-->

Minggu, 13 September 2026

Dari Desa untuk Dunia! Anak-anak Cijaya Tampil Pidato Bahasa Inggris di Hadapan Warga

PURWAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Cijaya, Kabupaten Purwakarta, berlangsung khidmat sekaligus menghadirkan suasana berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di tengah rangkaian kegiatan keagamaan tersebut, sejumlah anak peserta kursus gratis yang diselenggarakan Pemdes Cijaya tampil percaya diri menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris di hadapan warga dan para tamu undangan.

Penampilan tersebut sontak mendapat perhatian dan apresiasi. Anak-anak desa yang selama ini mengikuti program kursus bahasa Inggris menunjukkan keberanian berbicara menggunakan bahasa asing di depan khalayak.

Kepala Desa Cijaya, H. Tri Sutisna, mengaku terharu melihat langsung kemampuan dan keberanian anak-anak tersebut.

“Alhamdulillah, saya merasa terharu melihat tampilnya anak-anak berpidato dalam bahasa Inggris. Ini menjadi salah satu program prioritas kepala desa untuk membekali generasi muda dengan keterampilan global,” ujar H. Tri Sutisna.

Menurut Tri Sutisna, program kursus bahasa Inggris dan komputer tersebut telah berjalan selama kurang lebih satu tahun. Program itu diberikan secara gratis kepada masyarakat Desa Cijaya yang memiliki minat untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan.

Ia berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan kemampuan teknis, tetapi juga mampu membangun rasa percaya diri dan kreativitas generasi muda di tingkat desa.

“Kami berharap generasi muda memiliki kreativitas untuk masa depan, salah satunya dengan menguasai bahasa asing. Dengan bekal ini, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.

Rangkaian kegiatan Maulid Nabi diawali dengan penampilan pidato bahasa Inggris oleh para peserta kursus. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta.

Acara selanjutnya ditutup dengan pembacaan Barzanji bersama masyarakat. Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) serta tokoh masyarakat turut hadir dan memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Bagi Pemdes Cijaya, momentum Maulid Nabi tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahmi dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan potensi generasi muda.

Program kursus gratis bahasa Inggris dan komputer menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah desa terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pemdes Cijaya berharap keterampilan yang diperoleh anak-anak tersebut dapat menjadi bekal menghadapi perkembangan zaman sekaligus membuka peluang yang lebih luas di masa depan.

Melalui perpaduan pendidikan keagamaan dan peningkatan keterampilan, Pemdes Cijaya berupaya membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki wawasan luas dan kemampuan bersaing, tetapi juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan akhlak.

Dengan demikian, investasi pembangunan desa tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui peningkatan kualitas manusia sebagai generasi penerus pembangunan. (AGUS)

Sabtu, 05 September 2026

Bikin Haru! Suara Santri Cilik Menggema di Maulid Nabi Desa Cimahi

PURWAKARTA — Suasana haru dan bangga mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Mushola Albahriyah, Desa Cimahi, Kabupaten Purwakarta. Sabtu (05/09/2016)

Perhatian para jamaah tertuju pada penampilan sejumlah anak-anak pengajian yang tampil membacakan Barzanji dengan lancar dan fasih. Mereka melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan bagian dari tradisi keagamaan dalam peringatan Maulid Nabi.

Penampilan para santri cilik tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat yang hadir. Kemampuan mereka menghafal dan melantunkan bacaan Barzanji dinilai menjadi gambaran positif dari pembinaan keagamaan sejak usia dini.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, yang turut menghadiri kegiatan tersebut mengaku bangga melihat antusiasme dan kemampuan anak-anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan.

"Selaku orang tua tentunya pasti sangat membanggakan melihat anaknya bisa tampil membaca Barzanji. Dan selaku pemerintahan desa, kami tentunya sangat gembira karena berkembangnya syiar Islam sampai ke pelosok," ujar Asep.

Menurutnya, kegiatan keagamaan yang melibatkan anak-anak dan remaja memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus.

Ia berharap pembinaan keagamaan yang dilakukan secara rutin dapat menanamkan nilai-nilai akhlak dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejak dini.

"Insya Allah, jika generasi penerus semuanya seperti ini—berakhlakul karimah dan mencintai Nabi—maka negara akan menjadi kuat," tegasnya.

Kegiatan Maulid Nabi di Mushola Albahriyah tersebut turut dihadiri masyarakat, para orang tua santri, serta unsur pemerintahan dan keamanan setempat. Di antaranya perwakilan Pemerintah Desa Cimahi, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa Desa Cimahi.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan yang melibatkan anak-anak dan remaja di lingkungan masyarakat.

Melalui pengajian dan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin, masyarakat berharap minat belajar agama generasi muda di Desa Cimahi semakin meningkat.

Pembinaan tersebut diharapkan tidak hanya membentuk generasi yang memiliki pengetahuan dan kecerdasan, tetapi juga memiliki akhlak, moral, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Dengan demikian, kegiatan keagamaan di tingkat desa dapat menjadi salah satu ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dengan nilai-nilai positif sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. (AGUS)

Kamis, 03 September 2026

Dana Haji Rp180 Triliun, BPKH Dihadapkan pada Ujian Besar


Refleksi Dr. KH. Maman Imanulhaq

Anggota Komisi VIII DPR RI

JAKARTA – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) diminta terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, serta sistem pengawasan dalam mengelola dana haji. Langkah tersebut dinilai penting seiring semakin besarnya dana yang dikelola BPKH.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH. Maman Imanulhaq, mengatakan pengalaman yang terjadi pada Lembaga Tabung Haji (LTH) Malaysia dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat pengelolaan dana jamaah.

Menurut Maman, besarnya dana, panjangnya sejarah, dan tingginya reputasi sebuah lembaga tidak secara otomatis menjamin kuatnya tata kelola.

“Dalam pengelolaan dana umat, yang menentukan ketahanan sebuah institusi bukan hanya seberapa besar keuntungan yang mampu dihasilkan, tetapi seberapa kokoh sistem yang menjaga agar keuntungan itu diperoleh secara sehat, risiko dikendalikan, aturan dipatuhi, dan seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan,” kata Maman dalam refleksinya mengenai pengelolaan dana haji.

Ia menilai BPKH memiliki fondasi kelembagaan yang kuat karena pengelolaan keuangan haji didukung sistem Governance, Risk Management and Compliance (GRC), kemandirian kelembagaan, serta mekanisme pengawasan berlapis.

Menurutnya, kekuatan BPKH tidak semata-mata diukur dari kinerja keuangan, tetapi juga dari kemampuan sistem kelembagaan dalam melindungi dana jamaah dari berbagai risiko.

Maman menyoroti persoalan yang muncul dalam pengelolaan LTH Malaysia. Berdasarkan hasil Royal Commission of Inquiry (RCI) Malaysia sebagaimana dirangkum dalam artikel Politics, Piety and Poor Governance: 

Malaysia's Hajj Fund Reckoning yang dimuat Islamic Finance News pada 5 Agustus 2026, terdapat sejumlah persoalan terkait pengelolaan keuangan dan investasi LTH.

Dalam laporan tersebut, LTH disebut mengalami kerugian sekitar RM1,4 miliar pada 2017, tetapi tetap membagikan hibah sekitar RM2,27 miliar. Setelah berbagai penyesuaian akuntansi, LTH kemudian melaporkan laba sekitar RM3,4 miliar.

RCI juga menyoroti penurunan nilai investasi yang diperkirakan mencapai RM4,26 miliar.

Maman mengatakan, apabila temuan tersebut benar sebagaimana dilaporkan, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan besarnya kerugian atau keuntungan.

“Persoalan utamanya adalah kegagalan sistem untuk memastikan bahwa angka yang disajikan benar-benar mencerminkan realitas ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai persoalan tata kelola menjadi sangat penting bagi lembaga yang mengelola dana publik dan dana umat. Ketika laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, menurutnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi keuangan lembaga, tetapi juga kepercayaan masyarakat.

Maman menyebut BPKH dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji dengan mandat mengelola keuangan haji berdasarkan prinsip syariah, kehati-hatian, manfaat, transparansi, dan akuntabilitas.

Namun, menurut dia, kekuatan regulasi perlu diikuti penerapan tata kelola yang efektif.

Ia menjelaskan, aspek Governance diperlukan untuk memastikan kewenangan, tanggung jawab, proses pengambilan keputusan, serta mekanisme pengawasan berjalan secara jelas.

Sementara Risk Management diperlukan untuk memastikan setiap keputusan investasi mempertimbangkan potensi keuntungan sekaligus risiko dan dampaknya terhadap dana jamaah.

“Dalam pengelolaan dana lebih dari Rp180 triliun, pertanyaan mengenai risiko, kemungkinan kerugian, dampak terhadap dana jamaah dan mitigasinya bukan pilihan. Itu kewajiban,” kata Maman.

Adapun aspek Compliance diperlukan untuk memastikan seluruh keputusan pengelolaan keuangan haji tetap berada dalam koridor peraturan perundang-undangan, regulasi, prinsip syariah, dan kebijakan pengelolaan keuangan haji.

Menurut Maman, ketiga aspek tersebut harus berjalan sebagai satu sistem pertahanan dalam menjaga dana jamaah.

Maman juga menyoroti semakin besarnya dana yang dikelola BPKH. Pada 2025, dana kelolaan BPKH disebut mencapai sekitar Rp180,74 triliun dengan nilai manfaat sekitar Rp12,05 triliun.

BPKH juga dilaporkan telah memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak delapan kali berturut-turut.

Maman menilai capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, capaian itu tidak boleh membuat pengelolaan dana haji kehilangan kewaspadaan.

“Semakin besar dana yang dikelola, semakin besar risiko yang harus dikelola. Semakin tinggi nilai manfaat, semakin besar pula tuntutan transparansi,” katanya.

Ia menegaskan opini WTP bukan merupakan akhir dari proses pengawasan. “WTP bukan garis finis. WTP adalah titik untuk meningkatkan standar,” ujarnya.

Selain GRC, Maman menilai kemandirian kelembagaan menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan dana haji.

Menurutnya, kemandirian tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan dari pengawasan. BPKH harus memiliki ruang profesional dalam mengambil keputusan investasi berdasarkan kajian, data, risiko, prinsip syariah, dan kepentingan jangka panjang jamaah.

Namun, pada saat yang sama, BPKH tetap harus tunduk pada hukum dan mekanisme pertanggungjawaban.

“Prinsip yang harus dijaga adalah independen dalam pengelolaan, akuntabel dalam pertanggungjawaban,” katanya.

Ia menilai prinsip checks and balances diperlukan agar kemandirian kelembagaan tetap berjalan beriringan dengan pengawasan.

Maman menyebut pengawasan terhadap BPKH melibatkan sejumlah institusi dengan perspektif yang berbeda, di antaranya Dewan Pengawas BPKH, BPK, dan DPR RI melalui Komisi VIII sesuai kewenangannya.

Menurutnya, perbedaan perspektif tersebut dapat menjadi kekuatan dalam memastikan pengelolaan dana haji berjalan secara akuntabel.

Dewan Pengawas memiliki perspektif tata kelola dan pengendalian internal kelembagaan. BPK menjalankan fungsi pemeriksaan sesuai kewenangannya, sementara Komisi VIII DPR RI menjalankan fungsi pengawasan dari sisi kebijakan publik, regulasi, kepentingan jamaah, dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan haji.

Namun, Maman mengingatkan pengawasan tidak boleh berhenti pada rapat maupun laporan administratif.

“Pengawasan harus mampu menguji angka, menilai risiko, mempertanyakan keputusan investasi, dan memastikan setiap rekomendasi benar-benar ditindaklanjuti,” katanya.

Maman juga mengingatkan agar nilai manfaat tidak menjadi tekanan yang mendorong pengambilan risiko berlebihan dalam investasi dana haji.

Menurutnya, target keuntungan harus tetap ditempatkan dalam kerangka kehati-hatian dan keberlanjutan.

“Lebih baik nilai manfaat tumbuh secara moderat tetapi sehat, daripada tinggi tetapi rapuh,” katanya.

Ia menilai jamaah membutuhkan pengelola dana yang mampu menjaga keamanan dan keberlanjutan dana, bukan hanya menghasilkan angka keuntungan yang tinggi.

Maman mengatakan persoalan LTH Malaysia sebaiknya tidak dijadikan momentum untuk membandingkan lembaga mana yang lebih baik antara Malaysia dan Indonesia.

Menurutnya, pengalaman tersebut justru harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem pengelolaan dana haji di Indonesia.

“BPKH harus menjadi model bahwa dana umat dapat dikelola secara modern tanpa kehilangan nilai amanah,” katanya.

Ia menekankan pentingnya menjaga profesionalisme, kehati-hatian, kemandirian, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap proses pengelolaan dana haji.

Pada akhirnya, kata Maman, dana haji bukan hanya aset finansial. Di balik dana tersebut terdapat jamaah yang menabung selama bertahun-tahun untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci.

Karena itu, menurut dia, pengelolaan dana haji harus menempatkan amanah jamaah sebagai tujuan utama.

“Kekuatan sebuah lembaga pengelola dana haji tidak ditentukan oleh besarnya dana yang dikelola, tetapi oleh kekuatan sistem yang mencegah dana tersebut disalahkelola,” ujarnya.

Maman menegaskan BPKH memiliki modal kelembagaan yang kuat melalui penerapan GRC, kemandirian pengelolaan, serta mekanisme pengawasan berlapis.

Namun, sistem tersebut tetap harus diperkuat seiring meningkatnya jumlah dana yang dikelola.

“Dalam pengelolaan dana umat, keuntungan adalah hasil; tetapi amanah adalah tujuan,” pungkasnya.

Rabu, 02 September 2026

Maulid Nabi di Desa Cimahi, Pesan Camat Campaka Jadi Sorotan


PURWAKARTA – Pemerintah Desa (Pemdes) Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pengajian rutin malam Rabu.

Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah unsur pemerintahan, aparat keamanan, tokoh agama, serta masyarakat. 

Di antaranya Camat Campaka Dikky Sukmawijaya, S.IP., M.KP., Kapolsek Campaka, perwakilan Koramil 1904 Campaka, serta Pimpinan Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin, Abuya Hasan Asy’ari yang bertindak sebagai pemberi tausyiah utama.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.

Menurutnya, momentum Maulid Nabi tidak hanya menjadi ajang untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kecintaan dan meneladani perjuangan serta akhlak beliau.

"Pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dilaksanakan bertepatan dengan pengajian rutin malam Rabu. Saya berharap semua warga masyarakat untuk turut andil dalam mengagungkan kelahiran junjungan seluruh alam, Nabi Muhammad SAW, agar keberkahan dan kecintaan kepada beliau tetap langgeng di hati kita," ujar Asep Saepul Bahrie.

Sementara itu, Camat Campaka Dikky Sukmawijaya menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau ritual tahunan semata.

Menurutnya, nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, khususnya dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat.

"Pelaksanaan Maulid Nabi bukan saja memperingati, tapi menjadi suri tauladan untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana membangun akhlak manusia sehingga tercipta budaya silih asah, silih asih, dan silih asuh," tegas Dikky Sukmawijaya.

Ia menambahkan, meneladani akhlak Rasulullah SAW dapat menjadi kekuatan moral dalam membangun kehidupan yang lebih baik, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh, kata Dikky, juga penting untuk terus ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta lingkungan yang saling menghargai, menjaga, dan menyayangi.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cimahi semakin khidmat dengan tausyiah yang disampaikan Abuya Hasan Asy’ari. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan diharapkan dapat memberikan penguatan spiritual sekaligus menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dengan dukungan pemerintah desa, unsur Forkopimcam, tokoh agama, dan masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu memperkuat nilai-nilai keislaman serta mendorong lahirnya generasi yang memiliki akhlak mulia.

Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat Desa Cimahi juga diharapkan semakin mempererat tali silaturahmi dan bersama-sama membangun kehidupan sosial yang rukun, harmonis, serta berlandaskan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW. (Agus)

Jumat, 28 Agustus 2026

Di Tengah Muktamar NU, Kiai Maman Serukan Gerakan Sadar Nikah: “Catat, Simpan dan Lindungi

 

JOMBANG — Di tengah rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Anggota DPR RI Komisi VIII Dr. KH. Maman Imanulhaq, M.M. mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran untuk mencatatkan pernikahan secara resmi.

Menurut Kiai Maman, pencatatan pernikahan tidak semata-mata berkaitan dengan administrasi, tetapi menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi keluarga, khususnya perempuan dan anak.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Maman saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Gerakan Sadar Pencatatan Nikah di Pondok Pesantren (PP) Ar Roudloh Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut turut menghadirkan Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Jaja Zarkasyi, sebagai narasumber. Acara diikuti peserta yang mayoritas merupakan alumni Tambakberas.

Tuan rumah kegiatan, Gus Muhammad Iqbal Firdaus atau Gus Iqbal, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menilai pencatatan pernikahan merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang kokoh secara agama sekaligus memiliki kepastian hukum.

“Pesantren memiliki tanggung jawab untuk membekali generasi muda bukan hanya dengan ilmu agama, tetapi juga dengan pemahaman tentang kehidupan sosial dan tanggung jawab dalam membangun keluarga,” ujar Gus Iqbal.

Menurut Gus Iqbal, kesadaran mengenai pentingnya pencatatan pernikahan perlu ditanamkan sejak seseorang mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga.

Ia menegaskan, menjalankan ajaran agama dan menaati aturan negara bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

“Keluarga yang kuat harus dibangun dengan ilmu, tanggung jawab dan kesadaran. Karena itu, pencatatan pernikahan menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan,” katanya.

Di hadapan para peserta, Kiai Maman menjelaskan bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekadar persoalan akad yang sah. Pernikahan merupakan mitsaqan ghalizhan, atau perjanjian yang kokoh, yang melahirkan tanggung jawab moral, sosial dan hukum.

Karena itu, menurut dia, setiap pasangan perlu memastikan hak dan kewajiban dalam kehidupan keluarga memperoleh perlindungan yang memadai.

“Pernikahan adalah ibadah, keluarga adalah amanah, dan pencatatan merupakan bentuk ikhtiar untuk memberikan perlindungan,” kata Kiai Maman, yang merupakan lulusan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Ia mengingatkan, pentingnya dokumen perkawinan sering kali baru dirasakan ketika keluarga menghadapi persoalan, mulai dari perceraian, sengketa harta, urusan waris hingga kebutuhan administrasi anak.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu persoalan muncul untuk memastikan status dan dokumen pernikahan mereka.

“Jangan menunggu persoalan datang baru mencari bukti perkawinan. Pencatatan harus dilakukan sejak awal sebagai bagian dari tanggung jawab membangun keluarga,” ujarnya.

Kiai Maman juga melihat pencatatan pernikahan dari perspektif maqashid syariah. Menurutnya, pencatatan berkaitan dengan upaya menjaga keturunan (hifz al-nasl) dan menjaga harta (hifz al-mal), sekaligus memberikan kepastian terhadap hak-hak anggota keluarga.

Ia juga mengaitkan pentingnya dokumentasi dengan semangat pencatatan dalam QS Al-Baqarah ayat 282 yang menekankan pentingnya dokumentasi untuk menjaga hak dan mencegah terjadinya perselisihan.

Sementara itu, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Jaja Zarkasyi mengatakan, keluarga sakinah perlu dipersiapkan sejak sebelum akad pernikahan.

Menurut Jaja, calon pengantin perlu memahami hak dan kewajiban suami-istri, membangun komunikasi yang sehat, memiliki kesiapan mental serta memahami aspek hukum perkawinan.

“Pencatatan nikah menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan keluarga memperoleh perlindungan hukum,” ujarnya.

Jaja juga mendorong agar gerakan sadar pencatatan nikah tidak hanya menjadi tanggung jawab Kantor Urusan Agama (KUA), tetapi melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Mulai dari tokoh agama, pesantren, pemerintah daerah, pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan hingga keluarga dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.

Pengasuh Ponpes Ar Roudloh, Nyai Hj. Ummu Hanifah, menambahkan bahwa membangun keluarga sakinah membutuhkan kesadaran dan kesiapan dari kedua pasangan.

Menurutnya, perempuan dan anak harus menjadi bagian penting dalam upaya membangun keluarga yang sehat dan terlindungi.

“Keluarga bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat pertama untuk menanamkan nilai agama, akhlak dan kasih sayang. Karena itu, setiap pasangan harus memahami tanggung jawabnya sejak awal, termasuk memastikan pernikahannya tercatat dengan baik,” tuturnya.

Sebagai Anggota DPR RI Komisi VIII, Kiai Maman menegaskan pentingnya kehadiran negara melalui regulasi, anggaran, pengawasan dan pelayanan publik yang mudah diakses masyarakat.

Ia berharap proses pencatatan pernikahan dapat dilakukan secara mudah, cepat dan terjangkau sehingga masyarakat tidak kehilangan hak-haknya hanya karena persoalan administrasi.

Dewan Syuro DPP PKB itu kemudian mengajak masyarakat menjadikan kesadaran mencatatkan pernikahan sebagai kebiasaan bersama melalui empat langkah sederhana: Sadar, Catat, Simpan dan Lindungi.

“Nikah adalah ibadah. Keluarga adalah amanah. Pencatatan adalah ikhtiar perlindungan. Dengan pencatatan, kita bukan hanya menjaga dokumen, tetapi juga menjaga masa depan keluarga dan anak-anak kita,” pungkas Kiai Maman.

Selasa, 25 Agustus 2026

Semarak Maulid Nabi di Ponpes Al-Haromain, Ulama dan Tokoh Masyarakat Serukan Penguatan Iman

PURWAKARTA — Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Haromain Cirangin, Kabupaten Purwakarta, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh semarak dan khidmat. Kegiatan tersebut diikuti antusias oleh jamaah dan masyarakat sekitar.

Peringatan Maulid Nabi menghadirkan penceramah Al-Habib Hamid bin Abu Bakar Barakwan, Khodimul Majelis Rasulullah SAW. Kehadiran Habib Hamid menambah kekhidmatan acara sekaligus menjadi daya tarik bagi jamaah yang hadir.

Dalam tausyiahnya, Al-Habib Hamid mengajak umat Islam untuk menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan Maulid, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al-Haromain Cirangin, Abuya Hasan Asy’ari, mengajak masyarakat menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana introspeksi atau muhasabah untuk memperbaiki diri.

“Ramaikan dan gebyarkanlah selama bulan kelahiran Nabi. Karena dengan mencintai beliau, kita berharap akan mendapatkan syafaat nanti di Yaumul Akhirat,” ujar Abuya Hasan Asy’ari.

Ia menegaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW hendaknya tidak berhenti pada simbol maupun seremonial. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan dengan berusaha mengikuti sunnah dan meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie. Dalam kesempatan itu, Asep mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.

“Apalagi di bulan kelahiran Rasulullah, mari kita lebih mensyiarkan kecintaan kepada beliau. Ini adalah momentum tepat untuk memperkuat spiritualitas kita sebagai hamba Allah,” tegas Asep Saepul Bahrie.

Antusiasme jamaah terlihat sejak awal hingga berakhirnya kegiatan. Lantunan sholawat, tausyiah keagamaan, serta kehadiran ulama dan tokoh masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi di Ponpes Al-Haromain Cirangin tidak hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai keimanan masyarakat Desa Cimahi dan sekitarnya. (AGUS)

Rabu, 19 Agustus 2026

Ribuan Sholawat Menggema di Cimahi, Kades Asep Dorong Desa Makin Religius dan Berakhlak

PURWAKARTA – Pemerintah Desa Cimahi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, menunjukkan dukungannya terhadap kegiatan syiar keagamaan dengan menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid Jamie Alfalah, Lingkungan Citenjo.

Kepala Desa Cimahi, Asep Saepul Bahrie, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah desa terhadap berbagai kegiatan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Asep mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat dalam menyemarakkan kegiatan keagamaan. Menurutnya, kegiatan seperti peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi sarana memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan masyarakat.

«“Saya merasa bangga dengan kegiatan syiar keagamaan yang gebyar di wilayah Desa Cimahi. Ini sejalan dengan salah satu program Pemdes Cimahi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan melalui berbagai kegiatan keagamaan,” ujar Asep.»

Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat. Acara diawali dengan pembacaan Deba atau puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakan para santri Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin.

Lantunan sholawat dan puji-pujian tersebut mengiringi suasana religius sebelum jamaah mengikuti acara inti berupa tausyiah.

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin, Abuya Hasan Asy’ari, hadir sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan tausyiah mengenai keteladanan Rasulullah SAW, termasuk nilai-nilai spiritual dan sosial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Para jamaah tampak antusias menyimak tausyiah hingga kegiatan berlangsung. Masjid Jamie Alfalah dipenuhi masyarakat dari berbagai lapisan yang mengikuti rangkaian acara dengan tertib dan khidmat.

Tingginya partisipasi warga tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Cimahi.

Kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh agama, masyarakat, dan lembaga pendidikan keagamaan seperti Pondok Pesantren Al-Haromain Cirangin diharapkan dapat terus diperkuat.

Melalui berbagai kegiatan keagamaan, Desa Cimahi diharapkan tidak hanya mampu menjaga tradisi syiar Islam, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang semakin religius, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak.

Dengan demikian, semangat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah sekaligus mempererat persaudaraan di tengah masyarakat. (AGUS)

Minggu, 16 Agustus 2026

Semarak HUT ke-81 RI, Yayasan Kasih Bapa Gelar Bakti Sosial Gratis di Semarang


SEMARANG – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Kasih Bapa–Tangerang menggelar kegiatan pelayanan sosial bagi masyarakat di Kota Semarang.

Kegiatan sosial tersebut dilaksanakan kepada jemaat Gereja GIA yang berlokasi di Jalan Cemara 2 Nomor 24, Banyumanik, Kota Semarang, yang dipimpin oleh Pdt. Andreas selaku Gembala Sidang. (Minggu, 16/08/2026)

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dan jemaat mendapatkan sejumlah layanan sosial dan pemeriksaan kesehatan secara gratis. Di antaranya pemberian kacamata gratis, pemeriksaan tekanan darah, pengecekan gula darah, hingga pemeriksaan kadar kolesterol.

Pimpinan Yayasan Kasih Bapa, Ihwan Mulianto, yang akrab disapa Pak Mul, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen yayasan untuk hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurut Pak Mul, momentum peringatan kemerdekaan tidak hanya dapat diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aksi sosial dan pelayanan kepada sesama.

“Kasih Bapa adalah sebuah yayasan sosial yang rindu melayani masyarakat. Kami ingin kehadiran yayasan dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat,” ujar Pak Mul.

Ia berharap kegiatan sosial tersebut dapat terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Selain pemeriksaan kesehatan, pemberian kacamata gratis menjadi salah satu bentuk pelayanan yang mendapat perhatian. Layanan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami kendala penglihatan sehingga aktivitas sehari-hari dapat dilakukan dengan lebih baik.

Sementara itu, salah satu anggota Yayasan Kasih Bapa, Yosep Setiawan, mengaku merasa bahagia dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial tersebut.

“Saya sungguh merasa bahagia dapat ikut serta berpartisipasi dalam acara ini. Bisa berbagi dan memberikan pelayanan kepada sesama merupakan pengalaman yang sangat berarti,” kata Yosep.

Ia menilai kegiatan sosial semacam ini memiliki nilai positif karena tidak hanya memberikan bantuan secara langsung, tetapi juga mempererat kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan pelayanan sosial Yayasan Kasih Bapa tersebut menjadi salah satu bentuk pengisian momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan semangat berbagi, kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Kasih Bapa berharap semangat kemerdekaan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (YOSEP)

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved