-->

Selasa, 04 Agustus 2026

Tak Hanya Urus Pemerintahan, Pemdes Cimahi Perkuat Spiritual Lewat Kajian Safinatun Najah

 

PURWAKARTA – Pemerintah Desa (Pemdes) Cimahi kembali menggelar pengajian rutin bulanan sebagai upaya meningkatkan kualitas keimanan dan spiritual aparatur desa serta masyarakat. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menghadirkan penceramah Abuya Hasan Asy'ari dan diikuti oleh seluruh aparatur Pemerintah Desa Cimahi bersama warga setempat.

Dalam tausiyahnya, Abuya Hasan Asy'ari mengupas hakikat keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa iman sejati berawal dari keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati (tashdiqul qalbi), bukan sekadar ucapan di lisan.

Menurutnya, seseorang yang memiliki keyakinan penuh terhadap keesaan dan kebesaran Allah SWT akan memperoleh ketenangan jiwa dalam menjalani berbagai persoalan kehidupan.

"Keimanan itu harus dibuktikan dengan ketenangan hati. Ketika kita benar-benar menyadari keagungan Allah SWT, maka segala urusan dunia akan terasa lebih ringan karena kita bersandar hanya kepada-Nya," ujar Abuya Hasan Asy'ari.

Selain menyampaikan materi tentang keimanan, Abuya Hasan juga mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kitab klasik Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadrami. 

Kitab tersebut merupakan salah satu rujukan utama dalam mempelajari ilmu fikih dasar, khususnya mengenai tata cara ibadah sesuai tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menegaskan bahwa pemahaman fikih yang benar akan melahirkan ibadah yang lebih khusyuk dan menjadi bekal dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai syariat Islam.

Pengajian berlangsung dengan penuh antusias. Para aparatur desa dan masyarakat tampak menyimak setiap materi yang disampaikan, bahkan sebagian peserta terlihat mencatat poin-poin penting selama tausiyah berlangsung.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, mengatakan kegiatan keagamaan seperti ini memiliki peran penting dalam membangun keseimbangan antara pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembinaan spiritual para aparatur desa.

"Dengan mengikuti pengajian dan mendalami kitab Safinatun Najah, kita diharapkan tidak hanya mampu mengelola pemerintahan desa dengan baik, tetapi juga mampu membina diri agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa di hadapan Allah SWT," ujarnya.

Melalui pengajian rutin bulanan ini, Pemerintah Desa Cimahi menegaskan komitmennya untuk terus membangun lingkungan pemerintahan yang religius, berakhlak mulia, serta memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. (Agus)

Rabu, 27 Mei 2026

Spirit Khutbah Wada’: Kiai Maman Ajak Umat Bangun Peradaban dengan Kasih Sayang dan Ilmu



MAJALENGKA - Di hadapan anggota DPR RI yang menjadi Pengawas Haji 2026, Maman Imanulhaq menegaskan bahwa inti ajaran Nabi Muhammad SAW adalah spiritualitas kemanusiaan, yakni agama yang menjaga martabat manusia, menebarkan kasih sayang, serta membangun peradaban.

Menurutnya, pesan kemanusiaan itu telah diwariskan Rasulullah SAW melalui Khutbah Wada’ yang disampaikan di Padang Arafah pada tahun 632 M. Khutbah tersebut menjadi fondasi penting dalam ajaran Islam yang menempatkan manusia pada posisi mulia tanpa membedakan suku, ras, maupun warna kulit.

Dalam khutbahnya, Rasulullah SAW menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan manusia adalah suci serta tidak boleh dirusak oleh kebencian, kekuasaan, ataupun fanatisme.

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah suci sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini, dan negeri ini.”

Rasulullah SAW juga menekankan persamaan derajat seluruh manusia di hadapan Tuhan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia, Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab ataupun non-Arab atas Arab, tidak pula yang putih atas yang hitam kecuali karena takwa.”

Kiai Maman menjelaskan, di tengah masyarakat yang kala itu dibangun atas dasar kasta dan kesukuan, Islam hadir membawa revolusi kemanusiaan. Salah satu simbol kuatnya adalah dimuliakannya Bilal bin Rabahah, seorang bekas budak berkulit hitam, hingga dipercaya mengumandangkan azan dari atas Ka’bah.

“Hal itu bukan sekadar simbol ibadah, tetapi deklarasi bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh iman dan akhlak, bukan warna kulit maupun keturunan,” ujarnya.

Ia juga mengutip pandangan penulis dan sejarawan asal Inggris, Karen Armstrong, yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai sosok pembawa perdamaian.

“Muhammad was not a man of violence. His essential genius was peace-making.”

Menurut Kiai Maman, kejeniusan Rasulullah SAW terletak pada kemampuannya membangun perdamaian, merawat welas asih, dan menghadirkan masyarakat berkeadaban sebagaimana tercermin dalam Piagam Madinah.

Spirit Arafah itu, lanjutnya, kemudian melahirkan peradaban besar Islam di Andalusia setelah dibuka oleh Thariq bin Ziyad pada tahun 711 M. Namun kejayaan Islam di Andalusia tidak dibangun semata-mata dengan kekuatan militer, melainkan melalui ilmu pengetahuan, toleransi, dan akhlak.

Kota-kota seperti Cordoba, Granada, dan Sevilla menjadi pusat cahaya peradaban dunia ketika sebagian Eropa masih berada dalam masa kegelapan. Dari rahim peradaban Islam lahir banyak ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina dengan karya The Canon of Medicine, Al-Khawarizmi dengan ilmu aljabar dan algoritma, serta Ibnu Rusyd yang dikenal melalui gagasan filsafat dan rasionalitasnya.

Selain itu, nama Imam Asy-Syathibi turut dikenang melalui gagasan besar Maqāṣid al-Syarī‘ah yang menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan utama syariat.

Masjid Cordoba dan Istana Alhambra, menurut Kiai Maman, menjadi bukti bahwa iman mampu melahirkan keindahan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan peradaban.

Namun sejarah juga mencatat bahwa peradaban besar dapat runtuh ketika persatuan melemah dan orientasi spiritual memudar. Granada jatuh pada tahun 1492 bukan karena lemahnya bangunan fisik, melainkan karena rapuhnya jiwa dan hilangnya visi peradaban.

Karena itu, pesan Khutbah Wada’ dinilai tetap relevan hingga hari ini. Masa depan umat, kata Kiai Maman, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kemanusiaan, ilmu pengetahuan, persaudaraan, serta akhlak.

“Arafah mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus melahirkan kasih sayang, keadilan, dan peradaban,” pungkasnya. (RED)

Selasa, 21 April 2026

Fakta Tersembunyi Pura Kuno Nusantara: Sejarah, Mitos, dan Jejak Peradaban Tertua



RELIGI - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya dan spiritual yang mendalam. Salah satu warisan yang masih terjaga hingga kini adalah keberadaan pura-pura kuno yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya di Bali dan Jawa. 

Pura-pura ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, arkeologi, serta mitologi yang diwariskan lintas generasi.

Berikut rangkuman sejumlah pura tertua dan paling bersejarah di Nusantara yang hingga kini masih menjadi pusat spiritual dan budaya:

1. Pura Puncak Penulisan

Pura yang juga dikenal sebagai Pura Tegeh, dan Pura ini dianggap sebagai salah satu pura tertua di Bali, dengan jejak arkeologi yang menunjukkan eksistensinya jauh sebelum pengaruh Hindu Majapahit masuk.

Perkiraan Tahun: Dibangun sekitar tahun 300 Masehi (Zaman Perunggu) dan berkembang pesat hingga abad ke-10 sampai 1343 Masehi.

Terletak di Bukit Penulisan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Mitos/Sejarah: Pura ini terletak di puncak bukit tertinggi di Kintamani. Mitosnya berkaitan dengan konsep Gunung Suci sebagai tempat persemayaman para dewa dan roh leluhur. Di tingkat tertinggi (Sunya Loka), pura ini digunakan untuk memuja Dewa Siwa.

2. Pura Agung Besakih (The Mother Temple)

Dikenal sebagai "Ibu dari seluruh Pura" di Bali, Besakih merupakan kompleks pura terbesar dan paling suci.

Perkiraan Tahun: Diperkirakan mulai berdiri sekitar abad ke-8 Masehi, namun secara formal dikaitkan dengan kedatangan Rsi Markandeya pada tahun 1284 Masehi.

Alamat Lengkap: Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali

Mitos/Sejarah: Nama "Besakih" berasal dari bahasa Sanskerta Wasuki atau Jawa Kuno Basuki yang berarti selamat. Mitosnya sangat erat dengan Naga Basuki yang dipercaya sebagai penyeimbang Gunung Mandara. Rsi Markandeya membangun pura ini setelah mendapat petunjuk gaib saat bermeditasi di Dieng.

3. Pura Lempuyang Luhur

Salah satu dari Sad Kahyangan Jagat (enam pura utama dunia) yang dianggap sebagai pilar spiritual Pulau Bali.

Perkiraan Tahun: Merupakan salah satu pura tertua, namun tanggal pastinya sulit dipastikan. Beberapa sumber menyebutkan pura ini sudah ada sejak zaman pra-Hindu sebagai tempat pemujaan leluhur.

Alamat Lengkap: Lereng Gunung Lempuyang, Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Mitos/Sejarah: Mitosnya berkaitan dengan perjalanan spiritual untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Pendaki atau pemedek (umat) dilarang mengeluh saat menapaki ribuan anak tangga menuju puncak, karena diyakini bahwa ketabahan adalah ujian kesucian hati sebelum menghadap Tuhan.

4. Pura Mandara Giri Semeru Agung

Meskipun pemugaran besarnya dilakukan di era modern, pura ini secara spiritual dianggap sebagai salah satu yang paling tua dan "dituakan" di Nusantara karena letaknya di kaki Gunung Semeru.

Perkiraan Tahun: Pembangunan permanen dimulai sekitar tahun 1960-an hingga diresmikan pada 1992, namun lokasinya dianggap suci sejak masa kerajaan kuno.

Alamat Lengkap: Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Mitos/Sejarah: Terkait dengan mitologi Gunung Meru (Himalaya) yang bagian puncaknya dipotong dan dibawa ke Nusantara untuk menstabilkan Pulau Jawa. 

Gunung Semeru dipercaya sebagai "Bapak" dari Gunung Agung di Bali, sehingga umat Hindu Bali sering melakukan perjalanan ziarah ke sini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

5. Pura Puseh Penegil Dharma

Pura ini memiliki nilai sejarah tinggi sebagai cikal bakal tatanan masyarakat di Bali utara.

Perkiraan Tahun: Diperkirakan berdiri sekitar tahun 915 Masehi pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Alamat Lengkap: Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Mitos/Sejarah: Dikenal sebagai pura yang menjadi landasan penyatuan berbagai sekte agama di Bali menjadi satu tatanan Hindu Bali yang harmonis.

Keberadaan pura-pura kuno tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki sistem kepercayaan dan tatanan spiritual yang kuat sejak masa lampau. 

Hingga kini, pura tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelestarian budaya, sejarah, serta nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (Red)

Jumat, 17 April 2026

Terungkap! Gereja Sion Berdiri Sejak 1600-an, Jadi Saksi Bisu Sejarah Nusantara



RELIGI - Selain Gereja Sion yang dikenal sebagai gereja tertua di Indonesia, sejumlah bangunan gereja bersejarah lain juga tersebar di berbagai daerah, menyimpan kisah panjang perjalanan iman sekaligus warisan budaya bangsa.

Salah satunya adalah Gereja Blenduk yang berdiri megah di kawasan Kota Lama Semarang. Gereja ini pertama kali dibangun pada tahun 1753 oleh komunitas Belanda dan mengalami renovasi besar pada tahun 1894.

Nama “Blenduk” sendiri berasal dari bentuk kubahnya yang bulat (dalam bahasa Jawa: mblenduk). Arsitek yang terlibat dalam pembaruan bangunan ini adalah H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas, yang mengusung gaya neo-klasik Eropa.

Tak kalah bersejarah, di wilayah timur Indonesia berdiri Gereja Tua Immanuel Hila yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1780 oleh bangsa Portugis.

Gereja ini menjadi salah satu simbol awal penyebaran agama Kristen di kawasan Maluku, yang saat itu merupakan pusat perdagangan rempah dunia. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, struktur utamanya tetap dipertahankan.

Sementara itu, di tanah Papua terdapat Gereja Tua Wasior yang menjadi bukti masuknya misi zending di wilayah timur Nusantara. Gereja ini dibangun sekitar awal abad ke-20 oleh para misionaris Jerman yang datang untuk menyebarkan ajaran Kristen sekaligus pendidikan kepada masyarakat setempat.

Keberadaan gereja-gereja tua ini tidak hanya mencerminkan aktivitas keagamaan di masa lampau, tetapi juga menjadi bukti interaksi budaya antara bangsa Indonesia dengan dunia luar, mulai dari Portugis, Belanda, hingga Jerman.

Sejarawan menilai, bangunan-bangunan ini memiliki nilai penting yang harus dijaga. Selain sebagai tempat ibadah, gereja-gereja tersebut kini juga berfungsi sebagai cagar budaya dan destinasi wisata sejarah yang memberikan edukasi lintas generasi.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan gereja-gereja tua ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki warisan sejarah yang kaya dan beragam, yang patut dilestarikan sebagai identitas bangsa. (Red)

Kamis, 16 April 2026

Merinding! Suara Misterius & Bayangan Putih di Kuil Ini Bikin Warga Tak Berani Datang Malam Hari



RELIGI - Sejumlah kuil dan klenteng tua di wilayah Jawa Barat kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Bukan hanya karena nilai sejarah dan arsitekturnya, tetapi juga kisah-kisah mistis yang berkembang dari mulut ke mulut selama puluhan tahun.

Cerita tersebut hidup kuat di tengah warga lokal, terutama di kota-kota seperti Cirebon dan Bandung, yang dikenal memiliki klenteng-klenteng berusia ratusan tahun.

Salah satu yang paling sering disebut adalah Vihara Dewi Welas Asih. Klenteng yang diyakini sebagai salah satu tertua di Indonesia ini tak lepas dari cerita spiritual.

Warga sekitar mengaku kerap merasakan suasana berbeda, terutama saat malam hari. Beberapa menyebut adanya suara langkah kaki tanpa wujud hingga aroma dupa yang muncul tiba-tiba.

"Kalau malam, suasananya memang beda. Tenang, tapi kadang bikin merinding,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Cerita serupa juga muncul dari Klenteng Hok Tek Bio. Selain dikenal sebagai tempat ibadah untuk memohon rezeki, sejumlah pengunjung mengaku mengalami hal tak biasa.

Mulai dari rasa pusing mendadak hingga perasaan seperti diawasi saat berada di dalam area klenteng.

"Katanya kalau niatnya nggak baik, biasanya nggak betah lama di dalam,” ungkap seorang pedagang di sekitar lokasi.

Di Bandung, Vihara Dharma Ramsi juga kerap disebut memiliki aura kuat. Meski berada di kawasan padat, beberapa pengunjung mengaku merasakan kesunyian yang berbeda saat memasuki ruang utama vihara.

"Ada yang bilang dadanya terasa berat. Tapi ada juga yang justru merasa tenang,” kata seorang pengurus vihara.

Fenomena ini pun mendapat tanggapan dari pemerhati budaya, Murfito Adi. Ia menilai, cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari dinamika budaya yang berkembang di masyarakat.

"Yang perlu dipahami, tempat-tempat ini adalah situs ibadah dan sejarah. Cerita mistis yang beredar lebih kepada pengalaman subjektif dan kepercayaan lokal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap menghormati fungsi utama tempat tersebut sebagai ruang spiritual.

Terlepas dari berbagai cerita yang beredar, kuil dan klenteng di Jawa Barat tetap menjadi simbol toleransi dan warisan budaya yang harus dijaga.

Bagi sebagian orang, tempat-tempat ini bukanlah lokasi angker, melainkan ruang untuk mencari ketenangan, harapan, dan doa.

Namun bagi lainnya, kisah-kisah tak kasat mata justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat tempat tersebut terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. (Red)


Rabu, 15 April 2026

5 Tempat Keramat di Jawa Barat yang Tak Pernah Sepi, Nomor 1 Jadi Pusat Ziarah Nasional



RELIGI – Sejumlah tempat keramat di Jawa Barat hingga kini masih menjadi tujuan utama ziarah masyarakat. Selain memiliki nilai spiritual, lokasi-lokasi tersebut juga menyimpan jejak sejarah panjang, khususnya terkait penyebaran Islam dan peninggalan tokoh kerajaan Sunda.

Tradisi ziarah yang terus berlangsung menunjukkan kuatnya keterikatan masyarakat terhadap nilai religius dan budaya lokal. Berikut lima tempat keramat yang paling dikenal dan kerap dikunjungi peziarah:

Salah satu yang paling populer adalah Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana. Situs ini merupakan tempat peristirahatan Sunan Gunung Jati, tokoh penting dalam penyebaran Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kompleks makam ini tidak pernah sepi, terutama menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan.

Di wilayah Tasikmalaya, terdapat Gua Safarwadi Pamijahan yang berlokasi di Desa Pamijahan. Tempat ini dikenal sebagai pusat dakwah Syekh Abdul Muhyi. Gua tersebut diyakini memiliki nilai spiritual tinggi dan sering digunakan untuk berdoa serta melakukan ritual keagamaan.

Sementara itu di Garut, peziarah banyak mendatangi makam Prabu Kian Santang yang berada di Kampung Godog. Tokoh ini dikenal dalam legenda sebagai sosok sakti dari Kerajaan Pajajaran yang kemudian menyebarkan ajaran Islam. Kompleks makamnya menjadi salah satu pusat ziarah penting di wilayah Priangan.

Tak jauh berbeda, di Kabupaten Ciamis terdapat Situs Keramat Depok yang berlokasi di Desa Depok. Situs ini dipercaya sebagai petilasan perjalanan spiritual Prabu Kian Santang. Dikelilingi pepohonan tua, suasana di lokasi ini kental dengan nuansa sakral dan sering dimanfaatkan untuk doa serta tirakat.

Adapun di Cirebon, terdapat Keramat Plangon yang berada di Desa Babakan. Kompleks ini merupakan makam tokoh penyebar Islam seperti Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan. Selain nilai religius, kawasan ini juga dikenal dengan keberadaan kera liar yang hidup di sekitar hutan, menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Fenomena ramainya ziarah ke tempat-tempat keramat ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak hanya menjaga tradisi spiritual, tetapi juga merawat warisan sejarah. Aktivitas ziarah umumnya meningkat pada malam Jumat, bulan Maulid, serta menjelang Ramadan.

Bagi sebagian masyarakat, ziarah bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa dalam perjalanan sejarah dan penyebaran agama di Tanah Pasundan. (Red)

Rabu, 01 April 2026

Ziarah Penuh Makna, Persit KCK Purwakarta Kenang Jasa Pahlawan di Usia ke-80



Purwakarta – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) ke-80 tahun 2026, Persit Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta menggelar kegiatan ziarah rombongan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sirna Raga, Jalan Terusan Industri, Kelurahan Purwamekar, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Kamis (1/4/2026) pagi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya Ketua KCK Sub Anak Ranting (4) Subdenpom 3/III Siliwangi Ny. Neni Asep Casmita, pengurus Persit Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta, Persit Cabang XII Menarmed 1, serta Persit Ranting 2 Yon Armed 9/Pasopati.

Kegiatan ziarah ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Persit KCK ke-80 yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, mengenang jasa para pahlawan, serta mempererat kebersamaan antar anggota Persit.

Komandan Kodim 0619/Purwakarta, Letkol Inf Ardha Cairova Pari Putra, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ziarah ini memiliki makna penting dalam membangun karakter dan jiwa kebangsaan.

“Ziarah ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengenang dan meneladani perjuangan para pahlawan. Kami berharap seluruh anggota Persit dapat terus menanamkan nilai-nilai patriotisme serta mendukung tugas suami dalam pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Dandim.

Ia juga menambahkan bahwa peringatan HUT Persit KCK ke-80 diharapkan menjadi penguat soliditas organisasi serta meningkatkan peran Persit dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. (FITO)

Jumat, 04 Juli 2025

Pertemuan Tokoh Lintas Agama Kuatkan Kesatuan Dan Persatuan , Kondusifitas Serta Kerukunan Umat

 


Infonas.ID | Sukabumi,-Bupati Sukabumi H. Asep Japar berkumpul bersama tokoh lintas agama se Kabupaten Sukabumi di Pendopo, Kamis, 3 Juli 2025. Kegiatan dalam rangka silaturahmi ini dihadiri juga oleh Forkopimda Sukabumi dan Staf Khusus Kementerian Hak Asasi Manusia.

Dalam kesempatan tersebut, H. Asep berterima kasih kepada semua pihak yang terus menjaga kondusifitas dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Sukabumi.
"Alhamdulillah dan terima kasih kepada semua pihak. Kita bisa bersilaturahmi memperkuat kesatuan dan persatuan serta mempererat tali persaudaraan di antara kita," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak semua pihak untuk bersama - sama berkolaborasi menegakan dan menjaga kerukunan beragama.
"Harus kita tanamkan bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak dasar yang diatur dalam undang-undang. Termasuk dalam konstitusi dan konvensi internasional tentang hak sipil politik," ucapnya.
Maka dari itu, dirinya turut prihatin atas peristiwa yang terjadi di Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, beberapa waktu lalu. H. Asep berharap peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari.
"Semoga kita semua bisa mengambil hikmah besar dari peristiwa tersebut," harapnya.
Kapolres Sukabumi AKBP Samian menegaskan, pengrusakan tempat yang terjadi di Kecamatan Cidahu, bukanlah tempat ibadah beragama. Hal itu melainkan rumah singgah atau villa yang saat itu kebetulan digunakan untuk aktifitas terkait kegiatan agama.
"Insinden di Cidahu ada yang mengaitkan ke agama ataupun SARA, berdasarkan fakta di lapangan tidak seperti itu. Tempat yang dirusak merupakan rumah singgah atau villa. Peristiwa itu terjadi akibat kesalahpahaman," tegasnya.
Oleh karena itu, dirinya meminta semua pihak untuk tidak tergiring opini dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Di Kecamatan Cidahu sendiri, sejauh ini aman, tentram, dan damai.
"Faktanya,kebebasan beribadah di Cidahu sampai sekarang terjalin dengan baik. Bahkan masyarakatnya aman, kondusif, dan tentram," ungkapnya.
Staf Khusus Kementerian Hak Asasi Manusia, Thomas Suwarta pun membenarkan peristiwa di Cidahu, Kabupaten Sukabumi akibat kesalahpahaman. Terutama mengenai istilah tempat ibadah, rumah ibadah, dan tempat pembinaan rohani.
"Ini betul -betul murni kesalahpahaman. Adanya mispersepsi dan miskomunikasi," bebernya.
Dirinya pun mengapresiasi kepolisian yang respon cepat. Sehingga bisa ditangani dan dinetrailisir dan tak berkembang.
"Ini betul-betul kesalahpahaman semata, Bangsa Indonesia ialah bangsa yang menghargai keberagaman. Kita ini Bhineka Tunggal Ika," pungkasnya. ( ADV )
© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved