Di kantor dinas yang sejuk itu, Si Kabayan sedang sibuk. Bukan sibuk memeriksa kualitas bangunan, tapi sibuk mempraktikkan ilmu leluhur birokrasi: Ilmu Kodek.
Ilmu ini adalah kemampuan tingkat dewa untuk ngodek (merogoh) anggaran di celah-celah sempit yang katanya "kosong", tapi tiba-tiba ada isinya kalau yang datang adalah balad (teman) sendiri.
Datang Si Balad
Pintu terbuka. Masuklah Jang Emod, teman sepermainan gaple Kabayan, yang baru saja menyelesaikan proyek "Pengadaan Kue Rapat dan Hiasan Bunga Plastik". Nilainya lumayan, kerjanya minim.
"Yan, kumaha yeuh? Tagihan lancar?" tanya Emod sambil nyengir.
Kabayan langsung pasang wajah cerah. "Tenang, Mod! Buat barudak (kawan-kawan) mah, akang sudah siapkan jalur tol."
Dengan gerakan tangan secepat kilat—lebih cepat dari pesulap—Kabayan menandatangani berkas.
"Tapi Yan, katanya kas daerah lagi kosong?" bisik Emod pura-pura khawatir.
"Ah, itu mah buat orang luar!" bisik Kabayan sambil mengedipkan mata. "Buat circle kita mah, ada pos 'Dana Taktis'. Tinggal dikodek sedikit dari pos perjalanan dinas, geser dikit dari pos pemeliharaan, cling! Cair hari ini juga!"
Jang Emod pulang sambil bersiul, saldo rekeningnya bertambah gendut dalam hitungan jam.
Datang Si Armasan
Selang lima menit, masuklah Armasan. Bajunya kucel kena debu semen, wajahnya kusut kurang tidur. Armasan baru saja menyelesaikan proyek perbaikan jalan desa yang rusaknya minta ampun. Ia sudah menalangi bayar tukang dan material pakai uang gadai sawah mertua.
"Punten, Pak Kabayan," suara Armasan gemetar.
"Saya mau mengajukan SPM. Pekerjaan sudah 100 persen, warga sudah senang jalan mulus. Kapan bisa cair?"
Wajah Kabayan berubah drastis. Yang tadinya cerah bak matahari pagi, kini mendung seperti langit mau badai. Ia membetulkan letak kacamatanya, berubah menjadi birokrat paling disiplin sedunia.
"Waduh, Armasan..." desah Kabayan panjang sekali. "Kamu datang di saat yang tidak tepat."
"Kenapa, Pak? Berkas saya kurang?"
"Bukan berkasnya," jawab Kabayan diplomatis. "Tapi timing-nya. Sekarang kita sedang melakukan Efisiensi Anggaran."
Armasan melongo. "Efisiensi kumaha, Pak? Tadi si Emod keluar bawa map pencairan?"
Kabayan mendelik. "Jangan samakan! Emod itu program prioritas strategis perut. Kalau jalan desa kamu itu... ya penting sih, tapi kas kita lagi lockdown. Defisit, San. Defisit!"
Logika 'Dianjuk'
"Jadi nasib saya gimana, Pak?" tanya Armasan, nyaris menangis membayangkan wajah debt collector.
"Ya terpaksa Dianjuk (dihutang) dulu," jawab Kabayan enteng. "Nanti kita bayar di Anggaran Perubahan. Itu pun kalau disetujui Dewan. Kalau enggak, ya kita anggarkan lagi tahun depan. Kamu kan pengusaha, harus siap berkorban demi negara dong. Itulah namanya Efisiensi."
Armasan pulang dengan langkah gontai.
Di kepalanya berputar pertanyaan yang tak ada jawabannya:
Kenapa giliran 'Balad', anggaran bisa ditarik paksa (dikodek) dari lubang semut?
Tapi giliran rakyat kecil kayak Armasan, anggaran mendadak hilang ditelan bumi atas nama 'Efisiensi'?
Di dalam ruangan, Si Kabayan kembali menyeruput kopinya, tersenyum puas. Baginya, anggaran itu seperti karet gelang: bisa melar buat kawan, tapi menjepret sakit buat lawan.
SOP (STANDAR OPERASIONAL PUNGLI) ALA KABAYAN: Balad Lewat Jalan Tol, Armasan Tersandra di Gerbang 'Pelicin'
Di kantor dinas yang megah itu, Si Kabayan kini dikenal sebagai ahli fisika birokrasi. Ia sangat paham hukum "Gesekan". Jika tidak ada pelumas, maka urusan akan macet, panas, dan berasap. Tapi jika pelumasnya pas, besi bengkok pun bisa jadi lurus.
Kabayan punya dua laci di mejanya. Laci kanan untuk "Balad Sa-Perkopsian" (Teman Ngopi), laci kiri untuk "Armasan dan Kaum Menjerit".
Jalur VIP Si Balad
Pagi itu, Jang Emod datang. Dia baru saja mengirim katering fiktif—kardusnya ada, isinya angin. Tapi karena Emod adalah balad (sahabat) seperjuangan waktu tim sukses, dia masuk lewat pintu belakang tanpa ketuk.
"Yan, cairkan dong. Buat modal healing ke Puncak," bisik Emod.
Kabayan langsung mempraktikkan ilmu "Pinter Kodek". Dengan tangan ajaibnya, ia mengorek-ngorek pos anggaran lain.
"Tenang, Mod! Kas kosong itu mitos. Buat balad mah, dana bencana pun bisa kita sulap jadi dana gembira."
Dalam hitungan menit, Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) terbit. Tanda tangan basah, stempel basah, senyum pun basah. Alasan administrasi? Lewat! Kelengkapan berkas? Nanti saja disusulkan tahun depan!
Jalur Neraka Si Armasan
Siang harinya, giliran Armasan menghadap. Ia kontraktor jujur yang mengerjakan drainase desa. Bajunya lusuh, sendalnya tipis karena terlalu sering bolak-balik menagih haknya yang sudah 6 bulan mandek.
"Pak Kabayan," kata Armasan memelas. "Drainase sudah beres, air sudah mengalir lancar, tapi dapur saya mampet. Tolonglah cairkan tagihan saya."
Kabayan langsung memasang wajah "Prihatin Nasional". Ia membuka buku besar berjudul 'Kamus Alasan Penundaan'.
"Waduh, Armasan..." desah Kabayan berat. "Bukan saya tidak mau bantu. Tapi sekarang ada instruksi dari pusat: EFISIENSI."
"Efisiensi apa, Pak? Tadi si Emod keluar bawa duit segepok?" protes Armasan.
"Eits, jangan bandingkan!" bentak Kabayan. "Emod itu masuk kategori 'Percepatan Strategis'. Kalau kamu, masuk kategori 'Penundaan Taktis'. Kita harus hemat anggaran, San. Negara lagi susah."
"Jadi saya harus nunggu sampai kapan? Sampai kiamat?"
The Power of Pelicin
Melihat Armasan putus asa, Kabayan mengubah nada bicaranya menjadi pelan, penuh kode rahasia. Ia mendekatkan wajahnya.
"Sebenarnya sih... bisa saja dipercepat, San. Efisiensi itu kan aturan kaku. Tapi mesin birokrasi itu kadang-kadang seret. Karatan."
Armasan bingung. "Maksudnya?"
Kabayan menggesek-gesekkan jempol dan telunjuknya—kode universal semesta alam.
"Ya harus ada Pelicin, atuh! Biar mesinnya nggak bunyi kriet-kriet. Berkas kamu itu tebal, berat.
Kalau nggak dikasih 'oli samping', susah naiknya ke meja pimpinan. Macet di tengah jalan."
"Berapa olinya, Pak?"
"Standar lah. Potongan 'Pajak Koordinasi'. Kalau mau cair minggu ini, potong 20 persen. Kalau mau utuh, ya silakan tunggu di antrean 'Efisiensi' sampai anggaran perubahan tahun kuda."
Armasan terdiam. Ia sadar, di hadapan Kabayan yang "Pinter Kodek", Efisiensi hanyalah singkatan dari: E-Fee-Siensi (Elektronik Fee untuk Si Kabayan dan Kroni).
Armasan pulang dengan pilihan pahit: Uangnya disunat gila-gilaan demi "Pelicin", atau uangnya utuh tapi baru cair saat ia sudah tinggal nama.
Ini hanya cerita fiksi, "penulis Mahesa Jenar hanya bertahan majinasi "Jika ada kesamaan kejadian dan tempat itu hanya kebetulan.
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram