-->

Rabu, 21 Oktober 2026

Maman Imanulhaq: Kuliah ke Al-Azhar Harus Aman, Transparan, dan Terjangkau!

Maman Imanulhaq: Kuliah ke Al-Azhar Harus Aman, Transparan, dan Terjangkau!

CIREBON — Sebanyak 1.500 calon mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, mengikuti Pembekalan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Forum Konsultan Pendidikan Al-Azhar Mesir Indonesia (Forkappmi) di Hotel Luxton Cirebon.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Rais Syuriah PBNU KH. Imam Jazuli, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof. Amin Suyitno, serta Wakil Duta Besar Mesir Dr. Amar Mukhtar.

Anggota Komisi VIII DPR RI sekaligus Penasihat Forkappmi, Dr. KH. Maman Imanulhaq, menegaskan bahwa Forkappmi memiliki peran strategis dalam memperluas akses pendidikan tinggi Islam, melindungi calon mahasiswa, serta menyiapkan generasi Muslim Indonesia yang unggul, moderat, dan memiliki wawasan kebangsaan. Rabu (21/10/2826)

Menurut Maman, keberangkatan ribuan santri untuk menuntut ilmu di Al-Azhar tidak boleh dipandang sebatas urusan administrasi dan mobilitas pendidikan. Proses tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan umat dan bangsa yang harus didukung tata kelola profesional, transparan, aman, dan berkelanjutan.

“Kita ingin memastikan bahwa kesempatan belajar di Al-Azhar tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki akses informasi dan kemampuan ekonomi. Anak-anak pesantren dari berbagai daerah juga harus memperoleh kesempatan yang adil, pendampingan yang layak, dan perlindungan selama proses keberangkatan hingga menjalani pendidikan,” tegas Maman.

Maman menjelaskan, setidaknya terdapat lima aspek penting yang menjadi dasar peran Forkappmi dalam mendampingi calon mahasiswa Al-Azhar.

Pertama, memperluas akses pendidikan melalui pendampingan informasi mengenai prosedur pendaftaran, persyaratan akademik, tahapan seleksi, hingga proses keberangkatan. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi kesenjangan informasi, terutama bagi santri dari keluarga sederhana dan daerah dengan akses terbatas.

Kedua, melindungi calon mahasiswa dari berbagai risiko, termasuk informasi menyesatkan, ketidakjelasan biaya, persoalan dokumen, dan praktik percaloan. Karena itu, layanan pendampingan harus mengutamakan informasi terverifikasi dan prosedur yang sesuai ketentuan.

Ketiga, memperkuat sinergi kelembagaan antara pesantren, madrasah, orang tua, lembaga konsultan, pemerintah, dan institusi pendidikan terkait di Mesir. Sinergi ini diharapkan dapat membantu mengatasi hambatan administratif tanpa mengambil alih kewenangan lembaga resmi.

Keempat, mendorong transparansi dan keterjangkauan biaya pendidikan. Calon mahasiswa dan keluarga perlu memperoleh penjelasan terperinci mengenai pembiayaan, menghindari pungutan yang tidak jelas, serta mendapatkan informasi tentang peluang beasiswa dan bantuan pendidikan.

Kelima, mengawal keberlanjutan studi mahasiswa. Menurut Maman, pendampingan tidak boleh berhenti ketika mahasiswa tiba di Kairo. Orientasi akademik, adaptasi budaya, pengurusan administrasi, dukungan tempat tinggal, serta pembinaan sosial dan spiritual juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Selain kesiapan akademik, pembekalan wawasan kebangsaan dinilai penting untuk membentuk karakter calon mahasiswa yang akan menempuh pendidikan di luar negeri.

Para calon mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami identitas kebangsaan, menghormati keberagaman, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang moderat.

“Jangan hanya berangkat ke Mesir untuk menjadi sarjana. Berangkatlah untuk menjadi insan berilmu yang kelak memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat kehidupan keagamaan yang moderat, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Kita ingin melahirkan ulama dan intelektual Muslim yang mendunia tanpa kehilangan akar kebangsaannya,” ujar Maman.

Ia berharap kolaborasi antara Forkappmi, pemerintah, pesantren, lembaga pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan terus diperkuat. Kerja sama tersebut diperlukan untuk memastikan proses pendidikan internasional berlangsung tertib, aman, terjangkau, dan berorientasi pada kualitas lulusan.

Bagi Forkappmi, lanjutnya, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah calon mahasiswa yang diberangkatkan. Transparansi layanan, perlindungan mahasiswa, keberlanjutan studi, serta kontribusi lulusan bagi masyarakat dan bangsa juga harus menjadi tolok ukur utama.

Melalui penguatan peran tersebut, Forkappmi diharapkan mampu menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan Islam internasional yang inklusif dan profesional, sekaligus melahirkan generasi Muslim Indonesia yang berilmu, berakhlak, moderat, dan berwawasan kebangsaan.

Tentang Forkappmi

Forum Konsultan Pendidikan Al-Azhar Mesir Indonesia (Forkappmi) merupakan forum yang menghimpun lembaga konsultan pendidikan Al-Azhar dari berbagai daerah di Indonesia. Forum ini berfokus pada konsultasi, pendampingan, dan persiapan calon mahasiswa yang hendak melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved