gulungan kertas panjang—tagihan.

​"Maaf mengganggu pertunjukan sirkus kecil ini, Paduka," kata Tuan Marco dengan suara tenang namun menusuk. "Tapi 'taring' yang Anda coba pasang itu... itu juga milik kami. Berdasarkan kontrak nomor 402B, seluruh aset kerajaan, termasuk citra dan wibawa raja, adalah jaminan utang."

​Raja Alit ternganga. "Berani-beraninya kau! Prajurit! Tangkap orang ini!"

​Kelima puluh prajurit di belakang raja tidak bergerak. Mereka justru menatap Tuan Marco dengan penuh harap.

​"Mereka tidak akan bergerak, Paduka," kata Tuan Marco sambil melambaikan kantong koin emas yang berdenting nyaring. "Karena saya bisa membayar mereka hari ini. Anda tidak."

​Raja Kecil di atas kuda poni rematiknya tampak semakin kecil. Rompi pancinya terasa sangat berat. Dia melihat ke sekeliling. Rakyatnya tidak memandangnya sebagai pemimpin yang ditakuti; mereka memandangnya sebagai penghalang terakhir sebelum negara ini benar-benar dijual kiloan.

​"Tapi... saya Raja," bisik Gusti Prabu Alit, air mata frustrasi menggenang di matanya. "Saya sedang pasang taring."

​Tuan Marco mendekat, menepuk pelan hidung si Gembul.

​"Paduka," ujarnya lembut namun dingin. "Di dunia yang gagal bayar ini, taring tidak tumbuh dari mulut seorang raja. Taring tumbuh dari kantong yang penuh emas. Dan kantong Anda, Paduka, berlubang."

​Parade bubar tanpa perintah. Para prajurit diam-diam mengikuti Tuan Marco menuju kedai terdekat untuk mendapatkan bayaran pertama mereka dalam tiga bulan.

​Raja Gusti Prabu Alit ditinggalkan sendirian di tengah hujan di alun-alun yang kosong, di atas kuda poni yang gemetar. Seorang raja kecil yang mencoba mengaum, namun dunia hanya mendengar cicit tikus yang terjepit di antara tumpukan tagihan yang tak terbayar.

Cerita ini hanya fiksi belaka, jiga ada kesamaan itu mungkin hanya kebetulan..

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved