-->

Sabtu, 23 Mei 2026

Menelusuri Jejak Kejayaan Kesultanan Bungku


MOROWALI, - Kabupaten Morowali di Sulawesi Tengah tidak hanya dikenal sebagai salah satu pusat industri nikel terbesar di Indonesia. Jauh sebelum era industri dimulai, tanah subur di pesisir timur Sulawesi ini merupakan pusat peradaban maritim yang megah, yakni Kesultanan Bungku.

Berdiri sejak abad ke-15 Masehi, kerajaan yang awalnya didirikan oleh komunitas Suku Bungku asli (Miano Tobungku) ini berkembang menjadi pusat syiar Islam dan kekuatan maritim yang diperhitungkan di kawasan Teluk Tolo serta Laut Banda.

Struktur Pemerintahan yang Unik

Dalam perjalanannya, Kesultanan Bungku mengadopsi sistem pemerintahan dari Kesultanan Ternate karena sempat menjadi wilayah bawahan (vazal). Pemimpin tertinggi di kerajaan ini dianugerahi gelar kehormatan Peapua atau Kacili.

Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Bungku dipimpin oleh 13 orang raja secara turun-temurun. Fondasi pertahanan pertama kali diletakkan oleh Raja I, Marhum Sangiang Kinambuka. 

Dinasti ini terus berlanjut hingga kepemimpinan Raja XIII (Terakhir), Peapua Ahmad Abdurrabbie (1941–1950), yang membawa Bungku bertransisi dan berintegrasi secara damai ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Masa Kejayaan dan Harmoni Sosial

Masa keemasan Kesultanan Bungku ditandai oleh ketangguhan militer dan kemampuan diplomasi maritimnya. Para pelaut Bungku dikenal mahir menjaga stabilitas perairan dari ancaman bajak laut maupun ekspedisi kolonial Belanda. Hubungan dagang internasional pun terjalin erat dengan pelaut Bugis, Kesultanan Buton, hingga saudagar dari Singapura.

Selain kekuatan maritim, kejayaan sejati Bungku terletak pada keharmonisan sosialnya. Hukum adat yang diterapkan sangat inklusif, sehingga suku-suku pendatang dari berbagai penjuru nusantara dapat hidup berdampingan secara damai tanpa konflik bersenjata.

Warisan Sejarah yang Masih Terjaga

Hingga saat ini, jejak-jejak estetis peradaban Kesultanan Bungku masih berdiri kokoh di wilayah Bungku Tengah dan menjadi situs cagar budaya yang bernilai tinggi:

a. Benteng Fafontofure: Berada di puncak bukit setinggi 246 mdpl, benteng batu karang purba ini memiliki arsitektur unik menyerupai kapal dan berfungsi sebagai benteng pertahanan rakyat.

b. Masjid Tua Bungku (1835): Terletak di Desa Marsaoleh, masjid ini dibangun oleh Raja Kacili Mohammad Baba. Keunikannya terletak pada struktur dinding yang direkatkan menggunakan campuran kapur, putih telur, dan getah kayu waru, dengan ubin asli yang didatangkan langsung dari Singapura.

c. Istana Raja Bungku: Rumah kayu bergaya kolonial yang berdiri di atas 37 umpak cor beton, lengkap dengan area gudang senjata purba.

d. Tari Luminda: Warisan budaya takbenda berupa tarian tradisional yang melambangkan kebersamaan dan filosofi hidup masyarakat adat Tobungku.

Pemerintah daerah bersama masyarakat adat setempat terus berupaya melestarikan situs-situs bersejarah ini agar kejayaan masa lalu Kesultanan Bungku tetap menjadi identitas dan kebanggaan generasi masa depan. (RED)

Senin, 04 Mei 2026

Kirab Budaya Berujung Insiden!” Ketua DPRD Terjatuh dari Kuda



SUMEDANG — Insiden mengejutkan terjadi saat kegiatan kirab budaya dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sumedang, yang digelar pada Minggu (4 Mei 2026).

Ketua DPRD Kabupaten Sumedang dilaporkan terjatuh dari kuda yang ditungganginya ketika mengikuti prosesi tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi di tengah jalannya kirab yang diikuti sejumlah pejabat daerah dan peserta budaya.

Dalam rekaman yang beredar, korban tampak kehilangan kendali sebelum akhirnya terjatuh. Situasi semakin genting ketika kuda yang ditungganginya diduga sempat menginjak tubuhnya.

Petugas yang berada di lokasi langsung bergerak cepat memberikan pertolongan. Korban kemudian segera dievakuasi dan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Belum ada keterangan resmi terkait kondisi terbaru korban. Namun sumber di lapangan menyebutkan bahwa korban dalam kondisi sadar saat dievakuasi.

Insiden ini menjadi perhatian publik karena terjadi dalam agenda resmi daerah. Pihak terkait diharapkan segera memberikan klarifikasi resmi, sekaligus melakukan evaluasi terhadap aspek keamanan dalam kegiatan serupa di masa mendatang. (Red)

Rabu, 22 April 2026

Sambut Nyiramkeun Pusaka, Museum Talaga Manggung Bersolek



MAJALENGKA – Menjelang pelaksanaan tradisi sakral Nyiramkeun Pusaka yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Agustus 2026, Museum Talaga Manggung mulai melakukan pembenahan secara menyeluruh.

Langkah ini dilakukan bukan hanya sebagai persiapan seremoni tahunan, tetapi juga sebagai bentuk nyata pelestarian warisan budaya leluhur agar tetap hidup, terjaga, dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Pembenahan mencakup berbagai aspek, mulai dari penataan ruang museum, perawatan benda-benda pusaka, hingga penguatan fungsi museum sebagai pusat edukasi sejarah dan budaya bagi masyarakat.

Pada Senin (21/4/2026), proses pembenahan memasuki tahap penting melalui kegiatan pemetaan posisi benda pusaka. Langkah ini dinilai strategis untuk memastikan setiap benda peninggalan leluhur memiliki identitas, posisi, serta narasi sejarah yang jelas.

Kegiatan tersebut melibatkan putra daerah, TB Hasanudin, bersama Nina Herlina Lubis, seorang peneliti sekaligus ahli sejarah yang telah lama mengkaji peninggalan Talaga Manggung dan menuliskannya dalam berbagai karya ilmiah.

Kehadiran Prof. Nina Lubis mempertegas bahwa proses pembenahan museum dilakukan secara serius dan berbasis kajian akademik. Sebagai akademisi dengan rekam jejak kuat dalam penelitian sejarah Sunda, keterlibatannya menjadi bagian penting dalam menjaga keaslian nilai sejarah yang ada.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, anggota DPRD Majalengka Komisi IV, Tita Juwita Hapsiah, sebagai bentuk dukungan legislatif terhadap upaya pelestarian budaya daerah.

Kehadiran unsur DPRD dinilai penting untuk mendorong sinergi antara pelestarian sejarah dengan kebijakan pembangunan daerah, sehingga keberadaan situs budaya tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga mendapat dukungan kebijakan yang berkelanjutan.


Bendahara Panitia Nyiramkeun Pusaka, Yeni Nuraeni, mengatakan bahwa pembenahan museum menjadi bagian penting agar pelaksanaan tradisi tidak hanya berlangsung secara seremonial, tetapi juga memberikan nilai edukatif bagi masyarakat.

"Nyiramkeun Pusaka bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga momentum untuk mengingat kembali akar sejarah dan menghormati peninggalan leluhur. Karena itu, museum harus ditata dengan baik agar generasi muda bisa memahami nilai budaya yang diwariskan,” ujar Yeni.

Menurutnya, museum yang tertata rapi dan informatif akan memperkuat pesan budaya yang ingin disampaikan dalam tradisi tersebut.

"Harapan kami, masyarakat yang datang tidak hanya menyaksikan prosesi adat, tetapi juga mendapatkan pemahaman tentang sejarah Talaga Manggung dan pentingnya menjaga warisan budaya secara bersama-sama,” tambahnya.

Momentum Nyiramkeun Pusaka tahun 2026 pun dipandang sebagai titik penting untuk memperkuat kembali kesadaran kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi.

Museum Talaga Manggung kini tidak hanya dipersiapkan sebagai lokasi kegiatan adat, tetapi juga sebagai simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga jejak leluhur.

Pembenahan ini menjadi pesan tegas bahwa warisan budaya tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan harus menjadi bagian hidup yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Fito)


Sabtu, 11 April 2026

Antara Mitos dan Fakta, Cerita Mistis di Tangkuban Perahu Masih Hidup



Budaya– Keindahan alam Gunung Tangkuban Perahu memang tak diragukan lagi. Namun di balik pesonanya, gunung yang menjadi salah satu ikon wisata Jawa Barat ini juga menyimpan berbagai cerita mistis yang masih dipercaya sebagian warga.

Menurut penuturan warga sekitar, kawasan gunung tersebut sejak lama dikenal memiliki aura yang berbeda, terutama saat menjelang sore hingga malam hari. Beberapa warga mengakui pernah merasakan kejadian yang sulit dijelaskan secara logika.

“Kadang suka terdengar suara aneh, seperti langkah kaki atau bisikan, padahal tidak ada siapa-siapa,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Tak hanya warga, sejumlah pengunjung juga mengaku pernah mengalami hal serupa. Ada yang merasakan suasana tiba-tiba menjadi dingin, hingga perasaan tidak nyaman saat berada di titik tertentu di kawasan wisata tersebut.

Cerita-cerita ini kerap dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang menjadi asal-usul terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, legenda tersebut masih memiliki kaitan erat dengan hal-hal yang bersifat gaib.

Meski demikian, tidak sedikit pula yang menganggap kejadian tersebut sebagai hal yang bisa dijelaskan secara alamiah, seperti faktor cuaca, kondisi alam, maupun sugesti.

Pengelola wisata sendiri mengimbau pengunjung untuk tetap menjaga sikap dan menghormati kearifan lokal saat berada di kawasan tersebut.

Terlepas dari berbagai cerita yang beredar, Gunung Tangkuban Perahu tetap menjadi destinasi favorit wisatawan, baik lokal maupun luar daerah, yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus merasakan nuansa berbeda yang ditawarkan tempat ini. (Red)

Rabu, 07 Mei 2025

Gus Alam Wafat, Kiai Maman Ungkap Sisi Lain yang Jarang Diketahui



INFONAS.ID||JAKARTA — Duka menyelimuti parlemen dan keluarga besar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hari ini, Selasa (6/5), KH Alamudin Dimyati Rois, Anggota DPR RI sekaligus tokoh muda NU, wafat setelah beberapa hari lalu terlibat dalam insiden kecelakaan tragis di Pemalang, Jawa Tengah.

Kepergian mendadak sosok yang akrab disapa Gus Alam itu mengejutkan banyak pihak, termasuk sahabat sekaligus koleganya, KH Maman Imanulhaq.

Bagi Kiai Maman, begitu ia disapa, Gus Alam bukan sekadar rekan kerja di Senayan. Ia adalah sahabat dalam perjuangan, saudara dalam nilai, dan cerminan generasi penerus ulama yang menjembatani tradisi dan zaman.

“Kami kehilangan seorang pribadi yang hangat dalam tutur, rendah hati dalam laku, dan tulus dalam pengabdian,” ujarnya saat ditemui pada prosesi pemakaman Gus Alam di Kompleks Pesantren Al-Fadllu II di Srogo, Kaliwungu Kendal, Selasa (6/5).

Putra dari ulama kharismatik KH Dimyati Rais ini, dikenal membawa napas baru dalam politik kebangsaan. Di tengah dinamika parlemen yang kerap keras, Gus Alam hadir sebagai sosok yang meneduhkan.

“Dalam ruang sidang, ia menyuarakan aspirasi rakyat dengan tenang namun tegas. Dalam pergaulan sehari-hari, ia menebar persaudaraan dan persatuan,” kenang Kiai Maman.

Meski masih muda, imbuh Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB ini, keulamaan Gus Alam tak diragukan. Ia tak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu menjembatani berbagai kalangan dengan sikap arif dan terbuka. 

“Beliau membawa teladan bahwa menjadi ulama tidak cukup hanya mengajar dan berdakwah, tetapi juga hadir di tengah umat, menyerap aspirasi, dan ikut menentukan arah bangsa,” tambah Kiai Maman.

Terakhir Kiai Maman mendoakan seraya berharap agar almarhum ditempatkan di sisi Allah SWT yang paling mulia, bersama para shalihin dan pejuang kebenaran.

“Selamat jalan, sahabatku. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya yang paling mulia, bersama para shalihin dan pejuang kebenaran. Jejakmu akan terus kami kenang, keteladananmu akan terus kami rawat,” kata Kiai Maman menutup.

Untuk diketahui, ribuan santri dan masyarakat luas memadati kompleks Pesantren Al-Fadllu II di Srogo, Kaliwungu Kendal untuk mengantarkan jenazah Almarhum Gus Alam dikebumikan. 

Terlihat juga saat prosesi pemakaman Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Maruf Amin, Ketua Umum PKB Gus Muhaimin Iskandar beserta para pengurus lainnya seperti Sekjen PKB Hasanudin Wahid, Wakil Ketua Umum PKB Cucun Syamsurijal, Hanif Dhakiri, dan Gus Yusuf Chudlori. 

Nampak juga jajaran Dewan Syura DPP PKB seperti KH. Subhan Makmun, KH. Zamzami, KH Taufiq Abdullah serta KH. Ahmad Baidhawi. (FT)

Sabtu, 12 Oktober 2024

Unik! Pemkot Yogyakarta Bantu Pegawai Cari Jodoh Melalui Program Pados Jodho

INFONAS.ID - Pemkot Yogyakarta melalui Korpri akan menggelar acara Pados Jodho, sebuah program unik yang ditujukan untuk ASN dan Non-ASN yang belum menikah.

Acara ini merupakan respon terhadap hasil survei internal yang menunjukkan banyak pegawai kesulitan mencari pasangan karena kesibukan pekerjaan. 

Sejak pengumuman resmi pada 9 Oktober 2024, sebanyak 140 pegawai, mayoritas perempuan, telah mendaftar.

Pados Jodho dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2024, dengan batas akhir pendaftaran hingga 15 November 2024. 

Acara ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis para peserta.

Selain itu, tanggapan dari para pegawai beragam. Sebagian merasa acara ini sangat membantu mereka yang sibuk, karena memberikan peluang untuk bertemu pasangan. 

Mereka menilai acara ini sebagai langkah positif dalam menyeimbangkan kehidupan sosial dan pekerjaan. 

Beberapa pegawai juga berharap acara ini dapat memberikan dampak jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan emosional, terutama bagi yang merasa kesulitan menjaga kehidupan sosial di luar pekerjaan.

Selain itu, Pemkot juga berkomitmen untuk mengevaluasi acara tersebut secara menyeluruh guna memastikan manfaat dan dampaknya bagi para pegawai yang terlibat. (FT)


Rabu, 09 Oktober 2024

Benarkah Kota-Kota Gaib di Indonesia Sebenarnya Ada? Temukan Jawabannya di Sini

INFONAS.ID - Misteri mengenai keberadaan kota gaib di berbagai penjuru dunia selalu menarik perhatian masyarakat. Berbagai mitos berkembang tentang kota-kota tak kasat mata ini, di mana peradaban maju dan makhluk halus konon hidup berdampingan dalam kesejahteraan yang luar biasa.

Berikut adalah beberapa kota gaib yang dikenal di Indonesia dan dunia, beserta mitos yang mengelilinginya.

Saranjana, Kota Gaib di Kalimantan Selatan

Di Kalimantan Selatan, sebuah kota gaib bernama Saranjana disebut-sebut berada di wilayah Kotabaru. Kota ini dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk halus yang memiliki teknologi canggih dan infrastruktur modern, meski tidak terlihat oleh mata manusia biasa. 

Beberapa saksi mata mengklaim pernah melihat gedung-gedung megah dan kendaraan modern yang melintasi kota tersebut. Mitos ini sudah lama berkembang di masyarakat setempat, dan meskipun bukti nyata belum ditemukan, cerita tentang kota ini terus menjadi bagian dari warisan cerita rakyat Kalimantan.

Wentira, Kota Makhluk Halus di Sulawesi Tengah

Tak kalah misterius, di Sulawesi Tengah, sebuah kota gaib bernama Wentira juga dikenal luas di kalangan masyarakat lokal. Kota ini dikatakan berada di antara Palu dan Tawaeli, namun hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu. 

Menurut mitos, Wentira merupakan kota dengan peradaban maju, gedung pencakar langit, dan teknologi yang jauh lebih maju dari yang kita kenal. Masyarakat setempat percaya bahwa orang yang tersesat di Wentira akan sulit kembali ke dunia nyata, menambah aura mistis kota ini.

Atlantis, Peradaban Hilang dari Yunani Kuno

Misteri kota gaib juga tidak hanya ditemukan di Indonesia. Salah satu kota gaib yang paling terkenal di dunia adalah Atlantis, yang diceritakan oleh filsuf Yunani kuno, Plato. Atlantis digambarkan sebagai kerajaan pulau dengan peradaban yang sangat maju, namun tenggelam ke dasar laut dalam satu malam setelah para dewa murka. 

Meskipun banyak teori yang bermunculan mengenai lokasinya, hingga kini tidak ada bukti konkret yang mendukung keberadaan Atlantis, menjadikannya salah satu misteri terbesar dalam sejarah.

Padang 12, Kota Emas di Kalimantan Barat

Di Kalimantan Barat, kota gaib Padang 12 dikisahkan sebagai tempat makhluk halus yang hidup dengan kemakmuran berlimpah. Masyarakat setempat menganggap kota ini sebagai kota emas, karena makhluk penghuni kota ini konon menggunakan emas sebagai mata uang. 

Beberapa orang yang melintasi kawasan tersebut mengaku melihat bayangan bangunan megah dan berkilauan, namun ketika didekati, semuanya hilang. Kepercayaan lokal menyebutkan bahwa siapa pun yang mencoba memasuki kota ini tanpa izin bisa tersesat atau hilang.

Keberadaan kota-kota gaib ini mungkin masih menjadi misteri dan sekadar mitos bagi sebagian orang, tetapi cerita-cerita tersebut telah menjadi bagian dari kekayaan budaya dan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Kota-kota tak kasat mata ini, dengan segala keajaiban dan misteri yang menyelimutinya, terus menjadi topik perbincangan menarik di kalangan masyarakat.

(Reporter: FITO)


Senin, 07 Oktober 2024

Mengapa Pelaku Pesugihan Tidak Bisa Curi Uang di Bank? Ini Penjelasannya!

INFONAS.ID||JAKARTA – Fenomena pesugihan, praktik mistis yang diklaim dapat mendatangkan kekayaan secara instan, terus menjadi topik perbincangan di masyarakat. Namun, menurut berbagai cerita rakyat, pelaku pesugihan disebut-sebut tidak bisa mencuri uang dari bank. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang batasan kekuatan supranatural dalam menghadapi teknologi modern.

Menurut mitos yang beredar, salah satu alasan utama pelaku pesugihan tidak bisa mengambil uang di bank adalah karena uang yang tersimpan dalam sistem perbankan berada dalam bentuk digital, yang konon tidak dapat disentuh oleh kekuatan gaib.

Selain itu, beberapa keyakinan juga menyebutkan bahwa sistem perbankan berada di bawah perlindungan institusi besar, sehingga uang tersebut dianggap terlindungi dari pengaruh energi supranatural.

Sementara itu, beberapa paranormal mengklaim bahwa pesugihan memiliki keterbatasan. 

"Biasanya, pelaku pesugihan hanya bisa mengambil uang dari benda fisik, seperti uang tunai di rumah. Uang yang tersimpan di bank, apalagi dalam bentuk digital, di luar jangkauan kekuatan mereka," ujar salah satu paranormal yang tidak ingin disebutkan namanya.

Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai alat yang dapat mendeteksi praktik pesugihan. Meski hingga saat ini tidak ada alat ilmiah yang dapat membuktikan adanya pesugihan, beberapa praktisi spiritual tradisional mengklaim memiliki metode untuk mendeteksi energi gaib. 

Mereka menggunakan berbagai media seperti air, asap dupa, atau benda spiritual seperti jimat untuk mencari tanda-tanda supranatural.

"Saya menggunakan minyak khusus dan asap dupa dalam ritual untuk mendeteksi keberadaan energi negatif yang berhubungan dengan pesugihan," tambah paranormal tersebut. 

Namun, hingga kini klaim ini masih dipertanyakan keabsahannya karena tidak ada bukti ilmiah yang mendukung metode-metode ini.

Meskipun banyak yang meragukan kebenaran cerita ini, kepercayaan akan pesugihan masih kuat di berbagai kalangan masyarakat. 

Namun, dengan teknologi keamanan perbankan yang terus berkembang, masyarakat diharapkan untuk lebih mempercayakan keamanan keuangan mereka pada sistem yang terbukti dan teruji secara teknis, daripada terjebak dalam cerita-cerita mistis yang belum dapat dibuktikan kebenarannya. (FT)


© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved