Foto: Ilustrasi
OLEH: Mahesa jenar
Si Kabayan kini bukan lagi lelaki dusun yang sibuk mencari tutut di sawah. Sejak nasib membawanya duduk di kursi empuk "Kadipaten", gayanya berubah. Ia kini berdasi, bicara soal inflasi, defisit, dan terminologi canggih lainnya yang tak dimengerti Abah mertuanya.
Di seberang meja kerjanya yang mengkilap, duduklah Armasan. Wajahnya kusut seperti uang kertas ribuan yang lupa diangkat dari saku celana saat dicuci. Armasan adalah kontraktor kecil, pahlawan pembangunan yang menyulap jalan berlubang menjadi mulus dan sekolah reyot menjadi gedung bertingkat.
Namun hari ini, Armasan tidak datang untuk pamer proyek. Ia datang menagih nyawa.
Jurus Silat Lidah
"Kang Kabayan," suara Armasan parau, "Proyek jembatan sudah selesai tiga bulan lalu. Berita acara sudah lengkap, foto 100 persen sudah ditempel. Kapan cair atuh, Kang? Tukang di rumah sudah mulai bawa golok nagih upah."
Si Kabayan tersenyum. Senyum khas pejabat yang menyiratkan dua hal: simpati palsu dan tidak punya uang.
"Euleuh-euleuh, Armasan... Sabar atuh," jawab Kabayan sambil memutar-mutar pulpen mahalnya. "Bukan Akang tidak mau bayar. Pekerjaan maneh bagus! Jempolan! Tapi maneh harus paham situasi makro ekonomi global."
Armasan melongo. "Apa hubungannya ekonomi global sama upah Mang Udin yang ngaduk semen, Kang?"
"Ada!" potong Kabayan. "Sistem lagi maintenance. Kas daerah lagi 'tarik napas'. Duitnya ada, cuma belum landing. Masih mengawang-awang di awan digital. Ini yang namanya strategi Tunda Bayar. Keren kan namanya?"
Armasan di Ujung Tanduk
Bagi Kabayan, "Tunda Bayar" mungkin cuma istilah administrasi di atas kertas APBD. Tapi bagi Armasan, itu adalah kiamat kecil.
Gara-gara ajian "Tunda Bayar" si Kabayan:
- Motor matic Armasan sudah disita leasing.
- Istrinya sudah seminggu cemberut karena uang belanja diganti janji manis.
- Material bangunan di toko Koh Ahong belum dibayar, membuat Armasan harus lewat jalan tikus setiap pulang ke rumah demi menghindari tagihan.
"Kang," Armasan memohon, nyaris menangis. "Kalau ditunda terus, saya bukan bangkrut lagi, tapi hancur lebur. Aset sudah dijual, gali lubang tutup lubang, sekarang lubangnya sudah jadi jurang!"
Si Kabayan mengangguk-angguk prihatin, lalu menyeruput kopi hitam yang dibeli pakai anggaran rapat.
Surat Perintah Menunggu (SPM)
"Begini saja, San," kata Kabayan dengan nada bijak. "Akang buatkan surat sakti."
Mata Armasan berbinar. "Surat Perintah Membayar (SPM), Kang?"
"Bukan," jawab Kabayan enteng. "Surat Perintah Menunggu. Isinya pernyataan bahwa negara mengakui punya utang, tapi bayarnya nanti kalau bintang-bintang di langit sudah sejajar. Mungkin tahun depan, mungkin di anggaran perubahan, atau mungkin... wallahualam."
Armasan lemas. Tulang-tulangnya serasa lolos. Di luar gedung pemerintahan yang megah ber-AC itu, matahari bersinar terik, seakan mengejek nasibnya.
Armasan pulang dengan tangan hampa. Sementara di dalam ruangan dingin itu, Si Kabayan kembali sibuk. Bukan sibuk mencari solusi bayar utang, tapi sibuk menyusun narasi pidato tentang "Keberhasilan Pembangunan" di depan para tamu agung.
Pembangunan yang keringatnya diperas dari tubuh kurus Armasan, yang kini ambruk di pinggir jalan.
Pesan Moral:
Bagi pejabat, "Tunda Bayar" hanyalah penundaan angka di layar komputer. Bagi rakyat kecil seperti Armasan, itu adalah penundaan hak untuk hidup layak.
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram